Berkat Cocoa Life, petani bangkit lagi

Majalah Agrina - Edisi 279
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 279

Sebelum menerapkan GAP, produksi kakao kebun Sutrisno sekitar 50 kg biji kakao kering per seperempat hektar. Setelah menerapkan GAP, melalui program Cocoa Life, hasilnya 700 kg. / Foto : Syatrya Utama

Agrina
Sutrisno, 49, semringah. Petani kakao di Desa Waringin Sari Timur, Adi Luwih, Kabupaten Pringsewu, Lampung, itu merasakan manisnya mengikuti program Cocoa Life. “Awalnya (2014) kebun kami ini rusak parah. Kami bilang bukan kebun kakao, tapi hutan kakao. Hampir-hampir nggak percaya kebun kami bisa pulih lagi,” papar ayah empat anak itu, Kamis, 10 Agustus 2017.

Mulanya, pada 2008, petani asal Yogyakarta itu menanam 256 batang kakao di lahan seluas seperempat hektar atau sekitar 2.500 m2. Pada 2014, saat tanaman kakaonya berumur enam tahun, hasilnya cuma 50 kg biji kakao kering. “Saya sudah memesan bibit karet dari Balai Penelitian Sembawa Banyuasin untuk mengganti kakao dengan tanaman karet,” kenang Mawarti, istri Sutrisno.

Saat bersamaan, akhir 2014, datang petugas PT Olam Indonesia, yang membawa program Cocoa Life, membujuk Sutrisno dan Mawarti untuk tetap melanjutkan memelihara kakao. “Pada awalnya susah meyakinkan mereka,” ucap Zulqarnain, Cocoa Life Manager Program Sumatera.

“Waktu itu kami nggak tahu cara bercocok tanam yang baik. Secara ilmu kami buta dan awam. Kami nggak tahu cara mangkas dan manen kakao,” timpal Sutrisno, saat ditemui di kebunnya di Desa Waringin Sari Timur. Padahal, “Pemangkasan itu sangat menentukan keberhasilan produksi kakao. Kalau salah memangkas, yang terpangkas cabang produktif,” papar Zulqarnain.

Setelah dua bulan mendapat pendampingan intensif, awal 2015 pasangan Sutrisno dan Mawarti, mulai merasakan manfaat binaan Cocoa Life, melalui Olam. “Kita harus tahu mana ranting yang harus kita buang dan mana yang harus kita pertahankan,” kata Sutrisno. Tunas-tunas yang menjulur ke atas, yang disebut tunas air, harus dipotong untuk memudahkan cahaya matahari menembus pepohonan.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI