Kisah Pecinta Doa: Tuhan, Aku Cinta Pada-Mu

Eceran Digital
Rp. 20,760
Pratinjau

Kisah Pecinta Doa

Tuhan....., Dalam hiruk pikuk dan pengapnya rutinitas dunia yang harus kutaklukkan di mana sebaiknya Engkau kutempatkan?

Kehidupan memang senantiasa menyuguhkan keindahan yang sukar dimaknai tanpa merundukkan hati dan berusaha agar selalu dekat dengan-Nya. Beragam peristiwa hidup di paruh usia yang tidak lagi muda, buat saya yang hina papa di mata Sang Pencipta ini, selalu saja menghadirkan cerita yang tak pernah mampu saya prediksi apalagi saya akali. Tuhan memang memiliki ‘selera humor yang aneh.

Dalam suatu masa, di mana tidak ada lagi kemampuan diri berikhtiar, saya memaksakan diri melatih otot-otot yang kaku dengan membersihkan lemari buku tua peninggalan almarhum bapak tercinta (di mana salah satu harta duniawi yang saya miliki–buku–tersimpan apik berbalut sampul plastik dan berstempel ‘private library’), saya menemukan sebuah puisi indah, kisah seorang pendoa, yang kemudian menginspirasi saya menulis buku ini, terselip dalam himpitan puluhan judul buku, tercetak di atas kertas berwarna kekuning-kuningan (dulunya pasti kertas ini berwarna putih dan waktu telah mengubahnya) tanpa menyebutkan siapa penulisnya.

Duhai...., Siapa engkau yang sudah melahirkan kembali sikap positifku? semoga Tuhan mencintaimu, seperti engkau telah menulis puisi indah tentang mencintai Tuhan dan kekuatan doa Amien.

Ikhtisar Lengkap   

Editor: Tim AMP Press

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9786029247015
Terbit: Februari 2016, 189 Halaman
Edisi digital buku ini hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Ikhtisar

Tuhan....., Dalam hiruk pikuk dan pengapnya rutinitas dunia yang harus kutaklukkan di mana sebaiknya Engkau kutempatkan?

Kehidupan memang senantiasa menyuguhkan keindahan yang sukar dimaknai tanpa merundukkan hati dan berusaha agar selalu dekat dengan-Nya. Beragam peristiwa hidup di paruh usia yang tidak lagi muda, buat saya yang hina papa di mata Sang Pencipta ini, selalu saja menghadirkan cerita yang tak pernah mampu saya prediksi apalagi saya akali. Tuhan memang memiliki ‘selera humor yang aneh.

Dalam suatu masa, di mana tidak ada lagi kemampuan diri berikhtiar, saya memaksakan diri melatih otot-otot yang kaku dengan membersihkan lemari buku tua peninggalan almarhum bapak tercinta (di mana salah satu harta duniawi yang saya miliki–buku–tersimpan apik berbalut sampul plastik dan berstempel ‘private library’), saya menemukan sebuah puisi indah, kisah seorang pendoa, yang kemudian menginspirasi saya menulis buku ini, terselip dalam himpitan puluhan judul buku, tercetak di atas kertas berwarna kekuning-kuningan (dulunya pasti kertas ini berwarna putih dan waktu telah mengubahnya) tanpa menyebutkan siapa penulisnya.

Duhai...., Siapa engkau yang sudah melahirkan kembali sikap positifku? semoga Tuhan mencintaimu, seperti engkau telah menulis puisi indah tentang mencintai Tuhan dan kekuatan doa Amien.

Pendahuluan / Prolog

Prolog
Aku sungguh tidak mengerti mengapa Tuhan setega ini padaku? Sebagai hamba, kurang apa aku coba?

Rukun Islam 5 perkara, tuntas kujalani. Pertama. Membaca Dua Kalimat Syahadat. Aku muslim tidak sekadar keturunan dari nenek moyangku (yang konon) pendiri Kerajaan Islam di Jawa. Aku juga bukan Islam KTP. Aku menghayati makna Asyhadu Allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar-rasuulullaah sepenuh hati dan laku. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah SWT dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah SWT.

Walaupun kata orang aku ini secantik J-Lo, aku tidak ge-er. Bener!  Kata yang pertama kali keluar dari bibirku adalah ‘astaghfirullah’ ketika orang memujiku, dan pasti deh terus aku ditanya gini,“Koq istighfar sihhh...? Bukan malah bersyukur dan mengucapkan terima kasih.”

Padahal aku belum selesai ngomong. Pertama mengucap istighfar, aku mohon ampun pada Allah SWT karena dibilang cantik. Kedua terima kasih, dan akhirnya alhamdulillah. Coba kalau langsung kujawab sambil tersipu-sipu, seperti kebiasaan Jeng Sri, teman satu pengajian yang tidak akan melepas sunglass- nya bila eyeshadow belum sempat dilukis di kedua kelopak mata indahnya.

“Aduhhh.... duhh.., ah masa sihhh....,” sambil mencaricari cermin untuk melihat apakah tata rias wajah sudah perfect? Hehehe...., ketahuan deh kalau aku tuh menuhankan kecantikan dan terus mulai khawatir karena keriput mulai muncul di ujung mata, punggung tangan yang berbeda warna (lebih gelap) dari lengan (karena lebih asyik mengendarai si moge alias motor gede tanpa sarung tangan), mati-matian menjaga perut supaya tidak buncit dan lingkar pinggang tidak lebih dari 80 cm. Aih...aih...., Insya Allah, aku ketat menjaga regulasi keluarga. Allah SWT is number one (ONE and ONLY) dan Rasulullah SAW is number two.

Lagian khan juga Dia berfirman dalam surah Yaasiin [36] ayat 22: “Mengapa aku tidak akan menyembah Tuhan yang telah menciptakan aku, dan hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan.” Juga agar kita meneladani akhlak Rasulullah SAW seperti tercantum dalam surah Al-Ahzab [33] ayat 21: “Sungguh pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kamu.”

Daftar Isi

Sampul
Apa Kata Mereka?
Doa Penulis
Untaian Doa
Puisi - Kisah Pencinta Doa
Prolog - Tuhan, Capek Deeehhh....!
1. Doyan Susah Ketika Kumohon Pada Tuhan Kekuatan, Tuhan Memberiku Kesulitan Agar Aku Menjadi Kuat.
2. Apa ini Apa Itu Ketika Kumohon Pada Tuhan Kebijaksanaan, Tuhan Memberiku Masalah Untuk Kupecahkan.
3. Belajar Dari Situ Hajar Ketika Kumohon Pada Tuhan Kesejahteraan, Tuhan Memberiku Akal Untuk Berpikir.
4. Telunjuk Wasiat Kumohon Pada Tuhan Keberanian, Tuhan Memberiku Kondisi Bahaya Untuk Kuatasi.
5. Arti Persahabatan Kumohon Pada Tuhan Sebuah Cinta, Tuhan Memberiku Orang-Orang Bermasalah Untuk Kutolong.
6. Peluang Itu Datang Lagi ketika Kumohon Kepada Tuhan Bantuan, Tuhan Memberiku Kesempatan
Epilog - Meneladani Para Kekasih Tuhan
Si Pecinta Doa