Kisah klasik kentang dieng

Majalah Agrina - Edisi 275
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 275

Produktivitas kentang makin menurun, biaya produksi meningkat.

Agrina
Karakter kualitas kentang dari Dieng sudah begitu dikenal di pasaran. Kadar airnya rendah, renyah, tidak mudah mudah busuk, dan kulitnya yang tebal sehingga mampu melindungi umbi, banyak disuka masyarakat. “Kentang Dieng sudah terkenal. Kalau dibandingkan dengan kentang dari daerah yang lain, daya tahannya lebih baik.

Kalau kentang di daerah lain sudah membusuk, maka kentang Dieng justru mulai ber tunas,” ungkap Nurfaudin, petani kentang asal Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, saat disambangi AGRINA (23/4). Separuh Lahan Menganggur.

Dieng merupakan dataran tinggi penghasil kentang yang meliputi wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Hanya saja setelah dikembangkan puluhan tahun, budidaya kentang di Dieng meninggalkan permasalahan pelik yang kemudian menjadi klasik. Permasalahan tersebut adalah bibit, penyakit, dan ke suburan lahan yang terus berkurang.

Lingkaran permasalahan itu kemudian mengakibatkan turunnya produktivitas. Sayangnya, pemerintah mengambil solusi mudah dengan menggerojokkan kentang impor di pasaran seperti terjadi beberapa waktu lalu. Dampaknya harga kentang Dieng jatuh.

Bak sudah jatuh masih tertimpa tangga, petani pun menjerit. Akhirnya Desember lalu mereka berbondong-bondong ke Jakarta berunjuk rasa meminta pemerintah menyetop impor. Sementara pihak Kementan mengaku tidak memberikan rekomendasi impor kentang.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI