Udang, ketika hijrah mengantarkan sukses

Majalah Agrina - Edisi 282
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 282

Budidaya vaname sistem intensif menghasilkan panen berlipat.

Agrina
Pembudidaya skala kecil dengan keterampilan terbatas dan menjalankan budidaya secara tradisional berhak sukses setelah hijrah menuju sistem budidaya intensif. Itu yang dialami Triyono Mistoyo, pembudidaya di Desa Bandar Negeri, Kec. Labuhan Maringgai, Kab. Lampung Timur, Lampung sejak 2016.

Pemasukan dari budidaya udang vaname sistem intensif sekitar Rp350 juta an/siklus dengan keuntungan mencapai Rp170 jutaan/ siklus dari dua kolam seluas 1.600 m2. Padahal ketika menjalankan budidaya udang windu secara tradisional selama lebih dari 15 tahun, tak banyak perubahan yang dialami. Keuntungan yang berhasil dijaring dari budidaya windu dan bandeng sekitar Rp10 juta/siklus dari kolam seluas 20 ribu m2 (2 ha).

Karena itulah Tri, sapaannya, mulai berpikir mengubah pola budidaya dari tradisional menjadi intensif dengan menebar vaname. Apalagi beberapa sejawatnya sudah duluan menjalankan dan mengalami banyak kemajuan, terutama dari sisi pendapatan hasil budidaya.

Pendampingan. Menjalankan budidaya udang secara modern perlu dana besar dan penguasaan teknologi. Untuk menjawab kedua kendala tersebut, Kepala Desa Bandar Negeri ini mendapat pinjaman modal dan pendampingan melalui program demopond dari PT CP Prima. “Kalau tidak ada pendampingan, saya juga tidak berani, wong pengalamannya cuma di windu.

Sementara, vaname belum pernah mencoba sama sekali,” ujar Tri di sela-sela mengawasi penimbangan udang di rumahnya. Dengan adanya teknisi sebagai pendamping, ia bisa melaporkan setiap gejala yang muncul dan teknisi memantau perkembangan udangnya. “Sedikit-sedikit kita belajar dari teknisi menangani budidaya sesuai dengan teknis budidaya yang benar,” lanjutnya.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI