Melebarkan jejaring budidaya si bongkok

Majalah Agrina - Edisi 274
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 274

Tambak udang menyebar dari Pantai Utara hingga Selatan NTB. / Foto : DOK. HERMAN WIBISONO

Agrina
Pasar udang yang masih menganga dan harga yang stabil tinggi membuat euforia budidaya “si bongkok” masih terasa sampai sekarang. Budidaya udang pun semakin meluas. Hal ini terlihat dari cukup banyaknya area ekspansi lahan tambak, seperti di Bengkulu, Lampung, Jabar, Banten, Jatim, hingga NTB.

Bengkulu dan Lampung. Kota Bintuhan, Kab. Kaur, Bengkulu menjadi sentra baru budidaya udang sejak dua tahun belakangan. Umumnya pembudidaya yang melakukan ekspansi ke Pantai Barat Sumatera itu berasal dari Lampung dan Medan, Sumut.

Menurut Agusri Syarif, Ketua Ikatan Petambak Pantai Barat Sumatera (IPPBS), wilayah itu menjadi incaran kawasan pengembangan budidaya udang karena melihat keberhasilan budidaya udang superintensif di Kab. Pesisir Barat, Lampung yang lokasinya di sebelah selatan Bintuhan. Selain air lautnya belum tercemar, saat itu harga lahan lebih murah dan tersedia hamparan seluas puluhan hektar.

Jadi, memungkinkan petambak membangun areal pertambakan terpadu dalam satu kawasan. Agusri memperkirakan potensi lahan di Kaur yang memenuhi syarat menjadi areal tambak mencapai 500 ha. “Dari angka itu baru 60 ha yang sudah dibangun konstruksi tambak,” ujarnya kepada AGRINA baru-baru ini.

Sementara, potensi kawasan tambak di Pesisir Barat, Lampung lebih luar biasa lagi, mencapai 2.000- an ha. Perintis tambak udang superintensif di Pesisir Barat dan Kaur ini menjelaskan, sekitar 50 ha tambak sudah beroperasi di pantai barat Kab. Pesisir Barat yang menghadap langsung ke Samudra Indonesia.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI