Buku Al Mawardi Prima hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Sehat Tanpa Obat: Upaya Hidup Sehat Dengan Aplikasi Rukun Islam

Sehat Tanpa Obat

Proses kerja, apalagi kerja kolektif, pastilah membutuhkan banyak unsur. Itu artinya banyak yang terlibat. Begitu juga dengan penerbitan buku ini, banyak orang yang terlibat dan berjasa sehingga dari sekadar ide, akhirnya mewujud dalam bentuk buku seperti yang sekarang ada di hadapan Pembaca.

Untuk itu, kami ingin berterima kasih kepada orang-orang yang ikut andil dalam penerbitan buku ini. Orang-orang yang kami cintai karena Allah, yang menyemangati kami dan menjadi motivasi serta inspirasi bagi kami. Mereka adalah orangtua kami tercinta, Ibu dan Ayah kami, suluh dan monumen kebajikan dalam hidup kami, semoga Allah merahmati mereka. Pasangan hidup kami, tempat kami melabuhkan cinta dan kasih sayang. Keturunan kami, harapan kami di masa depan. Kakak-kakak, adik-adik dan keluarga serta kerabat kami, yang doa mereka selalu kami harapkan.

Terima kasih kepada sejawat kami di Halimun Medical Centre, Jakarta; di RS Graha Medika; di RS Harapan Kita, Bank Indonesia, jamaah Masjid At-Taqwa, Kemanggisan, Jakarta Barat; Komunitas “Allah Sang Tabib” di jejaring Facebook. Juga kepada Mas Bagus, Mas Oling dan Rumah Pojok Meruya, terima kasih telah menemani diskusi selama proses penggarapan buku ini. Terima kasih banyak kepada Pak Evi Afrizal Sinaro dan seluruh staf Penerbit Al-Mawardi Prima, serta semua yang ikut men-support dan terlibat dalam penggarapan hingga penerbitan buku ini, yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu. Semoga Allah membalas kebaikan Anda semua.

Sekali lagi, semoga kehadiran buku ini bermanfaat bagi kita semua, dan menjadi ladang amal yang abadi bagi kami.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Briliantono M. Soenarwo, Dr. H. SpOT, MD. PhD, FICS, MBA / Muhammad Rusli Amin, KH, MA
Editor: Saefuddin Aman al-Damawy H.

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9789793862637
Terbit: Februari 2016, 315 Halaman

Ikhtisar

Proses kerja, apalagi kerja kolektif, pastilah membutuhkan banyak unsur. Itu artinya banyak yang terlibat. Begitu juga dengan penerbitan buku ini, banyak orang yang terlibat dan berjasa sehingga dari sekadar ide, akhirnya mewujud dalam bentuk buku seperti yang sekarang ada di hadapan Pembaca.

Untuk itu, kami ingin berterima kasih kepada orang-orang yang ikut andil dalam penerbitan buku ini. Orang-orang yang kami cintai karena Allah, yang menyemangati kami dan menjadi motivasi serta inspirasi bagi kami. Mereka adalah orangtua kami tercinta, Ibu dan Ayah kami, suluh dan monumen kebajikan dalam hidup kami, semoga Allah merahmati mereka. Pasangan hidup kami, tempat kami melabuhkan cinta dan kasih sayang. Keturunan kami, harapan kami di masa depan. Kakak-kakak, adik-adik dan keluarga serta kerabat kami, yang doa mereka selalu kami harapkan.

Terima kasih kepada sejawat kami di Halimun Medical Centre, Jakarta; di RS Graha Medika; di RS Harapan Kita, Bank Indonesia, jamaah Masjid At-Taqwa, Kemanggisan, Jakarta Barat; Komunitas “Allah Sang Tabib” di jejaring Facebook. Juga kepada Mas Bagus, Mas Oling dan Rumah Pojok Meruya, terima kasih telah menemani diskusi selama proses penggarapan buku ini. Terima kasih banyak kepada Pak Evi Afrizal Sinaro dan seluruh staf Penerbit Al-Mawardi Prima, serta semua yang ikut men-support dan terlibat dalam penggarapan hingga penerbitan buku ini, yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu. Semoga Allah membalas kebaikan Anda semua.

Sekali lagi, semoga kehadiran buku ini bermanfaat bagi kita semua, dan menjadi ladang amal yang abadi bagi kami.

Pendahuluan / Prolog

Pendahuluan
Allah swt berfirman dalam Surat al-Maidah ayat 48: “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

Aturan dan jalan yang terang yang diberikan Allah disebut Syariat atau Manhaj, yaitu sebuah kesatuan sistem hidup yang diatur oleh Allah Swt dan disampaikan oleh Rasulullah Saw melalui Al-Qur’anul Karim dan Al-Haditsusy Syarif. Untuk apa Allah memberikan Syariat dan Manhaj Islam? Allah menghendaki agar manusia bisa menjalankan misi dan visi hidupnya, bisa meraih yang dicita-citakannya, dan bisa memperoleh apa yang diharapkannya, berangkat dengan selamat dan kembali dengan selamat, dan akhirnya bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

Satu di antara sekian banyak faktor penunjang bahagia adalah kesehatan. Bagaimana mungkin kita bisa menikmati indahnya dunia kalau hidup sakit-sakitan. Sebab, kalau badan sudah sakit, senikmat dan semahal apa pun hidangan yang disantap tidak terasa nikmatnya. Bagaimana mungkin kita bisa hidup tenang dan nyaman kalau batin dan ruhani kita berpenyakit, dihinggapi virus ketakutan dan kegelisahan. Untuk bisa hidup sehat jasmani dan ruhani sebenarnya sangat murah (Baca Buku ALLAH SANG TABIB, Penulis DR. Briliantono M. Soenarwo). Bahkan Allah SWT telah memberikan petunjuk sehat jasmani dan ruhani satu paket dengan Syariat-Nya. Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji adalah Syariat Allah, yang menjadi rukun Islam. Dengan mengaplikasikan Rukun Islam, kita akan SEHAT TANPA OBAT. Baca dan amalkan buku ini, Anda akan merasakan hasilnya.

Kepada Bapak DR. H. Briliantono M. Soenarwo, SpOT dan KH. Muhammad Rusli Amin, MA., penulis buku ini, Penerbit Al-Mawardi mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas karya tulisnya yang sangat penting bagi kehidupan umat, khususnya dalam upaya memberikan pemahaman Syariat Islam dari sisi disiplin ilmu kesehatan/kedokteran. Semoga kita dan semua pembaca memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Amin.

Daftar Isi

Sampul
Penghargaan Dan Ucapan Terima Kasih
Daftar Isi
Pengantar penerbit
Pengantar Penulis
Bab I - Manusia Makhluk Yang Gelisah
1. Proses Penciptaan Manusia
     a. Perkembangan Embriologi Sejak Abad 17 Sampai Sekarang
     b. Perjalanan Sel Telur dan Perjumpaannya dengan Sperma
     c. Perjalanan Zigot Sampai ke Rahim dan Menjadi Janin
2. Mengenal Tubuh dan Diri Manusia Secara Utuh
     a. Ciri-Ciri Fisik Manusia
     b. Ciri-Ciri Mental
3. Di Tengah-Tengah Titik Ekstrem
4. Tentang Hati, Jiwa Dan Ruh
     a. Hati (Qalb)
     b. Jiwa (Nafs)
          An-Nafs al-Ammarah
          An-Nafs al-Lawwamah
          An-Nafs al-Muthmainnah
     c. Ruh
5. Kegelisahan Manusia adalah Fitrah?
6. Mengatasi Hati yang Gelisah akibat Perbuatan
7. Manusia Mempersepsi Peristiwa
Bab II - Sehat Dengan Rukun Islam
1. Syahadat Sebagai Terapi
     Syahadat Tauhid
     Syahadat Rasul
     Syahadat Bagi Kesehatan Jiwa dan Raga
2. Menyembuhkan Dengan Keimanan
     Keimanan Sebagai Terapi
     Ujian Sebagai Terapi
     Sang Penyembuh Adalah Allah
     Bersikap Optimis & Berbaik Sangka Kepada Allah
3. Shalat Sebagai Terapi
a. Untuk Apa Kita Beribadah?
b. Makna Filosofis Adzan dan Wudhu
c. Benarkah Wudhu Bisa Membuat Orang Sehat?
d. Kaitan Wudhu dan Kesehatan
     Mencuci Dua Telapak Tangan
     Berkumur-Kumur
     Membersihkan Hidung & Lubang Hidung
     Membasuh Wajah
     Membasuh Dua Tangan Sampai ke Siku
     Menyapu Kepala
     Mengusap Dua Telinga
     Menyapu Dua Kaki Sampai ke Mata Kaki
e. Shalat Sebagai Gaya Hidup
f. Shalat: “Yoga” yang paling menyenangkan
g. Makna Filosofis Shalat: Dari Takbiratul Ihram Sampai Salam
h. Shalat & Gerak Alam Semesta
i. Gerak Dalam Perspektif Islam
j. Gerakan Shalat
k. Gerakan Shalat & Kaitannya Dengan Kesehatan Jasmani
     Berdiri Tegak
     Takbiratul Ihram
     Meletakkan Tangan Kanan di atas Tangan Kiri
     Rukuk
     I’tidal atau Bangun Dari Rukuk
     Sujud
     Duduk Iftirasy & Tawaruk
     Bangkit Dari Sujud
     Gerakan Salam
l. Peran Shalat Dalam Penyembuhan
m. Waktu-Waktu Shalat dan “Rahasianya”
     Syuruq
     Zhuhur
     Ashar
     Maghrib
     ‘Isya
     Shubuh
n. Waktu Shalat dan Kaitannya dengan Pengobatan China
     Shalat Zhuhur untuk Terapi Jantung dan Usus Kecil
     Shalat Ashar untuk Terapi Kandung Kemih
     Shalat Maghrib untuk Terapi Ginjal
     Shalat ‘Isya untuk Terapi Perikardium dan Triple Burner
     Shalat Subuh untuk Terapi Paru-Paru
o. Keistimewaan Shalat Ashar dan Subuh
p. Imsak
q. Shalat Dikaitkan dengan Gelombang Otak
     Gelombang Beta (12 sampai 19 hz)
     Gelombang Alpha (8 sampai dengan 12 hz)
     Gelombang Theta (4 sampai dengan 8 hz)
     Gelombang Delta (0,5 sampai dengan 4 hz)
     Gelombang Gamma (19 sampai 100 hz)
r. Shalat Khusyuk
s. Kiat Sederhana menuju Khusyukan
t. Menghadirkan Hati Dalam Shalat
u. Mi’raj Orang-Orang yang Beriman
v. Aspek Sosial Shalat
w. Istirahat dengan Shalat
x. Mengobati Kecemasan Dengan Shalat
y. Sehat Sosial dengan Shalat
z. Kata Pakar Tentang Shalat
4. Zakat Sebagai Terapi
     Mengapa Berat Mengeluarkan Zakat?
     Dampak Sosial Zakat
     Zakat dan Kesehatan Jasmani
     Pendusta Agama
     Membebaskan Diri Dari Kekikiran
     Etika Dalam Mengeluarkan Zakat, Infak dan Shadaqah (ZIS)
     Memberi dan Menerima Sebagai Hukum Kehidupan
5. Puasa Sebagai Terapi
     Tujuan Akhir Puasa
     Pelajaran dari Rasa Lapar & Dahaga
     Menahan yang Halal
     Berpuasalah, Maka Kita akan Sehat
     Puasa & Kaitannya dengan Kesehatan Jasmani
     Puasa Meningkatkan Kesehatan Jiwa
     Aspek Sosial Puasa
6. Ritual Haji Sebagai Terapi
     Dimulai dari Miqat
     Ihram menanggalkan status sosial
     Arafah tempat instrospeksi
     Muzdalifah, ambil senjatamu!
     Mina, Jumrah… lawan musuhmu!
     Tahallul dan berkorban, merayakan kemenangan
     Thawaf, sebuah orkestrasi mistis
     Maqam Ibrahim, bercermin pada jejak sejarah
     Sa’i, kekuatan upaya seorang wanita
     Haji & Kesehatan Jasmani!
Daftar Pustaka

Kutipan

Bab II
Islam dibina atau dibangun di atas lima pondasi pokok atau lima pembina, yang kita kenal dengan istilah Rukun Islam. Istilah “rukun” ada yang mempermasalahkan, dianggap tidak tepat, karena secara bahasa rukun berarti sudut. Mudah-mudahan nanti akan ada orang yang menulis buku untuk menjelaskan ketidaktepatan istilah “rukun” Islam, menawarkan istilah penggantinya yang lebih tepat dan menyosialisasikan istilah itu kepada umat Islam.

Tapi kami tidak ingin berpanjang kalam dalam soal ini, karena tujuan tulisan ini bukan meneliti terminologi agama secara etimologis. Lagi pula, kami bukan orang yang tepat untuk membahas istilah agama dari sudut gramatikal atau tata bahasanya. Jadi, kalau kami gunakan istilah Rukun Islam, itu karena istilah ini sudah lama diterima secara luas oleh umat Islam dan lebih populer. Sesungguhnya tulisan ini bertujuan ingin menjelaskan bahwa “rukun” Islam itu, bila dihayati dan kemudian diamalkan dalam hidup keseharian, bisa membuat hidup kita sehat lahir dan batin. Sehat fisik, psikis, akal dan spiritual. Itu saja.

Yang membina dan membangun Islam menjadi sebuah bangunan utuh adalah;

1. Mengucapkan dua kalimat Syahadat, 2. Menegakkan shalat, 3. Menunaikan zakat, 4. Melaksanakan puasa, 5. Menunaikan ibadah haji, bagi yang mampu.

Dengan redaksi yang berbeda, Imam Bukhari mencatat dalam Shahih-nya perkataan yang berasal dari Ibnu Umar ra (yang juga dishahihkan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani) bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Islam dibangun di atas lima dasar; 1). Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah, 2). Menegakkan shalat, 3). Membayar zakat, 4). Haji, dan 5). Puasa pada bulan Ramadhan.”

Tidak ada satu pun agama di dunia ini yang dengan sangat jelas dan gamblang menyatakan bahwa agama itu dibangun di atas beberapa buah pondasi yang kokoh, kecuali -agama- Islam. Dan yang mengucapkan penegasan itu adalah Muhammad Saw, Rasul Allah, yang menjadi pembawa agama itu. Penting untuk diketahui bahwa Nabi Muhammad Saw tidak pernah mengatakan sesuatu, apalagi dalam masalah agama, atas kemauan beliau sendiri, kecuali itu merupakan wahyu dari Allah kepada beliau.

“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (Qs. Al-An’aam [6]: 50)

Penegasan ini menjadi bukti bahwa Islam adalah “agama” yang memang diberikan Allah kepada manusia, agar mereka tidak tersesat dalam menempuh jalan kehidupan. Setelah keterangan ini, sesungguhnya tidak ada alasan lagi manusia, ketika nanti di akhirat mereka ditanya tentang Islam oleh Allah, lalu mereka menjawab, “Kami tidak tahu, ya Allah….”

Bagaimana mungkin mereka tidak tahu, padahal semua ke-mudahan teknologi memanjakan mereka dan mereka sangat mudah kalau ingin mengenal Islam lebih dekat. Kita bisa mencari informasi tentang banyak hal, termasuk agama, dari internet, misalnya. Jangankan soal agama, soal yang remeh dan sepele saja ada.

Sungguh, Allah telah membina atau membangun Islam dengan landasan pokok yang sangat kuat lagi kokoh, saling kait-mengait, sehingga yang satu tidak bisa menafikan atau menolak yang lain. Dalam hidup keseharian, mungkin kita sudah menerapkan “rukun” Islam itu. Tapi dia hanya berhenti sampai di hafalan belaka, sehingga tidak terasa dampaknya. Padahal, tidak mungkin Allah, melalui Rasulullah Saw, menurunkan sesuatu untuk manusia tapi sesuatu itu tidak mempunyai dampak yang positif, yang membawa kebaikan. Kebaikan untuk umat Islam, juga untuk lingkungannya. Karena “watak” atau karakter dasar dari Islam adalah rahmat, keberkahan, keselamatan, kedamaian dan keadilan bagi semua makhluk dan alam sekitarnya.