Saatnya menerapkan precision farming

Majalah Agrina - Edisi 278
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 278

Precision farmingmelibatkan peran teknologi sejak hulu hingga hilir. / Foto : Windi Listianingsih

Agrina
Menurut Winarno Tohir, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, saat ini petani menghadapi kondisi perubahan iklim dan persaingan global. Persaingan harga, kualitas, dan produktivitas beras antarpetani se-ASEAN misalnya, sudah tidak ada lagi batasnya.

Melansir data International Rice Research Institute (IRRI) 2016, pria yang akrab disapa Win ini menjelaskan, ongkos produksi padi di Indonesia lebih mahal 2,5 kali lipat dari Vietnam.

“Ongkos produksi padi di Indonesia Rp4.079/kg, di China Rp3.661/kg, India Rp2.306/kg, Thailand Rp2.291/kg, dan Vietnam Rp1.619/kg,” ujarnya pada seminar bertema “Tiga Faktor Meningkatkan Produktivitas Padi: Nutrisi, Varietas, serta Pengen dalian Hama dan Penyakit” di kawasan pabrik PT Pupuk Kujang, Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Ka mis (20/7).

Karena itu, Win menganjurkan petani untuk menerapkan precision farming (pertanian yang tepat dan akurat). “Indonesia sudah memungkinkan menerapkan precision farming karena sudah memiliki semua perangkat lembaganya. Hanya saja belum disinergikan satu sama lain,” ucapnya.

Precision Farming. Win menjelaskan, penerapan precision farming dimulai dari hulu sampai hilir dengan melibatkan akses informasi dan teknologi budidaya, panen, serta perubahan iklim, peningkatan kapasitas SDM pertanian, penguatan Badan Usaha Milik Petani (BUMP), hingga akses pembiayaan dan pemasaran.

Sisi budidaya meliputi sistem pengairan, pengolahan lahan, teknologi tanam, peng gunaan benih unggul, pemupukan, dan pestisida, serta pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang memanfaatkan penyuluh terutama ketika terjadi serangan OPT.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI