Resep sukses musyafik berbisnis udang

Majalah Agrina - Edisi 271
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 271

Beneur dipelihara di bak dan diberi makan sebelum ditebar ke tambak. / Foto : Windi Listianingsih

Agrina
Hanya dalam jangka waktu tiga tahun, Musyafik mampu mengembangkan usaha budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) di pantai barat Lampung naik empat kali lipat. Dari awalnya hanya lima kolam pada 2013 menjadi 20 kolam pada akhir 2016. Padahal, ia pemain baru di bisnis si bongkok.

Bermodalkan pengalaman hampir 20 tahun di bidang pembenihan (hatchery) udang, pendidikan sarjana perikanan, serta intuisi bisnis yang kuat, Musyafik berani membuat dua gebrakan sekaligus. Pertama, membuka budidaya udang sistem super intensif di pantai barat Lampung yang belum pernah dilakukan pembudidaya lain.

Kedua, memberanikan diri menjadi pengusaha setelah sekian lama bekerja sebagai karyawan hatchery. Meski belum pernah terjun ke sektor bisnis, Bank Mandiri mempercayainya dan mengucurkan kredit pembiayaan bisnis udang.

Terobosan. Awalnya, pria yang disapa Syafik ini membuka tambak udang di Kalianda, Kab. Lampung Selatan bekerja sama dengan pengusaha lain. Agar lebih fokus dan bisa terjun sepenuhnya mengelola tambak baru, ia melepas tambak itu kepada mitranya.

Syafik memang satu di antara petambak yang terjun langsung mengawasi usaha budidaya si bongkok. Ia berharihari tinggal bersama teknisi dan pekerja tambak. Alasannya, pemilik harus tahu semua seluk beluk usaha. Meski cukup pengalaman di hatchery, ia merasa masih banyak yang belum dipahami.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI