Tidak mudah Eropa tinggalkan sawit

Majalah Agrina - Edisi 288
25 Juni 2018

Majalah Agrina - Edisi 288

Uni Eropa ingin mengganti 6 jutaan ton minyak sawit yang diimpornya dengan minyak nabati lain pada 2021. Mungkinkah?

Agrina
Tahun ini Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOC) memperkirakan permintaan minyak nabati dan lemak Uni Eropa akan meningkat. Pemicunya adalah defisit suplai domestik dan pertumbuhan permintaan biodiesel di wilayah yang terdiri 28 negara tersebut.

Mohd. Izzham Hassan di laman MPOC, menyatakan, Uni Eropa membutuhkan 33,5 juta ton minyak nabati dan lemak. Semen tara produksi dalam negeri hanya 24,3 juta ton sehingga perlu impor 12,5 juta ton. Dari impor ini, minyak sawit ber peluang berkontribusi sebanyak 7,4 juta ton.

Namun Parlemen Eropa menerbitkan resolusi yang hendak menghapus minyak sawit dari bahan baku biodiesel dengan alasan produksi sawit menyebabkan deforestasi. Saat ini resolusi ini sedang dibahas dengan Dewan Eropa dan Komisi Eropa.

Bila resolusi itu disetujui menjadi aturan baru, langkah pertama Uni Eropa adalah melarang penggunaan minyak nabati yang tidak berkelanjutan untuk bahan baku biodiesel pada 2020. Mereka juga mengusulkan hanya minyak sawit berkelanjutan berdasarkan sertifikasi mereka saja yang boleh mendarat di Uni Eropa.

Lalu mereka akan melarang sama sekali minyak nabati bahan pangan untuk biodiesel pada 2030. Bagaimana gambaran proses pengambilan keputusan di Uni Eropa dan implikasi nya bagi Indonesia? James Fry, Chairman LMC International dan Eddy Esselink dari European Palm Oil Alliance (EPOA), menjelaskannya di konferensi internasional tentang kelapa sawit dan lingkungan, ICOPE di Bali, 25-27 April 2018.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI