Menjaga pasar udang tetap menjulang

Majalah Agrina - Edisi 272
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 272

Ekspor udang Indonesia terus meningkat. / Foto : WINDI L

Agrina
Amerika mengajukan SIMP pada 2018. Produksi si bongkok wajib memenuhi syarat food safety, traceability, dan sustainability agar diserap pasar internasional. Pasar udang ibarat tidak ada matinya. Konsumsi udang dunia terus meningkat seperti tidak mengenal krisis.

Mengutip data ITC Trade Map dan UN Comtrade, Nilanto Perbowo, Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan, tren impor udang Amerika Serikat (AS) mengalami ke naikan sebesar 6,78% pada kuartal tiga periode 2012-2016.

Nilai impor udang Ame rika sejak 2012 - 2016 sebesar US$3,439 miliar, US$3,726 miliar, US$5,044 miliar, US$4,129 miliar, dan US$4,193 miliar. Pasokan si bongkok berasal dari India, Indonesia, Thailand, Vietnam, Ekuador, Tiongkok, dan Meksiko. Indonesia dengan nilai ekspor US$0,859 miliar menempati posisi kedua ekspor udang ke negeri yang dipimpin Donald Trump itu di bawah India.

Budhi Wibowo, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) menambahkan, ekspor India semakin jauh meninggalkan Indonesia. “Ekspor India ke AS tahun 2015 sekitar 135 ribu ton. Tahun 2016 ekspor India diperkirakan naik menjadi 150 ribu ton.

Ekspor Indonesia tahun 2015 sekitar 114 ribu ton, tahun 2016 di perkirakan naik sedikit menjadi 117 ribu ton,” ulasnya kepada AGRINA. Kondisi agak berbeda ditunjukkan pasar Jepang. Pada kuartal tiga periode 2012- 2016 tren impor udang di Negeri Matahari Terbit itu menurun sekitar 5,72%.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI