Jangan biarkan wereng dan gulma bikin puyeng

Majalah Agrina - Edisi 284
21 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 284

Musim tanam ini petani masih direpotkan oleh serang - an wereng batang cokelat yang berpotensi membawa virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Antisipasi sejak awal bila tak ingin gagal panen.

Agrina
Awal Januari 2017, Bonjok Istiaji, Dosen Fakultas Pertanian IPB yang juga koordinator Klinik Pertanian Nusantara, menerjunkan mahasiswa proteksi tanaman IPB ke 18 provinsi, 62 kabupaten/ kota di 206 titik.

Niatnya, hanya mencatat kejadian penyakit baru pada padi. “Tapi temuan sampingnya justru wereng cokelat mendu duki peringkat pertama hama yang dikeluhkan,” papar akademisi jebolan IPB itu. Sampai akhir Juli 2017, ia mencatat serangan wereng dan atau virus kerdil terjadi setidaknya di 30 kabupaten sentra padi.

Penyebabnya, mendapat hasil pengamatan lapang di luar dugaan tersebut, beberapa waktu lalu Bonjok pun mendiskusikan temuannya dengan pihak terkait di IPB. Kesimpulannya, menurut akademisi IPB itu, karena ada interaksi dari tiga faktor. Pertama, iklim yang cukup basah pada 2017 atau kemarau basah.

“Tidak menyangka bakal mewabah karena BMKG menyatakan 2017 tahun kering,” jelasnya. Faktor kedua, adanya penanaman padi terus menerus tanpa jeda. Agus Suryanto, Senior Crop Manager PT Bina Guna Kimia menyuarakan hal yang sama. Menurutnya, salah satu efek negatif tanam padi sistem IP300 (tiga kali setahun) adalah tersedianya sum ber makanan bagi wereng secara berkelanjutan.

Tanah juga menjadi “lelah” karena tidak ada kesempatan untuk istirahat. Faktor terakhir, menurut Bonjok, adalah penggunaan insektisida dengan intensitas yang tinggi, 8- 12 aplikasi per musim dan beberapa insektisida terlarang untuk padi. “Ekosistem jadi rentan dan tidak tahan dari gangguan luar,” lanjutnya.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI