Industri jagung tetap untung, asal…

Majalah Agrina - Edisi 286
13 April 2018

Majalah Agrina - Edisi 286

PEMERINTAH sebaiknya memperhatikan harga jagung yang anjlok di tingkat petani. / Foto : Windi Listianingsih

Agrina
Meyakini agribisnis jagung terus prospektif, Dean Novel, Direktur Utama PT Dhanya Perbawa Pradhi kasa memberikan beberapa ulasan yang harus dicermati. Salah satunya, road map (peta jalan) swasembada jagung harus jelas. “Dibikin road mapnya tahun ini ngapain, tahun depan ngapain.

Jangan langsung rapat, tahun depan kita swasembada. Mak, ngerikali orang ini,” sindirnya sambil tertawa. Harga Rendah Tidak Terekspos Dean menjelaskan, harga jagung lokal ditentukan oleh pemerintah melalui harga pokok penjualan (HPP) sebesar Rp3.150/kg. Harga ini juga tidak terkait dengan harga internasional.

“Fluktuasi harga jagung dunia trennya naik meskipun berfluktuasi. Harga jagung dunia yang tadinya turun cukup lama, trennya sudah naik,” jelasnya. Sementara di dalam negeri, harga emas pipilan itu sedang turun. “Harga jagung di banyak daerah sentra produksi sejak awal Maret 2018 anjlok tajam.

Di Dompu, Nusa Tenggara Barat itu harga pipilan basah sudah Rp1.900/kg, harga tongkolnya sudah Rp1.200/kg,” tandas Dean pada Seminar Nasional AGRINA Agribusiness Outlook 2018 di Jakarta, Kamis (15/3).

Harga jagung per 12 Maret 2018 di tingkat pengumpul antara lain, sekitar Rp1.400–Rp1.500/kg untuk jagung tongkol panen di pinggir jalan, jagung pipilan basah sebesar Rp1.950– Rp2.100/kg, jagung pipilan kering 17% sekitar Rp2.900–Rp3.150/kg, dan jagung pipilan kering 14% sebesar Rp3.300– Rp3.400/kg.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI