Wisata, Alam & Liburan > Scuba Diver AustralAsia Indonesia > Edisi 5/2011 (Vol.2 No.5)
Cover Story
SEA SCIENCE: Pulang Ke Rumah
Oleh Samantha David / 26 Oktober 2011 15:31:03 WIB
Setelah diburu besar-besaran hingga nyaris punah, paus sikat kembali bermukim di perairan Selandia Baru
Foto: Oxford Scientific (OSF), Photolibrary / Fotografer: Brian Skerry
Istilah “Punah” atau “langka” telah menjadi sebuah kosa kata yang sering terdengar di dunia konservasi biota laut. Ironisnya, justru manusialah penyebab banyak orang kini menggunakan istilah tersebut. Di tengah masa depan dunia konservasi yang suram, sebuah penelitian berhasil memberikan secercah harapan bahwa hewan yang terancam punah di mana pun akan dapat diselamatkan.
Paus sikat (Eubalaena australis) ternyata membangun koloni baru di perairan Selandia Baru, tempat asal nenek moyang mereka. Sekelompok peneliti dari University of Auckland - New Zealand, Macquarie University, Museum of Western Australia, dan Oregon State University telah mengkonfirmasikan temuan baru yang membawa angin segar bagi spesies yang terancam punah ini.
Buruan Favorit, Merupakan spesies paus terkecil, paus sikat diburu besar-besaran di abad ke-19. Dalam bahasa Inggris, paus ini disebut the right whale. Kata “right” di sini mengacu pada jenis paus yang dianggap paling tepat untuk diburu. Dengan lapisan minyak yang tebal, paus yang bergerak lambat ini akan mengapung setelah mati sehingga merupakan target favorit para pemburu. Walau perlindungan paus secara internasional telah diimplementasikan pada tahun 1935, namun populasi yang masih tersisa terus berkurang secara signifikan antara tahun 1951 and 1971. Jenis paus sikat termasuk yang bertahan, tapi populasinya sempat menghilang dari perairan Selandia Baru.
Ratusan tahun lalu, seseorang akan dianggap beruntung bila dapat melihat paus sikat di Selandia Baru. Paus jenis ini memang jarang terlihat dan menghilang selama 35 tahun. Selama 1970-an dan 1980-an, banyak laporan tentang keberadaan paus sikat di sekitar Kepulauan Auckland yang terpencil yang berlokasi 450 kilometer selatan mainland Selandia Baru.
Paus sikat (Eubalaena australis) ternyata membangun koloni baru di perairan Selandia Baru, tempat asal nenek moyang mereka. Sekelompok peneliti dari University of Auckland - New Zealand, Macquarie University, Museum of Western Australia, dan Oregon State University telah mengkonfirmasikan temuan baru yang membawa angin segar bagi spesies yang terancam punah ini.
Buruan Favorit, Merupakan spesies paus terkecil, paus sikat diburu besar-besaran di abad ke-19. Dalam bahasa Inggris, paus ini disebut the right whale. Kata “right” di sini mengacu pada jenis paus yang dianggap paling tepat untuk diburu. Dengan lapisan minyak yang tebal, paus yang bergerak lambat ini akan mengapung setelah mati sehingga merupakan target favorit para pemburu. Walau perlindungan paus secara internasional telah diimplementasikan pada tahun 1935, namun populasi yang masih tersisa terus berkurang secara signifikan antara tahun 1951 and 1971. Jenis paus sikat termasuk yang bertahan, tapi populasinya sempat menghilang dari perairan Selandia Baru.
Ratusan tahun lalu, seseorang akan dianggap beruntung bila dapat melihat paus sikat di Selandia Baru. Paus jenis ini memang jarang terlihat dan menghilang selama 35 tahun. Selama 1970-an dan 1980-an, banyak laporan tentang keberadaan paus sikat di sekitar Kepulauan Auckland yang terpencil yang berlokasi 450 kilometer selatan mainland Selandia Baru.
Komentar Anda
TERHUBUNG DENGAN MYEDISI
-
Direkomendasikan
-
Aktivitas Teman



DESTINATION MISOOL: Mengagumi Misool
INSIDER: Bali Shootout 2011
ENVIRONMENT: Tak Tersentuh Hukum
THROUGH THE LENS : Harry Susanto






