Budidaya berbasis klaster mengangkat produktivitas

Majalah Agrina - Edisi 289
5 Juli 2018

Majalah Agrina - Edisi 289

KAWASAN budidaya udang membantu meningkatkan produktivitas tambak tradisional. / Foto : Windi Listianingsih

Agrina
Permintaan si bongkok yang tiada henti, baik dari pasar dalam negeri maupun mancanegara, menarik para pelaku usaha untuk menekuni budidaya udang dalam berbagai skala usaha. Mereka adalah pembudidaya udang skala intensif, semi-intensif, dan tradisional. Menurut Iwan Sutanto, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI), produksi udang vaname sekitar 390 ribu ton/tahun.

Produksi ini berasal dari tambak milik anggota SCI sebanyak 280 ribu ton/tahun, tambak udang terintegrasi 20 ribu ton/tahun, dan tambak udang tradisional serta semi-intensif sekitar 90 ribu ton/tahun. “Hampir semua tambak anggota SCI dan tambak terintegrasi memproduksi udang vaname. Sedangkan tambak udang tradisional dan semi-intensif lebih banyak memproduksi udang windu daripada vaname,” ungkapnya.

Saat ini, ia menambahkan, area tambak udang di Indonesia mencapai 380 ribu ha. Tambak si bongkok itu terdiri dari 65% tambak udang tradisional, 25% tambak udang semi-intensif, serta 10% sisanya berupa tambak udang intensif dan super intensif. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pada 2015 ada 429.507 ha lahan budidaya payau yang dikelola secara tradisional, termasuk di dalamnya tambak udang dan ikan.

Bagaimana mengoptimalkan tambak udang tradisional? Sejumlah Masalah. Menurut Hadi Mulyono, tambak udang tradisional butuh penataan karena cenderung memiliki infrastruktur yang buruk dan tata letak tidak beraturan. Pengelola Kawasan Vaname (Kavas) PT Suri Tani Pemuka (STP) Jawa Timur itu mengungkapkan, kondisi pertambakan tradisional umum nya terletak di lokasi pasang-surut dengan tujuan utama pengisian air lebih murah karena tanpa menggunakan pompa.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI