Bersinergi meningkatkan populasi

Majalah Agrina - Edisi 287
16 Mei 2018

Majalah Agrina - Edisi 287

Daging kerbau India dilepaskan seluruh tulangnya, pembuluh darah utama, dan limfoglandula yang teridentifikasi secara visual sebelum dikemas dan ekspor. / Foto : DOK. TRI SATYA PN

Agrina
Yeka Fatika mengamati, kondisi peternakan sapi di Indonesia di satu sisi meng alami perbaikan dan di sisi lain masih memprihatinkan. Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) itu menyebut ada dua catatan baik kebijakan Kementerian Pertanian dalam upaya peningkatan populasi sapi di indonesia, yaitu Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi Induk Wajib Bunting (Upsus SIWAB) dan pengadaan sapi indukan 15 ribu ekor dari Australia.

Riset PATAKA pada 2017, sambung Yeka, “Pada 2016-2017 terjadi peningkatan pedet hampir 21% di lima lokasi. Ini terjadi karena Upsus Siwab. Dan mungkin mempengaruhi harga pedet yang peningkatannya tidak terlalu wah.” Untuk kebijakan pengadaan sapi indukan yang sangat besar, ia menilai, akan menjadi pintu masuk yang baik bagi pengembangan ke depan jika semua pihak bersinergi.

Kebijakan importasi daging kerbau India yang menjadi keputusan politik pemerintah untuk stabilisasi harga, kupas Yeka, belum menunjukkan perannya. PATAKA mencatat harga daging dari 2016-2017 tetap tinggi. “Bahkan dinyatakan oleh BPS, saat ini harga daging stabil tinggi. Meski sudah dibanjiri daging impor, nyatanya harga pedet, bakalan, sapi siap potong terus mengalami peningkatan. Rata-rata naik Rp1 juta/tahun. Artinya, kita masih kekurangan suplai,” ungkapnya.

Kalaupun harus impor daging, ia meminta, dilakukan banyak pihak, seperti BUMN dan swasta agar terjadi efisiensi. Impor juga sebaiknya dalam bentuk kerosokan (natural part) sehingga peternak lokal bisa bersaing. “Akan repot kalau impor bagian-bagian tertentu. Apalagi yang diimpor jeroan, tetelan, peternak pasti cemas,” tandasnya.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI