Jangan ragu adopsi bioteknologi!

Majalah Agrina - Edisi 288
25 Juni 2018

Majalah Agrina - Edisi 288

JAGUNG BIOTEK sudah ditanam di Filipina sejak 2003. / Foto : WINDI LISTIANNGSIH

Agrina
Penggunaan bioteknologi (biotek) atau Genetically Modified Organism (GMO) masih penuh pro dan kontra. Meski begitu, tidak dapat dimungkiri peranan bioteknologi sangat besar. Tidak hanya dalam penyediaan pangan dan kesejahteraan petani tetapi juga keberlanjutan lingkungan serta keanekaragaman.

Setelah 22 tahun berjalan, menurut Sonny Tababa, Biotechnology Affairs Director CropLife Asia, banyak penelitian membuktikan tanaman biotek memperbaiki produktivitas, termasuk meningkatkan hasil panen hingga meningkatkan keanekaragaman hayati. “Karena ketika petani memperbaiki hasil panennya, mereka nggak perlu membuka area baru untuk menanam. Karena itu kenapa keberlanjutan sangat terukur,” ucap Sonny. Tanaman biotek, seperti jagung biotek, mengurangi penggunaan pestisida dan memudahkan petani mengendalikan gulma rumput.

Perkembangan Biotek. Menurut Gabriel Romero, pertambahan populasi dua kali lipat merupakan tanggung jawab semua pihak untuk memproduksi pangan. “Kita lihat lahan tidak meningkat tapi malah menurun dan jumlah yang harus diberi makan secara global juga meningkat. Ini tantangan besar kita semua untuk membuat petani lebih produktif,” kata Chair CLP Seed Committee Monsanto Filipina itu sambil menjelaskan produksi pangan itu akan tercukupi menggunakan teknologi pertanian maju dan teknologi biotek.

Biotek, sambung Gabriel, bukanlah ilmu baru tetapi perluasan teknologi pembenihan tanaman. Petani sejak abad 18 sudah melakukan teknologi pembenihan konvensional dengan cara mengumpulkan dan mengoleksi benih yang baik. Pada 1940, peneliti menemukan ada faktor gen di dalam tanaman yang bisa dimanipulasi untuk memproduksi varietas unggul.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI