Aplikasi teknologi budidaya udang ramah lingkungan

Majalah Agrina - Edisi 286
13 April 2018

Majalah Agrina - Edisi 286

Budidaya udang ramah lingkungan menghasilkan kesinambungan bisnis dan terjaganya lingkungan. / Foto : Windi Listianingsih

Agrina
Keuntungan bisnis udang memang menggiurkan. Namun, tantangan budidaya si bongkok juga semakin berat seiring perubahan iklim dan kondisi lingkungan yang makin rusak. Terlebih serangan penyakit juga mengintai. Agar budidaya udang berkelanjutan, petambak harus menerapkan teknologi budidaya ramah lingkungan.

Menurut Dr. Supono, M. Si., Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Lampung, budidaya udang ramah lingkungan adalah budidaya udang yang berkelanjutan. Sehingga, bisnis udang terus berkesinambungan dan lingkungan tetap terjaga.

Secara ekologi, budidaya udang disebut berkelanjutan jika tidak menyebabkan kerusakan spesies tertentu, tidak merusak hutan mangrove, tidak mencemari lingkungan, dan memiliki instalasi pengolahan limbah.

Dari sudut pandang ekonomi, budidaya udang berkelanjutan bila menguntungkan secara finansial dan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Dari sisi sosial dan masyarakat, yaitu aman dari tindak pencurian, masyarakat tidak mengganggu dan memperoleh manfaat dari kegiatan budidaya udang.

Konstruksi Kolam. Supono menjelaskan, budidaya udang ramah lingkungan dilakukan sejak pembuatan konstruksi kolam. Konstruksi tambak luasnya sekitar 1.000-5.000 m2 dengan kedalaman 1,5-2 m. Tambak di lapisi plastik terutama di daerah pemberian pakan.

Lining atau pemasangan plastik dasar tambak bisa menggunakan plastik mulsa, HDPE, atau LDPE. Tujuannya, menjaga kebersihan daerah pakan dan mengurangi padatan tersuspensi. “Tambak bisa diplastiki semua atau sebagian saja di pematang,” ujarnya pada penyuluhan perikanan bertema Aplikasi Teknologi Budidaya Udang Ramah Lingkungan di Lampung Timur beberapa waktu lalu.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI