Sehat Holistik Ala Rasulullah

Eceran Digital
Rp. 79,200
Pratinjau

Sehat Holistik Ala Rasulullah

Dalam kesempatan ini, izinkan kami mengucapkan terima kasih kepada mereka yang turut andil dan berjasa dalam penyusunan buku kami ini. Mereka adalah orang tua kami tercinta, yang selalu kami sebut dalam setiap untaian doa kami, semoga Allah merahmati mereka. Mengganti setiap butir keringat yang mereka keluarkan untuk merawat, mendidik dan membesarkan kami dengan pahala yang besar; surga yang penuh kenikmatan. Dan Allah limpahkan kasih sayang kepada mereka, sebagaimana mereka melimpahkan seluruh kasih sayang kepada kami, sejak kecil sampai sekarang ini.

Juga pasangan hidup kami tercinta, Niken Wulandari dan Sinta Widowati, tempat kami mendapatkan kehangatan kasih sayang, melabuhkan keletihan dan kepenatan hidup. Mereka adalah wanita-wanita mulia yang sabar, setia dan besar jiwa dalam mendampingi dan menjaga kehormatan kami. Kemudian anak-anak kami, “cahaya mata” kami. Generasi yang kami harap lebih baik dari kami dalam pemahaman dan dalam hal mempraktikkan Islam. Merekalah yang ingin kami wakafkan untuk agama, bangsa dan Negara kita tercinta ini. Terima kasih yang sangat kepada keluarga besar Bapak Soenarwo dan keluarga besar Bapak Soemarno (alm), yang senantiasa mendukung kami dengan penuh dalam segala hal.

Lalu terima kasih kepada semua keluarga, saudara, kerabat, sahabat dan teman, yang terus menyemangati kami, agar menyebarkan sedikit ilmu yang Allah amanahkan kepada kami untuk kemaslahatan umat. Terima kasih kepada: para dokter, staf dan karyawan Halimun Medical Centre, Jakarta, terutama Pak H. Kosim Anda, Bu Hj. Juju, dan Mbak Rahmah, senior-senior di HMC yang senantiasa menularkan kebajikan kepada para yunior-nya; Mas Bagus dan teman-teman Rumah Pojok Meruya yang setia “mengawal” semua aktivitas sosial kami; Guru, staf dan karyawan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Islam Alifa, Jakarta; para Ustadz, staf dan santrisantri Pondok Pesantren “Al-Quds,”Tangerang; para Guru, karyawan dan staf Yayasan Pendidikan Islam “Al-Iman,” Citayam.

Kemudian terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak H. Evi Afrizal Sinaro dan Ustadz H. Saifuddin Aman, Lc., serta staf Penerbit Al-Mawardi Prima yang selalu siap menghadirkan buku ketika kami mendadak membutuhkan; dan semua pihak yang tidak bisa kami sebut satu per satu.

Semoga Allah membalas dengan pahala setiap kebaikan yang kita lakukan dengan ikhlas karena Dia semata. Dan kepada Allah kita semua berserah diri, karena kepada-Nya kita akan kembali. Sekali lagi terima kasih.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Briliantono M. Soenarwo, Dr. H. SpOT, MD. PhD, FICS, MBA / Muhammad Rusli Amin, KH, MA
Editor: Dwi Bagus MB / Tim Al-Mawardi

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9789793862798
Terbit: Februari 2016, 298 Halaman
Edisi digital buku ini hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Ikhtisar

Dalam kesempatan ini, izinkan kami mengucapkan terima kasih kepada mereka yang turut andil dan berjasa dalam penyusunan buku kami ini. Mereka adalah orang tua kami tercinta, yang selalu kami sebut dalam setiap untaian doa kami, semoga Allah merahmati mereka. Mengganti setiap butir keringat yang mereka keluarkan untuk merawat, mendidik dan membesarkan kami dengan pahala yang besar; surga yang penuh kenikmatan. Dan Allah limpahkan kasih sayang kepada mereka, sebagaimana mereka melimpahkan seluruh kasih sayang kepada kami, sejak kecil sampai sekarang ini.

Juga pasangan hidup kami tercinta, Niken Wulandari dan Sinta Widowati, tempat kami mendapatkan kehangatan kasih sayang, melabuhkan keletihan dan kepenatan hidup. Mereka adalah wanita-wanita mulia yang sabar, setia dan besar jiwa dalam mendampingi dan menjaga kehormatan kami. Kemudian anak-anak kami, “cahaya mata” kami. Generasi yang kami harap lebih baik dari kami dalam pemahaman dan dalam hal mempraktikkan Islam. Merekalah yang ingin kami wakafkan untuk agama, bangsa dan Negara kita tercinta ini. Terima kasih yang sangat kepada keluarga besar Bapak Soenarwo dan keluarga besar Bapak Soemarno (alm), yang senantiasa mendukung kami dengan penuh dalam segala hal.

Lalu terima kasih kepada semua keluarga, saudara, kerabat, sahabat dan teman, yang terus menyemangati kami, agar menyebarkan sedikit ilmu yang Allah amanahkan kepada kami untuk kemaslahatan umat. Terima kasih kepada: para dokter, staf dan karyawan Halimun Medical Centre, Jakarta, terutama Pak H. Kosim Anda, Bu Hj. Juju, dan Mbak Rahmah, senior-senior di HMC yang senantiasa menularkan kebajikan kepada para yunior-nya; Mas Bagus dan teman-teman Rumah Pojok Meruya yang setia “mengawal” semua aktivitas sosial kami; Guru, staf dan karyawan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Islam Alifa, Jakarta; para Ustadz, staf dan santrisantri Pondok Pesantren “Al-Quds,”Tangerang; para Guru, karyawan dan staf Yayasan Pendidikan Islam “Al-Iman,” Citayam.

Kemudian terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak H. Evi Afrizal Sinaro dan Ustadz H. Saifuddin Aman, Lc., serta staf Penerbit Al-Mawardi Prima yang selalu siap menghadirkan buku ketika kami mendadak membutuhkan; dan semua pihak yang tidak bisa kami sebut satu per satu.

Semoga Allah membalas dengan pahala setiap kebaikan yang kita lakukan dengan ikhlas karena Dia semata. Dan kepada Allah kita semua berserah diri, karena kepada-Nya kita akan kembali. Sekali lagi terima kasih.

Pendahuluan / Prolog

Pendahuluan
Alhamdulillah, puji dan syukur kepada Allah dalam setiap nafas. Kami sungguh sangat bahagia bisa menghadirkan buku SEHAT HOLISTIK ALA RASULULLAH yang ditulis oleh dua orang ahli yang berbeda disiplin ilmu dan pekerjaan, yaitu: Dr. H. Briliantono M. Soenarwo SpOT, ahli bedah tulang, dan KH. Muhammad Rusli Amin MA, seorang mubaligh nasional. Yang satu menjelaskan dari sisi ilmu kedokteran modern (kedokteran timur dan barat), dan yang lain menjelaskan kedokteran Nabi berdasarkan nash syar’i Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw.

Karena itulah, maka buku ini menjadi sangat bermakna dan penting untuk dijadikan pedoman hidup sehat bagi siapa saja. Dari fakta lahiriah, yakni bukti-bukti kedokteran, buku ini menjelaskan syariat yang seharusnya dijalankan oleh setiap muslim. Dari dalil nash Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah yang mengandung kebenaran mutlak. Buku ini menunjukkan jalan mencapai hakikat dan makrifat. Bersatunya syariat, hakikat dan makrifat bagi seorang muslim, sungguh membuatnya semakin dekat kepada Allah dan menambah yakin akan kebesaran Allah, bahwa Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dialah Tuhan yang membuat hidup dan memberikan hidayah hidup. Barangsiapa yang mengikuti hidayah Allah dan menjalankan sunnah Rasulullah, dia dijamin hidup sehat dan selamat, bahagia dan sejahtera.

Kepada Bapak Dr. H. Briliantono M. Soenarwo, SpOT dan Bapak KH. Muhammad Rusli Amin, MA., kami sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Kepada pembaca dan semua pihak yang membantu beredarnya buku ini, kami ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Rahman mencurahkan rahmat- Nya kepada kita semua. Amin.

Daftar Isi

Sampul
Ucapan Terima Kasih
Daftar Isi
Pengantar Penerbit
Pengantar Penulis
Bab I - Akhir Zaman Memerlukan Seorang Nabi Yang Bersifat Universal
     Pengantar
     Ramalan Yang Digenapkan
     Siapa Rasul Yang Dijanjikan Itu?
     Ramalan Tentang Akan Datangnya Rasul Akhir Zaman Dalam Kitab Agama Terdahulu
     Benarkah Nabi Muhammad Saw Telah Diramalkan Kedatangannya?
     Berakhirnya Era Nabi Bangsa, Berganti Dengan Nabi Universal
     Nabi Muhammad Saw dan Nabi Ibrahim As
Bab II - Sejarah Singkat Nabi Muhammad Saw
     Sejarah Nabi Muhammad Saw Dalam Banyak Versi
     Yang Mula-Mula Menyusun Sejarah Perikehidupan Nabi Muhammad Saw
     Silsilah Nabi Muhammad Saw
     Makkah Sebelum Kenabian
     Masa Kecil Hingga Menjelang Kenabian
     Diangkat Menjadi Rasul Allah
     Misteri Ke-ummi-an Rasulullah Saw
     Berbagai Tekanan dan Boikot
     Hijrah Yang Dramatis
     Membangun Peradaban
     Madinah, Model “Negara Kota” Ideal
     Seruan Rasulullah Saw Kepada Para Penguasa
BAB III - Lebih Dekat Dengan Sang Nabi
Postur dan Pribadi Nabi Muhammad Saw
Akhlak Nabi Adalah Perwujudan Pengamalan Al-Qur’an
Keagungan Akhlak Nabi Muhammad Saw
     a. Iman Kepada Allah
     b. Ridha Terhadap Pemberian Allah
     c. Berorientasi Akhirat
     e. Menganggap Dunia Sebagai Ladang Amal Saleh
     f. Muhasabah Sebagai Alat Kontrol
     g. Tawakal Sebagai Pengakuan Kelemahan Di Hadapan Allah
     h. Menjadikan Silaturrahim Sebagai Kekuatan
Elaborasi Kemuliaan Akhlak Nabi
     a. Jujur
     b. Cerdas, Pintar Atau Pandai
     c. Adil
     d. Amanah
     e. Tanggung Jawab
     f. Dermawan
     g. Rendah hati
     h. Penyayang
     i. Bijaksana
     j. Berpikir Positif dan Optimis
     k. Sehat, Tidak Sakit-Sakitan
     l. Zuhud, Sederhana dan Bersahaja
     m. Humoris
     n. Motivator
     o. Istiqamah Atau Konsisten (Disiplin)
     p. Sabar
     q. Visioner
     r. Tidak merokok
     s. Mempunyai Rasa Malu
Elaborasi Cara Nabi Berpikir, Bersikap Dan Bertindak
Nabi Muhammad Saw Dari Menit Ke Menit
1. Nabi Menyambut Hari (antara pukul 03.00-04.00)
     a. Duduk Dan Mengusap Bekas Tempat Tidur
     b. Berdoa Kepada Allah ‘Azza Wa Jalla
     c. Mencuci Tangan Dan Membersihkan Atau Menggosok Gigi
     d. Melakukan (istinsyaq dan) Istinsyar
     e. Mandi
     f. Memakai Pakaian
     g. Menyisir Rambut Dan Berhias
     h. Memakai Minyak Wangi (Parfum)
     i. Qiyamul lail
     j. Tadarus Al-Qur’an Dan Atau Berbaring Ke Kanan
     k. Melangkah atau Berjalan Ke Masjid
     l. Shalat Subuh
     m. Olah Raga
2. Shalat Dhuha
3. Sarapan Pagi
4. Tidur Menjelang Zhuhur
5. Shalat Zhuhur
6. Makan Siang
Hikmah adab makan Rasulullah Saw:
7. Melanjutkan aktivitas
8. Shalat Ashar
9. Membentengi Diri Dengan Zikir Ketika Sore (juga pagi)
10. Menyambut Awal Malam Dengan Shalat Maghrib
11. Aktivitas Setelah Shalat Maghrib
12. Shalat Isya
13. Makan Malam
14. Nabi Tidur
     • Berwudhu
     • Berdoa
     • Membersihkan Tempat Tidur
     • Berbaring Ke Sebelah Kanan, Dan Menjadikan Tangan Kanan Sebagai bantal
     • Menutup wadah makanan dan tempat air minum
     • Mematikan api
     BAB IV - Model Sempurna
     A. Kemuliaan Akhlak NabiDalam Berbagai Peristiwa
          1. Akhlak Nabi dalam memperlakukan orang tua
          2. Akhlak Nabi Ketika BercengkeramaDengan Ummul Mukminin
          3. Akhlak Nabi Bersama Anak Dan Cucu Beliau
          4. Akhlak Nabi Dengan Pembantu
          5. Akhlak Nabi Dengan Tetangga
          6. Akhlak Nabi Bersama Para Sahabat
          7. Akhlak Nabi Sebagai Pemimpin Umat
          8. Akhlak Nabi Ketika Menjenguk Orang Sakit
          9. Akhlak Nabi Ketika Ta’ziyah (Melayat)Orang Yang Meninggal Dunia
          10. Akhlak Nabi Ketika Kehilangan Anggota Keluarga
          11. Akhlak Nabi Dalam Menerima Atau Mengundang Tamu
          12. Akhlak Nabi Ketika Bertamu
          13. Akhlak Nabi dalam menyelesaikan konflik
          14. Akhlak Nabi Dalam MenghadapiMasalah Rumah Tangga
          15. Akhlak Nabi Sebagai Guru
          16. Akhlak Nabi Dalam Berniaga
          17. Akhlak Nabi Sebagai Panglima Perang
          18. Akhlak Nabi Dalam Menyikapi Kemenangan
          19. Akhlak Nabi Dalam Menerima Kekalahan
          20. Akhlak Nabi Ketika Menghadapi Badai Fitnah
          21. Akhlak Nabi Dalam Berhubungan Dengan Non Muslim
Epilog:Muhammad Saw,Rasul Yang Paling Banyak Disalahpahami
Daftar Pustaka

Kutipan

Ramalan Yang Digenapan
Sejak zaman dahulu, ramalan tentang akan datangnya seorang manusia biasa “yang sempurna” telah menjadi wacana umum di seluruh penjuru bumi, dari semua kepercayaan dan agama. Wacana ini berkaitan dengan kerinduan akan terwujudnya keadilan, kedamaian, kesejahteraan, kemakmuran, kasih sayang, kebajikan, persamaan, toleransi, rasa hormat dan kebahagiaan yang merupakan fitrah manusia untuk mendapatkannya. Konon, manusia sempurna inilah yang bisa mewujudkan semua harapan dan keinginan itu. Di Indonesia sendiri, wacana akan datangnya Sang Ratu Adil telah demikian meluas, terutama di kalangan masyarakat Jawa. Sang Ratu Adil inilah nanti yang akan memakmurkan Indonesia. Membuat negeri Nusantara ini gemah ripah loh jinawi, adil, makmur, sejahtera dan sentosa.

Tapi pertanyaannya kemudian adalah, siapakah yang memberikan informasi akan datangnya manusia biasa “yang sempurna” itu kepada komunitas manusia di seluruh pelosok bumi? Dan apakah orang yang dijanjikan dan diharapkan kedatangannya oleh seluruh manusia itu adalah orang yang sama atau orang yang berbeda-beda?

Tentu saja untuk menjawab pertanyaan di atas tidaklah mudah. Para pakar sejarah agama dan kepercayaan, para cerdik cendikia dari berbagai kurun waktu telah mencoba menjawab pertanyaan itu. Mereka bekerja keras siang malam untuk menemukan jawaban yang memuaskan hati semua manusia. Tidak jarang ilmuwan yang satu menafikan dan menolak pendapat atau kesimpulan ilmuwan yang lain berkenaan dengan sosok manusia yang diharapkan kedatangannya itu. Tidak jarang juga sosok yang dijanjikan itu ditetapkan berdasarkan pesanan satu institusi untuk mendukung sebuah keyakinan.

Agama kita, Islam, telah menuntun dan mengarahkan kita pada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Kita percaya bahwa Allah mengutus bukan hanya 25 Nabi dan Rasul, tapi ratusan ribu. Dalam satu riwayat bahkan disebutkan ada 124.000 Nabi dan dari jumlah itu, lebih dari 300 orang berpredikat sebagai Rasul. Mereka diutus Allah ‘Azza wa Jalla kepada komunitas-komunitas manusia di semua tempat dan di sepanjang zaman, sejak Nabi Adam As sampai Nabi Muhammad Saw. Tentu saja di antara kedua Nabi itu terdapat Nabi-Nabi besar, yang mempunyai umat besar pula. Tapi tidak semua kisah Nabi dan Rasul itu diceritakan Allah dalam Al-Qur’an.

Makkah Sebelum Kenabian
Adalah sebuah keanehan, Kota Makkah atau Bakkah, dengan pusat peribadatan yang tertua di dunia, Ka’bah, tidak menarik perhatian dua penguasa Negara Adidaya, kekaisaran Romawi di Barat dan kekaisaran Persia di Timur, di saat-saat menjelang kenabian Muhammad Saw. Padahal para konglomerat Makkah sering melakukan perjalanan ekspedisi bisnis ke mancanegara. Begitu juga sebaliknya, banyak saudagar dari luar negeri yang membawa barang dagangannya ke Makkah. Mereka berdagang sambil beribadah, melaksanakan thawaf.

Menguasai Makkah secara politik, sebenarnya banyak keuntungan ekonomi yang akan didapat para penguasa Negara Adidaya itu. Mungkin saja karena gersang dan tandus tanahnya, yang membuat Makkah tidak diperhitungkan untuk dijadikan daerah jajahan. Meskipun letak geografisnya sangat strategis, antara Asia dengan Afrika, agak ke barat daya Asia. Penduduk Makkah pasti menyadari pertentangan dua kekuatan Barat dan Timur itu. Tapi mereka lebih memilih tidak memihak kepada salah satunya, sehinga mereka bisa bebas berniaga, baik ke wilayah kekuasaan Romawi maupun ke wilayah kekuasaan Persia.

Jantung Kota Makkah adalah Ka’bah, yang terletak di cekungan bukit-bukit batu cadas dan di sekelilingnya adalah padang pasir berbatu. Kondisi alam yang seperti ini, membentuk karakter para penduduk asli Makkah sekeras batu. Mereka keras dalam memegang keyakinan. Tapi begitu mereka mengubah keyakinan, maka mereka akan membela mati-matian keyakinan yang baru itu.

Makkah kemudian ramai dikunjungi orang setelah ditemukan sumur yang airnya tidak pernah kering sampai saat ini, yaitu sumur zamzam. Para pengembara padang pasir meminta izin tinggal di sekitar sumur zamzam pada Siti Hajar, Istri Nabi Ibrahim As, dan Ibunda Ismail As. Karena beliaulah yang menemukan dan menggali sumur itu. Keluarga Nabi Ibrahim As, sesungguhnya bukan suku asli Arab. Sebagaimana kita ketahui, Nabi Ibrahim As berasal dari negeri Kana’an. Oleh karena itu mereka disebut sebagai bangsa Arab pendatang atau bangsa yang diarabkan (Arab al-Musta’rabah). Biasa juga disebut Arab Ismailiyah. Dahulunya, nenek moyang bangsa Arab adalah para pengembara. Mereka hidup berpindahpindah (nomaden), karena keadaan alam Jazirah Arab yang tandus gersang. Mereka berpindah-pindah untuk mencari daerah yang mempunyai mata air dan padang rumput. Konon, asal muasal bangsa Arab adalah keturunan Samit (Smith), anak-cucu Sam bin Nuh As, yang mendiami lembah Sungai Euphraat (Furraat).

Seringnya mereka berpindah-pindah tempat, membuat mereka menjadi orang-orang yang kuat secara fisik dan cakap menggunakan senjata, seperti pedang, panah dan tombak. Kecakapan menguasai senjata ini memang sangat diperlukan untuk mempertahankan diri, menyerang kelompok lain demi menguasai tanah yang subur. Di samping itu, mereka juga cakap dalam menyusun kata-kata menjadi syair. Dan mereka sangat kuat dalam hafalan. Konon seorang penyair Arab, ketika itu, bisa menghafal 10.000 bait syair. Ketika Makkah telah menjadi pusat pertemuan, mereka mengadakan semacam festival bersyair di Pasar Ukaz, yang juga menjadi ajang lobilobi penting para pengusaha untuk bisnis yang lebih besar.