Sukses beternak sapi perah sembari kuliah

Majalah Agrina - Edisi 284
21 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 284

Sebagian mungkin berpendapat profesi peternak bukanlah hal yang keren. Anak muda satu ini justru berpandangan sebaliknya. / Foto : Pribadi

Agrina
Banyak yang menganggap beternak identik dengan kata kandang, dekil, dan lusuh. Apalagi beternak sapi perah, sudah kotor, bisnisnya dinilai sulit un tung lantaran harga tak sebesar harapan. Meski demikian, ada yang memandang bahwa beternak sapi perah itu menyenangkan. Jika dihitung, bisnisnya pun tetap prospektif bagi Ahmad Hofit.

Kepada AGRINA, Mahasiswa Fakultas Peternakan Univesitas Islam Malang, Jatim ini mengaku banggamenjadi peternak. Bahkan, ia berniat mengaplikasikan pengetahuan yang didapat selepas lulus kuliah. “Rencana habis lulus enggak bingung. Insya Allah langsung menerapkan ilmunya,” ungkap Anak muda asal Dusun Cikur, Desa Kalipucang, Kec. Tutur, Kab. Pasuruan, Jatim ini.

Hofit, begitu ia akrab disapa mengaku, terjun ke dunia peternakan karena mencontoh jejak orang tua. Padahal, ia telah bekerja di perusahaan swasta di Surabaya. Meski memiliki latar pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Administasi Perkantoran, jiwanya terpanggil untuk beternak saat melihat sang ayah menekuni profesi sebagai peternak sapi perah. “Setelah itu saya memutuskan untuk kuliah sembari beternak,” kenangnya.

Sejauh ini Hofit memelihara 10 ekor sapi dengan produktivitas rerata 10 l/ekor/ hari, tergantung tingkat laktasinya. Untuk pemasaran, dia bermitra dengan Koperasi Peternakan Sapi Perah Setia Kawan di desanya. Mendapat harga Rp5.000/liter dari koperasi, susu lalu didistribusikan ke IPS (industri pengolahan susu).

Pendapatan Hofit pada Desember 2017 hanya menyentuh angka Rp5 juta. Dia mengaku nilai itu agak turun lantaran sapi yang sedang laktasi sebanyak 6 ekor, 1 kering kandang, dan sisanya pedet. Padahal, Juli lalu penghasilan kotornya sebagai peternak sempat menyentuh Rp9,2 juta sebulan.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI