Komputer & Internet > PCplus > Edisi 406
LenteraID, Memecah Kebisuan Penyintas Kekerasan Seksual
Oleh Eka Shantika / 27 Februari 2012 17:09:09 WIB
Wulan Danoekoesoemo dan Sophia B. Hage, dua orang inisiator LenteraID ini sangat peduli dengan masalah kekerasan seksual di Indonesia.
Foto: PCplus / Fotografer: Alphons Mardjono
Kamis malam, ketika Wulan Danoekoesoemo dan Sophia B. Hage
baru saja pulang dari acara (gerakan swadaya) SelamatkanIbu, mereka terusik oleh #memetwit yang menyinggung penyintas kekerasan seksual. #Memetwit dengan tema horor gagal itu sontak menyulut keprihatinan mereka berdua. Sebab, menurut mereka, tweet itu mencerminkan pemahaman yang buruk terhadap para penyintas. Berikut bunyi #memetweet tersebut.
“Bang, Bang.”
“Siapa ya, Neng?”
“Aku, Bang, yang Abang perkosa waktu itu.”
“Oh, kenapa, Neng?”
“Mau lagi dong, Bang.”
Bagi Wulan dan Sophia, tweet yang kemudian di-retweet banyak orang ini tidak bisa didiamkan. “Banyak yang berpikir bahwa perkosaan bisa dinikmati. Kekerasan seksual itu tidak berhubungan dengan seks. Seks digunakan sebagai senjata dalam kekerasan seksual, tapi itu tidak berarti sama dengan seks, bahwa ada kenikmatan di dalamnya,” papar Sophia dengan sedikit kesal. Ia melanjutkan, “Jadi yang kami lakukan saat itu adalah membalas tweet-tweet bahwa #rapeisnotajoke. Wulan saat itu membalas dengan serangkaian tweet yang menerangkan bahwa trauma akibat kekerasan seksual itu besar. Ini bukan hal yang bisa kalian becandain.”
Apa yang mereka berdua lakukan ini kemudian ditanggapi pula oleh
Venus Romsaitong (@venustwit). Mereka kemudian bertemu dan
sepakat membentuk kelompok dukungan untuk menanggapi isu
penyintas kekerasan seksual ini, yang kemudian diberi nama Lentera Sintas Indonesia (@LenteraID).
Privasi
Sebagai sebuah kelompok dukungan, LenteraID secara rutin (dua minggu sekali) mengadakan sesi tertutup untuk berbagi cerita dengan
sesama penyintas. “Yang datang terbatas hanya penyintas kekerasan
seksual. Bisa datang dengan nama asli atau nama palsu. Mereka bisa
hadir tanpa harus berbicara. Bisa hanya duduk dan mendengarkan. Bisa cerita kalau mereka siap untuk cerita,” ujar Wulan. Perlu menjadi catatan, para penyintas ini bukan hanya kaum perempuan loh, tapi laki-laki pun mengalami, seperti diutarakan oleh Dimas Subagio, salah satu relawan LenteraID...
baru saja pulang dari acara (gerakan swadaya) SelamatkanIbu, mereka terusik oleh #memetwit yang menyinggung penyintas kekerasan seksual. #Memetwit dengan tema horor gagal itu sontak menyulut keprihatinan mereka berdua. Sebab, menurut mereka, tweet itu mencerminkan pemahaman yang buruk terhadap para penyintas. Berikut bunyi #memetweet tersebut.
“Bang, Bang.”
“Siapa ya, Neng?”
“Aku, Bang, yang Abang perkosa waktu itu.”
“Oh, kenapa, Neng?”
“Mau lagi dong, Bang.”
Bagi Wulan dan Sophia, tweet yang kemudian di-retweet banyak orang ini tidak bisa didiamkan. “Banyak yang berpikir bahwa perkosaan bisa dinikmati. Kekerasan seksual itu tidak berhubungan dengan seks. Seks digunakan sebagai senjata dalam kekerasan seksual, tapi itu tidak berarti sama dengan seks, bahwa ada kenikmatan di dalamnya,” papar Sophia dengan sedikit kesal. Ia melanjutkan, “Jadi yang kami lakukan saat itu adalah membalas tweet-tweet bahwa #rapeisnotajoke. Wulan saat itu membalas dengan serangkaian tweet yang menerangkan bahwa trauma akibat kekerasan seksual itu besar. Ini bukan hal yang bisa kalian becandain.”
Apa yang mereka berdua lakukan ini kemudian ditanggapi pula oleh
Venus Romsaitong (@venustwit). Mereka kemudian bertemu dan
sepakat membentuk kelompok dukungan untuk menanggapi isu
penyintas kekerasan seksual ini, yang kemudian diberi nama Lentera Sintas Indonesia (@LenteraID).
Privasi
Sebagai sebuah kelompok dukungan, LenteraID secara rutin (dua minggu sekali) mengadakan sesi tertutup untuk berbagi cerita dengan
sesama penyintas. “Yang datang terbatas hanya penyintas kekerasan
seksual. Bisa datang dengan nama asli atau nama palsu. Mereka bisa
hadir tanpa harus berbicara. Bisa hanya duduk dan mendengarkan. Bisa cerita kalau mereka siap untuk cerita,” ujar Wulan. Perlu menjadi catatan, para penyintas ini bukan hanya kaum perempuan loh, tapi laki-laki pun mengalami, seperti diutarakan oleh Dimas Subagio, salah satu relawan LenteraID...
ARTIKEL LAIN DARI EDISI INI
Komentar Anda
TERHUBUNG DENGAN MYEDISI
-
Direkomendasikan
-
Aktivitas Teman



Membuat Game Image Matching di J2ME
Membuat Game Kartu Pakai Qt Creator
Mencipta Game Sederhana Pakai UDK
Arsanesia, Startup Game Karya Mahasiswa






