Bebek olahan rendahan kolestrol

Majalah Agrina - Edisi 277
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 277

Sebagian orang ngeri makan bebek karena kandungan kolesterolnya tinggi. Tapi sekarang ada bebek olahan yang rendah kolesterol. / Foto : Galuh Ilmia Cahyaningtyas

Agrina
Sugeng memang tidak asing dengan industri kuliner bebek. Sebelumnya, ia pernah mengurusi proses pengolahan bebek dari A sampai Z di sebuah restoran. Sewaktu bekerja di restoran, pria bernama lengkap Sugeng Rasdianto itu sering melihat pelanggan yang memilih-milih bagian bebek. Bukan rahasia lagi daging bebek memang kolesterolnya tinggi.

Berawal dari pengamatan terhadap perilaku konsumen tersebut, akhirnya Sugeng terinspirasi untuk buka usaha sendiri. “Saya berinovasi untuk membuat produk turunan. Akhirnya, ketemulah formulasi bebek low cholesterol,” kata Sugeng saat ditemui AGRINA di kedainya, Depok (17/5). Ia menamai kedainya “Bebek Dewi” dengan slogan “Enak Rasanya & Sehat”.

Menurut dia, enak itu berarti rasanya enak untuk dimakan. Dan sehat maksudnya kalangan semua umur dan yang bermasalah kolesterolnya tetap dapat menikmati kuliner bebek. Bagaimana bisa rendah kolesterol? Tentu saja bisa.

Rahasianya ada pada pemrosesan awal perebusan atau orang Indonesia biasa mengenalnya dengan istilah “diungkep”. Pada umumnya, Sugeng membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 5 jam untuk memprosesnya. “Mau jumlah banyak atau sedikit, rentang waktu pemrosesannya sama saja,” terang ayah dua anak itu.

Prosesnya, dimulai dari pencucian hingga bersih. Kemudian didiamkan hingga agak kering dan dicabuti bulu-bulu halusnya yang masih tersisa. Setelah itu direndam, dicuci, dan direbus dengan air berbumbu dalam waktu 30 – 45 menit. Rebus dengan suhu 100°C atau air yang mendidih. Lalu tiriskan daging bebek hingga dingin, cuci lagi hingga bersih.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI