Wujudkan konservasi Otan, bukti sawit berkelanjutan

Majalah Agrina - Edisi 276
23 Februari 2018

Majalah Agrina - Edisi 276

“Ini murni untuk konservasi tapi melibatkan warga desa.” Salah besar jika perkebunan sawit se - bagai penyebab kerusakan ling kung - an. / Foto : Windi Listianingsih

Agrina
Salah besar jika perkebunan sawit sebagai penyebab kerusakan lingkungan. Mari mengunjungi Pulau Salat di Desa Pilang, Kec. Jabiren Raya, Kab. Pulang Pisau, Kalteng. Anda akan menemukan otan asik bercengkrama di alam bebas, kawasan suaka milik PT Sawit Sumber Mas Sarana (SSMS) Tbk. yang dikelola Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

Pada 2015, ulas Vallauthan Subraminam, SSMS bekerja sama dengan BOSF mewujudkan keberlanjutan orangutan (otan) dan ling kungannya. “Kami mencarikan solusi untuk menjalankan biodiversity dan sustainability. Kami bekerja sama untuk memastikan ini bisa dilestarikan dan mereka (otan) bisa dilepaskan ke alam,” ujar Valla.

Sejak itu, sudah 24 otan dilepas liar kan. Tahun ini SSMF berencana melepas liar kan 100 otan. Presiden Direktur SSMS itu menegaskan, “Sawit merusak lingkungan itu tidak be nar. Kami bisa eksis dan menjadi bagian da ri solusi. Ini menunjukkan kita perusahaan yang bertanggung jawab.” Langkah ini, lanjutnya, adalah suatu permulaan dan bentuk komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan.

Sudah 10% atau 6.000 ha lahan SSMS menjadi area konservasi. Menurut Jamartin Sihite, CEO BOSF, Pulau Salat dipilih sebagai suaka alam otan karena letaknya terisolasi oleh sungai sehingga memudahkan isolasi dan pengawasan, sepanjang tahun dialiri air, dan ter sedia pakan alami, seperti buah-buahan dan rayap.

“Kondisi menyerupai hutan jadi hampir sama kondisinya dengan di hutan, populasi orang utan liar sekitar 0,01% di dalamnya,” kata Jamartin sambil menjelaskan terdapat 700 otan yang mengantre lepas liar.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI