Buku Al Mawardi Prima hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Menikmati Hidup Mengingat Maut

Menikmati Hidup Mengingat Maut

Berusahalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selamanya, dan berusahalah untuk akhiratmu seakan-akan kau akan mati besok. (Ibnu Amr Ra)

Ungkapan sahabat Nabi Muhammad Saw, Ibnu Amr Ra, di atas membuat kita merenung, berapa banyak orang yang cinta dunia tapi takut mati. Karena dikiranya harta kekayaan dan kepandaiannya bakal bisa menyelamatkan dia dari incaran si maut. Mereka lupa kalau ajal bisa datang setiap saat tanpa dia bisa menduganya. Dan sebaliknya, ada orang-orang tertentu yang sibuk ibadah terus tanpa melakukan amal untuk dunianya. Kerjaannya hanya shalat terus tanpa mau bekerja, seolah-olah harta bisa turun dari langit.

Perlu diketahui, Islam bukan hanya agama yang mengurusi ibadah mahdhah saja semisal shalat, zakat dan puasa. Tapi Islam juga mempunyai liputan ibadah secara umum yaitu bekerja akan bernilai viii Menikmati Hidup Mengingat Maut ibadah bila diniatkan untuk mencari ridha-Nya dan untuk menafkahi keluarga. Belajar yang rajin juga sama, yaitu akan bernilai pahala bila ditujukan untuk kejayaan Islam. Jadi, berusaha untuk dunia, akhirat pun juga dapat hasilnya. Imbang.

Buku ini mengajak kita untuk selalu bermuhasabah atau merefleksikan diri kita sendiri agar kita menjadi manusia yang seimbang antara dunia dan akhirat. Buku ini terdiri dari 3 bagian pembahasan:

1. BELAJAR MENIKMATI HIDUP DAN MENGINGAT MAUT DARI ORANG SUKSES. Berisi tentang profil beberapa tokoh yang telah sukses menikmati hidup, mengingat maut dan selalu mengharap ridha Allah.

2. MENIKMATI HIDUP. Episode ini akan mengubah paradigma tentang kehidupan. Berisi kisah-kisah penuh hikmah yang menggerakkan diri agar mampu menikmati hidup, berjuang di dalamnya, dan bersyukur atas nikmat-Nya.

3. MENGINGAT MAUT. Episode ini berisi puisi dan kisah-kisah penuh hikmah yang membangunkan jiwa kita yang tertidur, menyadari kelalaiannya, membangkitkan semangatnya, menggelorakan nilai perjuangannya dan mengembalikan sesuatu apa pun kepada Allah Swt. Sehingga dapat menyongsong maut tanpa buruk sangka akan keadilan Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Maha Tahu yang terbaik untuk makhluk-makhluk-Nya.

Akhirnya, terima kasih kami sampaikan kepada Ustadz Dr. H. Sunandar, M.Ag yang telah membantu kita untuk selalu bermuhasabah agar menjadi insan yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Semoga buku ini bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk kita semua, khususnya para pembaca.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Sunandar Ibnu Nur, Dr. H. MA.
Editor: Abdul Hanan Al-Hasany / Muhaemin Bahnadi

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9786029247695
Terbit: Februari 2016, 261 Halaman

Ikhtisar

Berusahalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selamanya, dan berusahalah untuk akhiratmu seakan-akan kau akan mati besok. (Ibnu Amr Ra)

Ungkapan sahabat Nabi Muhammad Saw, Ibnu Amr Ra, di atas membuat kita merenung, berapa banyak orang yang cinta dunia tapi takut mati. Karena dikiranya harta kekayaan dan kepandaiannya bakal bisa menyelamatkan dia dari incaran si maut. Mereka lupa kalau ajal bisa datang setiap saat tanpa dia bisa menduganya. Dan sebaliknya, ada orang-orang tertentu yang sibuk ibadah terus tanpa melakukan amal untuk dunianya. Kerjaannya hanya shalat terus tanpa mau bekerja, seolah-olah harta bisa turun dari langit.

Perlu diketahui, Islam bukan hanya agama yang mengurusi ibadah mahdhah saja semisal shalat, zakat dan puasa. Tapi Islam juga mempunyai liputan ibadah secara umum yaitu bekerja akan bernilai viii Menikmati Hidup Mengingat Maut ibadah bila diniatkan untuk mencari ridha-Nya dan untuk menafkahi keluarga. Belajar yang rajin juga sama, yaitu akan bernilai pahala bila ditujukan untuk kejayaan Islam. Jadi, berusaha untuk dunia, akhirat pun juga dapat hasilnya. Imbang.

Buku ini mengajak kita untuk selalu bermuhasabah atau merefleksikan diri kita sendiri agar kita menjadi manusia yang seimbang antara dunia dan akhirat. Buku ini terdiri dari 3 bagian pembahasan:

1. BELAJAR MENIKMATI HIDUP DAN MENGINGAT MAUT DARI ORANG SUKSES. Berisi tentang profil beberapa tokoh yang telah sukses menikmati hidup, mengingat maut dan selalu mengharap ridha Allah.

2. MENIKMATI HIDUP. Episode ini akan mengubah paradigma tentang kehidupan. Berisi kisah-kisah penuh hikmah yang menggerakkan diri agar mampu menikmati hidup, berjuang di dalamnya, dan bersyukur atas nikmat-Nya.

3. MENGINGAT MAUT. Episode ini berisi puisi dan kisah-kisah penuh hikmah yang membangunkan jiwa kita yang tertidur, menyadari kelalaiannya, membangkitkan semangatnya, menggelorakan nilai perjuangannya dan mengembalikan sesuatu apa pun kepada Allah Swt. Sehingga dapat menyongsong maut tanpa buruk sangka akan keadilan Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Maha Tahu yang terbaik untuk makhluk-makhluk-Nya.

Akhirnya, terima kasih kami sampaikan kepada Ustadz Dr. H. Sunandar, M.Ag yang telah membantu kita untuk selalu bermuhasabah agar menjadi insan yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Semoga buku ini bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk kita semua, khususnya para pembaca.

Pendahuluan / Prolog

Pengantar Penulis
Kematian merupakan kepastian. Tak seorang pun dapat menghindar dan melepaskan diri dari cengkeramannya. Firman Allah Swt, ‘’Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata.’’ (QS. Al-Jumu’ah: 8).

Menurut Ghazali, ingat kematian akan menimbulkan berbagai kebaikan. Di antaranya, membuat manusia tidak ngoyo dalam mengejar pangkat dan kemewahan dunia. Ia bisa menjadi legawa (qana’ah) dengan apa yang dicapainya sekarang, serta tidak akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi pribadinya. Kebaikan lain, manusia bisa lebih terdorong untuk bertaubat alias berhenti dari dosadosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Lalu, kebaikan berikutnya, manusia bisa lebih giat dalam beribadah dan beramal saleh sebagai bekal untuk kebaikannya di akhirat kelak. Dengan berbagai kebaikan ini, orang-orang tertentu seperti kaum sufi tidak takut dan tidak gentar menghadapi kematian. Mereka justru merindukannya, karena hanya lewat kematian mereka dapat menggapai kebahagiaan yang sebenar-benarnya, yaitu berjumpa dengan Allah dalam ridha dan perkenan- Nya.

Di dalam buku ini, penulis mengajak pembaca untuk belajar menikmati hidup dan mengingat maut dari dari tokoh yang sukses di dunia tanpa melupakan bekal untuk akhirat. Tokoh-tokoh tersebut memiliki kedekatan personal dan emosional dengan penulis. Dalam berbagai kesempatan interaksi dengan tokoh-tokoh yang penulis ceritakan sekelumit kisah hidup dan perjuangannya masing-masing, penulis mendapatkan pelajaran sarat makna yang patut diketahui oleh umat Islam. Profil tokoh-tokoh di buku ini tentu baru sebagian kecil yang diungkap sehingga tidak mewakili kebesaran tokoh-tokoh tersebut.

Buku ini hadir tak lepas dari kebaikan banyak pihak yang telah menginspirasi dalam penulisan buku, terutama para tokoh agama yang profilnya mengisi bagian awal buku. Profil para tokoh tersebut penulis kutip dari berbagai sumber di dunia maya. Untuk itu, penulis memohon keikhlasan dari saudara-saudara pemilik website/blog yang tulisannya penulis kutip. Penulis hanya bisa mendoakan semoga ini menjadi bagian dari amal ibadah saudara.

Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada almarhum kedua orang tuaku, istriku tercinta Tuti Alawiyah, dan anak-anak yang menjadi penyemangat hidup dan kerja keras saya selama ini, yaitu: Fira Sintia Octa Zafira, Fischa Desfariha Winanda, dan Feris Alwidar Jan Alfaen. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak H. Evi Afrizal Sinaro, Direktur AMP Press yang bersedia menerbitkan buku ini. Juga kepada saudara Hanan yang sabar dan rela waktu istirahatnya berkurang karena mendampingi penulis untuk mengejar deadline penyelesaian buku ini.

Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat. Wallaahu a’lam bishshawab.

Penulis

Sunandar Ibnu Nur, Dr. H. MA. - Dr. H. Sunandar Ibnu Nur, MA. Lahir pada 26 Juni 1962 di Bogor dan menghabiskan masa kecilnya yang indah dan penuh kenangan di kota kelahirannya. Memulai pendidikan formalnya di SDN III Dramaga Bogor hingga selesai tahun 1974, kemudian melanjutkan pendidikan menengah di SMPN V Bogor dan selesai tahun 1977. Harapan kedua orang tua agar anaknya tumbuh menjadi sosok yang memiliki kepribadian baik dan memiliki pengetahuan agama yang cukup mengantarkannya masuk ke KMI Pondok Modern Gontor sampai lulus tahun 1982.

Selama 5 tahun menimba beragam ilmu di Gontor memberinya pengetahuan dan pengalaman yang berpengaruh besar terhadap kehidupannya kelak di masa datang. Setelah mengabdi di almamaternya, Sunandar kembali ke kota kelahirannya dan melanjutkan pengembaraan menuntut ilmu di Universitas Ibnu Khaldun Bogor pada tahun 1982. Studinya di Ibnu Khaldun tidak dilanjutkan, dan memantapkan hati belajar di Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sampai meraih gelar Sarjana Muda pada tahun 1986. Sunandar meraih gelar S1 pada tahun 1989, dari Fakultas Ushuluddin jurusan Dakwah.

Daftar Isi

Sampul
Persembahan
Pengantar Penerbit
Pengantar Penulis
Daftar Isi
Belajar Menikmati Hidup Mengingat Maut dari Orang Sukses
     KH. Muhammad Arifin Ilham
     Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc
     Dr. H. M. Hidayat Nurwahid, MA
     Ustadz H. Fadhlan Garamatan
     Prof. Dr. H. Komaruddin Hidayat, MA
     Ary Ginanjar Agustian
     Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA
     Lukman Hakim Saifuddin
     H. Abu Bakar
     Prof. Dr. H. Muhammad Ali Aziz, MA
     Ustadz Yusuf Mansur
     Syekh Ali Jaber
     Ustadz Jefri Al Buchori (Uje)
     H. Ahmad Fatahillah, SE, MBA
     Dr. KH. Ahmad Luthfi Fathullah, MA
     Edvan Muhammad Kautsar
     Dr. Hasani Ahmad Said, MA
Menikmati Hidup
     Lapang Menerima Ujian Hidup
     Hidupkan Hidup Dengan Percaya
     Skenario Allah Di Balik Kegagalan
     Belajar Hidup Dari Proses Kelahiran Kupu-Kupu
     Kisah Ahli Syukur
Mengingat Maut
     Saat Diri Harus Beranjak Pergi
     Andai Aku Dimakamkan Hari Ini
     Jenazah Airlines
     Suara Yang Didengar Mayat
     Jeritan Sebelum Kematian
     Beginilah Malaikat Maut Mencabut Nyawa Orang Zalim
Daftar Pustaka
Tentang Penulis

Kutipan

Bagian Menikmati Hidup
Episode ini akan mengubah paradigma tentang kehidupan. Berisi kisah-kisah penuh hikmah yang menggerakkan diri agar mampu menikmati hidup, berjuang di dalamnya, dan bersyukur atas nikmat-Nya.

Menikmati Kejutan-kejutan Hidup

Musibah itu, entah bernama kematian, sakit, kehilangan harta benda, difitnah, dan sebagainya akan memberikan kesadaran dan bahkan inspirasi untuk bertahan, bekerja keras, dan bersabar, serta menjadi jalan menuju kemapanan dan kehidupan yang lebih baik. Nila, adalah contohnya. Nenek berusia 70 tahun itu, dalam segala keterbatasannya tetap berusaha bertahan hidup bersama putranya yang buta, Feri, 45 tahun, setelah musibah beruntun yang menimpanya 39 tahun silam.

Semula, kehidupan Nila dan suami beserta empat orang anaknya yang tinggal di Kenagarian Guguk, Kabupaten Lima Puluh Kota, memang berkecukupan. Namun, kehidupannya lantas terasa payah ketika pendapatan yang diperolehnya bersama suami dari hasil pertanian, mulai digerogoti untuk biaya pengobatan anak-anaknya yang ditimpa sakit. Akan tetapi, tiga adik Feri justru meninggal satu persatu.

Penderitaan Nila bertambah berat di saat suaminya juga meninggal dunia, kala ia masih berumur 31 tahun. Sejak itu mulailah babak baru dalam kehidupannya. Tapi rasa pilu belum juga hendak beranjak ketika setahun kemudian, Feri, anak satu-satunya menderita penyakit campak berat.

Setelah coba diobati, ternyata penyakit campak yang dialami anak itu telah akut. Di sela-sela harus mencari kebutuhan sehari-hari, Menikmati Hidup Mengingat Maut 193 Nila mesti memikirkan biaya berobat Feri. Akibatnya, Feri merasakan penderitaan yang tak henti-hentinya. Sampai ia harus mengalami kebutaan. Meskipun pahit, namun kehidupan Nila tetap berjalan terus. Nila mengajari Feri untuk tetap berjuang menghadapi sisa-sisa hidup.

Nila sadar, dengan kondisi itu, bahwa betapapun beratnya ia harus bertahan. Ia pun memulai segalanya dengan membuat sapu lidi, pekerjaan yang dulu hanya sekadar sambilan. Akhirnya, Nila sendiri yang mencari pohon-pohon kelapa yang dapat diambil lidinya. Tapi, karena penyakit asam urat yang dideritanya, ia akhirnya lumpuh. Namun ia tidak berhenti, ia dan anaknya tetap terus berjuang dan sabar dengan apa yang terjadi. Keduanya tetap bertawakal, tetap bekerja tanpa menyandarkan nasib kepada orang lain. Berpantang untuk mengemis.

Meski tak dapat melihat, ternyata Feri bisa bekerja untuk menghidupi diri dan ibunya. Sapu lidi tersebut mereka jual berkeliling pasar-pasar, dari satu tempat ke tempat yang lain. Tidak jarang Feri harus menggendong ibunya untuk sampai di pasar. Ibunya yang memandu arah jalan dari gendongan Feri.

Tidak kuat seperti itu, Feri akhirnya membuat gerobak dari kayu. Dia menarik gerobak sementara ibunya duduk di atas gerobak sambil mengendalikan jalannya gerobak. Tidak kurang 40 km jarak yang ditempuh keduanya pulang saban hari untuk menjajakan sapu lidi buatan mereka. Tidak pernah berkata capek.

15 tahun Feri menjalani pekerjaan itu, tidak pernah sepatah kata penyesalan pun keluar dari lisannya, hingga kemudian sebuah media mengangkat kisahnya dan lalu meng-ubah jalan hidup mereka. Simpati orang-orang pun mengalir kepadanya yang kemudian mengakhiri keserbakekurangan dalam hidupnya. Nila dan Feri kini hidup berkecukupan dari orang-orang kaya yang berbagi rezeki dengan mereka.

Meski mungkin apa yang mereka terima tidak secara langsung dari usaha keras mereka, tetapi memang, anugerah Allah datang dari pintu-pintu yang tidak terduga. Dan walaupun kesulitan mereka telah terganti, kesadaran mereka tetap tidak berakhir.

Kejutan-kejutan hidup yang terkadang tiba-tiba menimpa kita memang tidak seharusnya kita ratapi, apalagi disesali. Sebab, kenikmatan- kenikmatan Allah yang banyak, seringkali baru terasa ketika kejutan-kejutan itu datang. Misalnya, ketika kita selalu berada dalam keadaan sehat, maka kita tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa musibah dan kesusahan, dan kita tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang kita peroleh. Kejutan sakit itulah yang akan menyadarkan kita betapa perihnya ditimpa musibah.

Sebab itu, orang yang yang sedang ditimpa penyakit tidak perlu dicekam rasa takut, karena sesungguhnya di balik sakit itu terdapat hikmah dan pelajaran bagi siapa saja yang mau memikirkannya. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, ”Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”

Musibah dapat menyebabkan seorang manusia berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakal dan ikhlas dalam memohon kepada Allah Swt, sehingga ia akan merasakan manisnya iman lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita, sebagaimana dirasakan Nabi Ayub As, ”Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru Tuhannya (Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)

Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang manusia menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah, Menikmati Hidup Mengingat Maut 195 dan menjauhkan diri dari kesesatan. Amat ba-nyak pula orang yang setelah ditimpa sakit ia mulai bertanya persoalan agamanya, mulai mengerjakan shalat dan berbuat kebaikan, yang kesemuanya tidak pernah ia lakukan sebelum menderita sakit. Sakit yang memunculkan ketaatan-ketaatan seperti itu, pada hakikatnya merupakan kenikmatan baginya.

Apabila manusia selama hidupnya tidak pernah ditimpa musibah, biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya, dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Namun ketika ia ditimpa musibah, dikejutkan oleh sebuah kejadian, ia akan sadar bahwa ternyata ia tidak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya, tak kuasa melakukan suatu pembelaan untuk dirinya. Demikian pula orang lain, tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia? Itulah buah dari sebuah kesadaran, meskipun harus bangkit karena kejutan yang mengguncang.

Jeritan Sebelum Kematian
Musa bin Sima’ berkata bahwa Musa bin Muhammad bin Sulaiman al-Hasymi sudah kaya sejak dilahirkan. Dia suka hidup mewah. Kesukaannya adalah para gadis rupawan dan pemuda tampan. Tidak pernah ada duka dan kecemasan yang mengganggunya. Dia sendiri adalah seorang pemuda yang rupawan, tampan, laksana bulan. Dia memiliki semua fasilitas hidup. Penghasilan tahunannya tiga ratus ribu dirham. Tiga ribu dirham dia habiskan untuk hidup mewah setiap tahunnya. Dia mempunyai sebuah balkon yang tinggi di atas istananya dengan jendela-jendela yang menghadap ke jalanan sehingga dia dapat melihat orang yang berlalu-lalang. Di sisi lain istananya, banyak jendela terbuka yang menghadap ke taman, di mana dia dapat menikmati aroma wangi beragam-ragam bunga. Di taman itu dibangun sebuah kubah yang dibuat dari gading gajah yang dipasang dengan menggunakan paku perak dan ditaburi dengan lapisan batu permata.

Hasymi juga menggunakan sorban di kepala yang dihiasi batu permata. Teman-teman dan kerabatnya selalu tampak berkumpul di kubah itu dengan penuh hormat. Di depan selalu ada grup penari dan penyanyi wanita. Ketika ia ingin mendengarkan lagu-lagu, dia melayangkan pandangannya ke gitar dan segera para penyanyi bernyanyi di hadapannya. Ketika dia ingin menghentikannya, dia cukup memberi isyarat tangan, maka berhentilah pesta ria itu. Pesta itu biasanya berlangsung terus sampai larut malam sampai dia merasa mengantuk. Sewaktu di bawah pengaruh mabuk, dia menjadi kejam. Dia menangkap salah seorang gadis yang disukainya dan melakukan perzinaan dengan gadis itu sepanjang malam.

Di pagi hari, dia sibuk bermain catur. Sedih, cemas, kematian, dan penyakit orang lain tidak berpengaruh terhadapnya. Yang diketahuinya adalah bersuka-ria dan tertawa-tawa. Setiap hari farfumfarfum baru yang ada di manapun di zaman itu, dibawakan kepadanya. Selama dua puluh tahun dia menjalani hidup semacam ini, sampai pada suatu malam, ketika dia sedang sibuk bersenang-senang di istananya, tiba-tiba terdengar suara sangat indah yang amat berbeda dari suara para penyanyinya. Begitu mendengar suara itu, dia merasa gelisah. Lalu dia perintahkan gadis-gadis penyanyinya untuk berhenti, dan mulai mendengarkan suara itu. Untuk beberapa saat suara itu masih terdengar, tapi kemudian berhenti. Dia memerintahkan para pembantunya membawa kepadanya laki-laki yang bersuara indah itu. Para pembantunya buru-buru lari keluar ke arah dari mana suara itu datang. Yakni di sebuah masjid. Mereka mendapatkan seorang laki-laki sedang berdiri di pojok masjid sedang berbicara kepada Tuhannya. Dia tampak pucat dan lemah, lehernya kurus, bibirnya kering, rambutnya kotor, dan perutnya cekung. Dia mengenakan dua helai kain yang tidak dapat menutupi tubuhnya dengan sempurna. Segera saja mereka mengangkat dia dan membawanya kepada Hasymi yang sedang duduk di balkon. Mereka berkata, “Inilah laki-laki yang tuan dengar suaranya.” Dia bertanya kepada mereka, ”Dari mana kalian membawa dia kemari?” Mereka mengatakan bahwa laki-laki itu tadi ada di masjid. Dia sedang berdiri dengan membaca Al-Quran. Pemuda kaya itu bertanya kepada laki-laki itu, “Apa yang kamu baca?” Dia berkata, “a’udzu billahi” dan kemudian membacakan beberapa ayat Al-Quran dari surah Al-Muthaffifin (orang-orang yang curang): Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga). Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya). Laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim. (Yaitu) mata air yang minum daripadanya orangorang yang didekatkan kepada Allah. (QS. Al-Muthaffifin [83]: 22-28)

Jadi, orang-orang yang iri dengan kebaikan orang lain, pastilah juga rakus untuk hal-hal demikian (ingin sekali lebih banyak memperoleh berkah melalui amal baik. Begitu juga, kita harus saling berlomba-lomba dalam amal kebaikan itu supaya dapat memperoleh berkah-berkah itu). Dan khamr itu akan dicampur dengan air tasnim (jika sesuatu dicampur dengan anggur/khamr, dayanya semakin meningkat) dan tasnim adalah sebuah sumber air di surga yang darinya orang-orang yang dekat Allah minum. Mereka akan mendapat air murni dari sumber ini. Sedikit air akan dicampurkan dari sumber ini dengan khamr yang akan diberikan kepada orang-orang shalih). Setelah membacakan ayat ini, pemuda miskin itu berkata, “Wahai engkau yang tertipu, istanamu ini, balkon yang tinggi ini, dan karpet-karpet ini bukanlah bandingan.”

Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan, di atasnya terhampar permadani-permadani:

Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan.” (QS. Al- Ghasyiyah: 13)

Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat. (QS. Ar-Rahman [55]: 54)

Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadanipermadani yang indah. (QS. Ar-Rahman [55]: 76)

Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan (yang rasanya berbeda-beda). (QS. Ar-Rahman [55]: 52)