Membangun pertanian dengan mekanisasi

Majalah Agrina - Edisi 271
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 271

Clifford Budiman, pembangunan pertanian dilakukan secara sinergis.

Agrina
Pembangunan pertanian harus dilakukan secara sinergis, baik oleh pemerintah maupun pelaku usaha. Menurut Clifford Budiman, dalam mengembangkan jagung misalnya, pemerintah sebaiknya melibatkan swasta, khususnya di lahan baru.

Industri jagung bisa mencontoh kemitraan intiplasma industri sawit. “Mengubah pertanian Indonesia menjadi skala industri seperti sawit. Kita eksportir sawit terbesar sedunia, swasta yang melakukan itu. Kenapa komoditas pangan tidak diperlakukan sama?” ia mengkritisi.

Pegiat Moderenisasi Alat dan Mesin Pertanian Indonesia itu menjelaskan, jika swasta terlibat dalam pengembangan jagung nasional, mereka punya dana untuk investasi, pengetahuan, teknologi, dan jaringan ke luar sehingga biaya produksi lebih efisien, hasil panen lebih banyak, dan harga komoditas menjadi lebih rendah.

Pemerintah berperan menjembatani kemitraan swasta dengan penduduk setempat atau petani lokal. Budaya ke Bisnis. Selain perluasan areal tanam dan peningkatan indeks per tanaman, Kemen terian Pertanian sudah banyak memberikan bantuan mekanisasi.

Diduga, bantuan tersebut banyak yang mangkrak. Salah satu penyebabnya, ulas Clif ford, pertanian Indonesia sedikit-banyak masih dikerjakan berdasarkan budaya (culture). “Kalau di Indonesia, (pertanian) turunan dari orang tuanya jadi otomatis penyerapan mekanisasi sangat rendah.

‘Aku diajari orang tua dulu seperti ini’. Ini paradigma yang harus diubah,” ucapnya kepada AGRINA. Sementara di negara lain seper ti Eropa atau Amerika, konsep yang digunakan adalah petani harus berbisnis.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI