Catatan Hati Sang Bunda: Peran Ibu Dalam Membangun Karakter Bangsa

Eceran Digital
Rp. 12,000
Pratinjau

Catatan Hati Sang Bunda

Indahnya dunia ini tergantung pada ibu. Ibu adalah manusia yang luar biasa. Dia bisa tampil menjadi manusia yang serba bisa. Di musim dingin bisa menjadi selimut. Di musim panas bisa menjadi payung. Di musim kering bisa menjadi air penyejuk. Di musim angin bisa menjadi tempat berteduh. Suami yang galak bisa menjadi lembut, sebaliknya suami yang lembut bisa berubah menjadi ganas. Suami naik jabatan karena dorongan ibu, sebaliknya suami tertimpa kasus juga bisa disebabkan ibu.

Ibu, dialah manusia yang sangat ajaib. Dia akan menjadi manusia sempurna manakala mampu mengemban amanah Allah. Yaitu menjadi guru bagi anak-anaknya, menjadi pengasuh bagi keluarga, menjadi pendamping bagi suami dan mengatur kesejahteraan rumah tangga. Dia adalah mentor dan motivator. Kata-katanya mampu menggelorakan semangat. Nasihatnya mampu meredam ledakan amarah. Tangisnya mampu menggetarkan arasy Allah. Doanya tembus sampai langit ke tujuh. Di tangannya rezeki yang sedikit bisa menjadi banyak, dan di tangannya pula penghasilan yang banyak tidak berarti apa-apa, kurang dan terus kurang. Dialah yang mempunyai peran sangat penting dalam menciptakan generasi masa depan.

Begitulah setidaknya harapan yang disampaikan oleh Ibu Hajjah Suryati Armaiyn kepada para ibu. Maka melalui buku ini, beliau sampaikan nasihat-nasihat tentang peran ibu dalam membangun karakter bangsa. Semoga dengan buku ini, paling tidak ibu-ibu tahu dan sadar atas tanggung jawabnya, baik terhadap diri sen-diri, kepada suami, kepada anak, kepada masyarakat dan lingkungannya. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Hajjah Suryati Armaiyn
Editor: Muhammad Rusli Amin, Al-Ustadz H. MA

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9789793862781
Terbit: Februari 2016, 163 Halaman
Edisi digital buku ini hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Ikhtisar

Indahnya dunia ini tergantung pada ibu. Ibu adalah manusia yang luar biasa. Dia bisa tampil menjadi manusia yang serba bisa. Di musim dingin bisa menjadi selimut. Di musim panas bisa menjadi payung. Di musim kering bisa menjadi air penyejuk. Di musim angin bisa menjadi tempat berteduh. Suami yang galak bisa menjadi lembut, sebaliknya suami yang lembut bisa berubah menjadi ganas. Suami naik jabatan karena dorongan ibu, sebaliknya suami tertimpa kasus juga bisa disebabkan ibu.

Ibu, dialah manusia yang sangat ajaib. Dia akan menjadi manusia sempurna manakala mampu mengemban amanah Allah. Yaitu menjadi guru bagi anak-anaknya, menjadi pengasuh bagi keluarga, menjadi pendamping bagi suami dan mengatur kesejahteraan rumah tangga. Dia adalah mentor dan motivator. Kata-katanya mampu menggelorakan semangat. Nasihatnya mampu meredam ledakan amarah. Tangisnya mampu menggetarkan arasy Allah. Doanya tembus sampai langit ke tujuh. Di tangannya rezeki yang sedikit bisa menjadi banyak, dan di tangannya pula penghasilan yang banyak tidak berarti apa-apa, kurang dan terus kurang. Dialah yang mempunyai peran sangat penting dalam menciptakan generasi masa depan.

Begitulah setidaknya harapan yang disampaikan oleh Ibu Hajjah Suryati Armaiyn kepada para ibu. Maka melalui buku ini, beliau sampaikan nasihat-nasihat tentang peran ibu dalam membangun karakter bangsa. Semoga dengan buku ini, paling tidak ibu-ibu tahu dan sadar atas tanggung jawabnya, baik terhadap diri sen-diri, kepada suami, kepada anak, kepada masyarakat dan lingkungannya. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

Pendahuluan / Prolog

Pengantar
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pertama-tama saya panjatkan rasa syukur sedalam-dalamnya kepada Allah Swt, karena dengan kehendak dan izin-Nya, saya memperoleh kesempatan dan diberi kemampuan, untuk menyunting buku yang berisi nasihat-nasihat Bunda Hajjah Suryati Armaiyn, istri dari Bapak Gubernur Provinsi Maluku Utara, yaitu Bapak H. Thaib Armaiyn. Buku ini diberi judul, “Catatan Hati Sang Bunda.”

Segala puji bagi Allah, karena saya mendapatkan kesempatan banyak kali bisa bertemu dengan Bapak H. Thaib Armaiyn dan Ibu Hajjah Suryati Armaiyn, baik dalam acara-acara yang bersifat formal, maupun pada suasana kekeluargaan di kediaman Bapak Gubernur, apakah dalam rangka silaturrahim, ataupun karena ada acara-acara tertentu di kediaman beliau. Saya selalu memposisikan diri sebagai seorang anak terhadap orang tua, di samping sebagai seorang warga Maluku Utara terhadap gubernurnya.

Dan dalam berbagai kesempatan pertemuan dan kebersamaan itu, baik yang formal maupun yang tidak formal, saya sangat sering mendengarkan nasihat-nasihat, petuah-petuah, bahkan keteladanan-keteladanan, yang secara tekun dan seksama saya dengar dan saya resapi.

Seiring berlalunya waktu, saya berpikir alangkah baiknya apabila nasihat-nasihat yang baik dari Bunda Hajjah Suryati Armaiyn itu saya jabarkan dan saya himpun menjadi sebuah buku, agar manfaatnya bisa dirasakan terutama untuk anak-anak, generasi muda, dan juga kaum wanita, bahkan untuk seluruh masyarakat.

Pada suatu hari di bulan Juli 2010, saya berkesempatan bersilaturrahim di kediaman Bapak Gubernur di kota Ternate, dan ketika berjumpa dengan Bunda Hajjah Suryati Armaiyn di kediaman beliau, yang kebe-tulan ketika itu juga ada Bapak Gubernur, sayapun menyampaikan dan meminta izin serta restu beliau berdua, kiranya mengizinkan saya menghimpun nasihat-nasihat Bunda Hajjah Suryati Armaiyn dalam sebuah buku, dan Alhamdulillah, beliau setuju, memberi izin, maka sayapun melaksanakannya.

Dan inilah hasilnya, sebuah buku yang berisi nasihat-nasihat dari Bunda Hajjah Suryati Armaiyn, yang secara khusus saya dedikasikan sebagai tanda terima kasih saya atas kebaikan-kebaikan yang telah diberikan Bapak Gubernur dan Bunda Hajjah Suryati Armaiyn kepada saya selama ini.

Ya, karena sebagaimana tuntunan Nabi Muhammad Saw, “Jika ada seseorang yang berbuat baik kepadamu, maka balaslah sebagaimana kebaikan yang telah diberikannya kepadamu. Jika engkau tidak bisa membalasnya, maka doakanlah orang yang telah berbuat baik kepada-mu itu.”

Lebih dari itu, kiranya kehadiran buku ini bisa memberikan manfaat kepada siapa saja yang sempat membacanya, terutama adik-adik generasi muda di Maluku Utara, kaum wanita, ibu-ibu rumah tangga, dan seluruh masyarakat.

Akhirnya, perkenankan saya menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada yang terhormat Bapak Haji Thaib Armaiyn, Gubernur Provinsi Maluku Utara, Bunda Hajjah Suryati Armaiyn, Ibu Nurlaila Armaiyn, SH. M.Si., Ibu Dr. Vaya Amelia Armaiyn, SE. M.Si., H. Auli Armaiyn, Ibu Ida Muhajir Albaar, Bapak H. Yunus Namsa, M.Si, Ibu H. Zubaidah H. Hayat. Juga terima kasih pada Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Pemprov Maluku Utara, Ibu Hajjah Masni.

Terima kasih juga kepada Bapak H. Evi Afrizal Sinaro sebagai Direktur Utama PT. Al-Mawardi Prima Jakarta, Bapak Alfian Wakanubun, Bapak Dade, Ibu Saleha Westplat, Ibu Sarbanun Talabuddin, Bapak Munawar, dan semua pihak yang telah membantu, hingga terealisasinya penulisan buku ini, yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu demi satu. Semoga Allah Swt membalas semua kebaikan yang telah diberikan pada saya, dengan pahala yang berlipat ganda. Amien ya Allah amien.

Daftar Isi

Sampul
Pengantar Penerbit
Pengantar Penyunting
Daftar Isi
     Wanita Itu Tiang Negara
     Sukses Dalam Karir Dan Keluarga
     Ibu Adalah Pendidik Pertama Dan Utama Bagi Anak
     Peran Istri Di Balik Keberhasilan Suami
     Keluarga Idaman
     Jadilah Keluarga Yang Beriman Dan Bertakwa
     Jadilah Teladan Bagi Anak-anak Kita
     Membangun Komunikasi Dalam Keluarga
     Bersikap Rendah Hati Terhadap Keluarga
     Jadilah Hiasan Dunia Terindah
     Janganlah Stres Hanya Karena Hal-hal Kecil
     Hemat Pangkal Kaya
     Tabah Menghadapi Cobaan Hidup
     Janganlah Membebani Suami Di Luar Batas Kemampuannya
     Ilmu Pengetahuan Sebagai Bekal Masa Depan Anak
     Membangun Moral Bangsa Dimulai Dari Keluarga
     Berbuat Baiklah Pada Tetangga
     Tingkatkan Kesetiakawanan Sosial
     Jalanilah Hidup Secara Seimbang
     Jadilah Wanita Bahagia
     Biodata Singkat HAjjah Suryati Armaiyn

Kutipan

Ibu Adalah Pendidik Pertama Dan Utama Bagi Anak
Sebagai seorang ibu, tentu kita sangat menyadari atas kodrat kita yang harus mengandung, melahirkan dan membesarkan anak kita. Keadaan yang demikian ini membuat terjalinnya hubungan emosional yang sangat dekat antara seorang anak dengan ibunya, karena tahap-tahap keberadaannya bersama sang ibu, mulai ketika ia berada di dalam kandungan ibunya, ketika sang ibu melahirkannya, kemudian menyusui dan seterusnya.

Boleh jadi juga waktu kebersamaan anak dengan sang ibu yang lebih banyak dibandingkan kebersamaannya dengan sang ayah, karena kewajiban seorang ayah mencari nafkah untuk keluarganya, sehingga menuntut ia harus berada di luar rumah lebih banyak, jika dibandingkan dengan keberadaannya di rumah bersama keluarga.

Hubungan emosional dan faktor keberadaan seorang ibu bersama anaknya yang lebih banyak itu, membuat seorang ibu juga harus berperan sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Apalagi kita menyadari, bahwa pendidikan bagi anak-anak, bukanlah baru dimulai ketika ia bersekolah secara formal, akan tetapi jauh sebelum itu, bahkan pendidikan anak telah dimulai sejak anak masih berada di dalam kandungan ibunya.

Dan ketika sang anak telah bersekolah secara formal pun, tentu keberadaannya sehari-hari masih lebih lama atau lebih banyak di rumah daripada di sekolah. Apalagi, ayah dan ibu tidak bisa lepas tangan begitu saja, ketika anak telah sekolah, dan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab mendidik anak terhadap guru di sekolah. Tidak bisa demikian.

Setiap ibu dan juga ayah hendaklah menyadari bahwa sesungguhnya mendidik anak telah dimulai sejak sang anak masih berada dalam kandungan ibu. Upaya mendidik anak di dalam kandungan ibu adalah melalui sikap dan perilaku ibu yang ditampilkan sehari-hari, dan juga apa yang dimakan dan diminum sang ibu selama me-ngandung anak.

Karena itu, berusahalah semaksimal mungkin untuk bersikap dan bertingkah laku yang baik selama masa kehamilan, seperti selalu berkata jujur dan menjauhi kebohongan atau dusta. Bersikaplah sabar dan jangan suka marah. Bersikap lemah-lembutlah dan hindari kekasaran. Bersikap pemurah dan hindari kekikiran, dan seterusnya.

Sikap dan perilaku seorang ibu selama masa kehamil-an, akan mempengaruhi kepribadian anak yang kelak dilahirkannya. Perilaku baik atau terpuji dari seorang ibu selama mengandung anak, akan memberi pengaruh positif terhadap perilaku anak yang sedang dikandungnya, sebaliknya perilaku buruk atau tercela dari seorang ibu selama masa kehamilan, akan memberi pengaruh buruk atau negatif terhadap pembentukan kepribadian anak.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka seorang suami atau ayah juga harus turut berperan secara positif, yaitu dengan membantu bagi terciptanya suasana kehidupan di dalam rumah yang baik dan harmonis. Penciptaan suasana yang membantu dan mendorong agar sang ibu yang sedang mengandung, lebih condong bersikap dan berperilaku baik dan terpuji. Misalnya, suami membantu de-ngan memperlihatkan sikap lembut, agar istri juga lembut, tidak memperlihatkan sikap atau tindakan yang membuat istri mudah marah dan sering marah, akan tetapi bersikap dan bertindak yang mendorong istri menjadi penyabar, dan sebagainya.

Selanjutnya, apabila sang anak telah lahir, dan terutama ketika ia telah memiliki pemahaman atas apa-apa yang dilihat, didengar dan dirasakan dari lingkungan terdekatnya, yaitu ayah dan ibunya, di mana apa-apa yang dilihat,didengar dan dirasakannya itu bisa mempengaruhi kepri-badiannya, sebab ia cenderung akan mencontohi perilaku dari kedua orang tua, yang paling dekat dengannya, dan setiap saat berinteraksi dengannya.

Dengan kata lain, jika anak kita suka bersikap kasar pada orang lain, maka boleh jadi sikap kasar itu ia peroleh, ia pelajari dan ia contohi dari orang tuanya di rumah. Jika anak kita suka bersikap lemah-lembut terhadap orang lain, maka boleh jadi, sikap lemah-lembut itu ia peroleh, ia pelajari dan ia contohi dari orang tuanya di rumah. Jika anak kita suka berbohong, maka boleh jadi perilaku bohong itu ia peroleh, ia pelajari dan ia contohi dari orang tuanya di rumah. Sebaliknya, jika anak kita suka berkata jujur, maka boleh jadi perilaku jujur itu ia peroleh, ia pelajari dan ia contohi dari orang tuanya di rumah, dan seterusnya.