Udang, agar bisnis si bongkok tidak terseok

Majalah Agrina - Edisi 290
14 Agustus 2018

Majalah Agrina - Edisi 290

Harga udang melemah sejak akhir tahun lalu. / Foto : SYAFNIJAL DS

Agrina
Iklim usaha budidaya udang vaname di Provinsi Lampung menghadapi berbagai kendala. Setelah harga udang yang merosot sejak akhir tahun lalu tak kunjung pulih, kini juga dihadapkan pada kenaikan harga pakan dan obat-obatan seiring melonjaknya kurs dolar Amerika terhadap rupiah. Belum lagi serangan penyakit silih-berganti. Bagaimana mengatasi hal ini?

Biosekuriti. Maksum mengatakan, pem budidaya kecil seperti dirinya paling terpukul akibat kondisi bisnis udang yang memburuk. “Dengan padat tebar 40 ribu ekor/kolam ukuran 2.000 m2/unit, bisa panen 8 kuintal saja untuk 2 kolam, sudah dianggap sukses,” lanjut pembudidaya dari Desa Bumi Dipasena Jaya, Kec. Rawajitu, Kab.

Tulang Bawang itu. Serangan penyakit yang sedang marak saat ini antara lain white spot syndrome virus (WSSV) dan invectious myonecrosis virus (IMNV). Bahkan, WSSV sudah mulai menyerang udang di umur 17 hari dan diikuti kematian masal. Apa lagi, pada musim pancaroba banyak udang yang terserang WSSV karena daya tahan udang lemah.

Pembudidaya berupaya menebar benur bermutu dengan membeli dari perusahaan. Namun, setelah ditebar masih saja terserang penyakit. Maksum menilai, persoalan penyakit di tempatnya bukan karena benur yang kurang baik tapi lebih banyak akibat lemahnya kesadaran pembudidaya menjalankan standar operasional prosedur (SOP) secara ketat, terutama biosekuriti.

“Setelah tidak menjalankan kemitraan, kawan-kawan budidaya semaunya. Ketika masih menjadi mitra PT Dipasena Citra Dar maja diawasi ketat sehingga SOP dijalankan secara baik,” aku dia.

Majalah Agrina dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI