Industri peternakan “madesu”?

Majalah Agrina - Edisi 282
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 282

Daging kerbau sudah masuk ke pasar becek dan konsumen pun sudah beradaptasi. / Foto : WINDI LISTIANINGSIH

Agrina
Peluang usaha industri peternakan pada 2018 sangat dipengaruhi oleh perilaku dan kebijakan bisnis tahun sebelumnya. Banyak kalangan menilai tahun ini merupakan tahun regulasi karena pemerintah banyak mengeluarkan aturan terkait industri peternakan.

Jangan sampai industri peternakan mengalami madesu (masa depan suram). Itulah benang merah Seminar Nasional Bisnis Peter nakan bertema “Tantangan Peter nakan Nasional Meng hadapi Serbuan Produk Impor” yang digelar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) di Bogor, Jabar, Rabu (22/11).

Sapi Potong dan Sapi Perah. Menurut Teguh Boediyana, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), potret bisnis industri peternakan sapi potong dan sapi perah 2017 tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Malah, kebijakan pemerintah yang mengimpor daging kerbau dengan harga murah mulai terasa dampaknya.

“Terjadi pergeseran preferensi konsumen karena impor daging kerbau beku India. Implikasi daging kerbau sudah sangat signifikan di pasar Indonesia. Daging kerbau sudah masuk ke pasar becek dan konsumen sudah melakukan adaptasi. Usa ha bakso sudah berpindah menggunakan daging kerbau eksimpor,” tandasnya.

Impor daging kerbau pun mencapai angka yang sangat tinggi, sebesar 120 ribu ton pada 2017. Pada tahun sebelumnya, impor daging kerbau eks India hanya menyentuh 89 ribu ton. Parahnya, India juga belum bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) baik secara zona maupun secara negara.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI