Kentang: Bisnis kentang masih menantang

Majalah Agrina - Edisi 287
16 Mei 2018

Majalah Agrina - Edisi 287

Kentang lokal asli Dieng. / Foto : Dok. Pribadi Adhi Nurcholis

Agrina
Produktivitas kentang di Indonesia tergolong rendah dibandingkan negara maju. Di negara maju, produktivitas kentangnya bisa mencapai lebih dari 30 ton/ha. Sedangkan di Indonesia, hanya sekitar 13 ton/ha. Menurut Abdul Kadir Damanik, Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM mengatakan, dengan adanya teknologi pertanian yang menghasilkan varietas kentang berkualitas tinggi, produktivitas kentang petani diharapkan bisa terdongkrak.

Perbanyak benih lokal Salah satu daerah peng hasil kentang terbesar di Indonesia, Dataran Tinggi Dieng (termasuk wilayah Kabu - paten Banjarnegara dan Wonosobo), Jawa Tengah, mengambil sekitar 60% kebutuhan benihnya dari luar kawasan. Untuk satu musim tanam kentang, para petani membutuhkan sekitar 6.000 ton benih kentang. Untuk itu, penelitian pengembangan benih unggul dan teknis produksi massalnya terus dikembangkan.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah mengujicobakan produksi kentang dari benih kentang exvitro. Pihaknya telah membangun sarana peroduksi benih kentang exvitro dengan kapasitas 100 ribu benih/tahun. Teknik ini merupakan teknik perba nyakan tanaman secara vegetatif.

“Kelebihan teknologi ini mudah, murah, dan bisa dilakukan dekat tempat budidaya,” ujar Eniya L. Dewi, Deputi Bidang Teknologi Agroindustri Bioteknologi BPPT yang disa dur dari laman resminya. Dari hasil pengujian di Desa Sumberbrantas, Kecamat an Bumiaji, Kota Batu, Jatim benih ini mampu menghasilkan kentang konsumsi hingga 35 ton/ha.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI