Buku Al Mawardi Prima hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Al-Qur'an Hidup 24 Jam

Al-Qur'an Hidup 24 Jam

Alhamdulillah, Allah Swt masih memberikan Rahmat dan Maghfirah-Nya kepada kita semua untuk mensyukuri wahyu yang telah diberikan pada Rasulullah sebagai suri tauladan bagi seluruh manusia yang ingin menerapkan Al-Qur’an sebagai pola hidup, pola pikir, pola rasa, dan pola tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Doa yang teriring salam kepada kedua orang tuaku, bapak Rusli Effendy dan ibu Isnaini yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga, kasih sayang, pengorbanan yang diberikan tanpa pamrih yang tak mungkin terlupakan sampai hidup sepanjang masa.

Syukur dan terimakasih kepada:

• Para guru dan alim ulama yang senantiasa istiqamah menegakkan kalamullah dan nilai-nilai kebenaran yang menjadi sumber inspirasi dan penolong semangat penulis untuk tetap berjuang dan berkarya untuk kebaikan bersama.

• Abangda Bonang Al-Bachri (Balb). Sebagai abang tercinta, sahabat akrab sekaligus guru yang tidak pernah berhenti untuk membimbing, mengajar dan memberikan nilai yang terbaik dalam hidup ini.

• Saudara-saudaraku di ASC (Al-Haq Study Center) yang selalu memberikan semangat dan motivasi untuk melakukan sesuatu yang terbaik dan bermanfaat untuk diri dan lingkungan.

• Para sahabat Gaharu 16 Cipete Jaksel, MR TERRUZ dan Hubbadiva (lembaga pengkajian Al- Qur’an, outbond, in house training, family Gathering, kecerdasan shalat, kecerdasan Ramadhan, kecerdasan haji umrah dan pelatihan yang berkaitan dengan karakter dan kapabiliti pada semua golongan khususnya Islamic training) yang selalu berupaya keras untuk mendukung pembelajaran Al-Qur’an.

• Sahabat-sahabat Ulujami, Cibubur, kawan-kawan, abang-abang, kakak-kakak yang terlibat langsung maupun tidak langsung yang selalu memberikan inspirasi dan kreatifitasnya.

• Keluarga besar QIC (Qur’anic Intelligence Center) Banjarmasin, sebagai pusat kajian kecerdasan Al-Qur’an. mulai dari TK, SD, SMP, SMA, mahasiswa, pelajar, pekerja, umum, hingga usia senja, yang bersama-sama berjuang untuk menegakkan Kalamullah.

• Semua sahabat-sahabat yang tidak dapat disebutkan satu persatu, tanpa mengurangi rasa hormat penulis mengucapkan terima kasih semoga Allah memberikan Rahmat dan Ridha-Nya kepada kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Dodi Syihab
Editor: Tim QIC

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9789793862620
Terbit: Februari 2016, 251 Halaman

Ikhtisar

Alhamdulillah, Allah Swt masih memberikan Rahmat dan Maghfirah-Nya kepada kita semua untuk mensyukuri wahyu yang telah diberikan pada Rasulullah sebagai suri tauladan bagi seluruh manusia yang ingin menerapkan Al-Qur’an sebagai pola hidup, pola pikir, pola rasa, dan pola tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Doa yang teriring salam kepada kedua orang tuaku, bapak Rusli Effendy dan ibu Isnaini yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga, kasih sayang, pengorbanan yang diberikan tanpa pamrih yang tak mungkin terlupakan sampai hidup sepanjang masa.

Syukur dan terimakasih kepada:

• Para guru dan alim ulama yang senantiasa istiqamah menegakkan kalamullah dan nilai-nilai kebenaran yang menjadi sumber inspirasi dan penolong semangat penulis untuk tetap berjuang dan berkarya untuk kebaikan bersama.

• Abangda Bonang Al-Bachri (Balb). Sebagai abang tercinta, sahabat akrab sekaligus guru yang tidak pernah berhenti untuk membimbing, mengajar dan memberikan nilai yang terbaik dalam hidup ini.

• Saudara-saudaraku di ASC (Al-Haq Study Center) yang selalu memberikan semangat dan motivasi untuk melakukan sesuatu yang terbaik dan bermanfaat untuk diri dan lingkungan.

• Para sahabat Gaharu 16 Cipete Jaksel, MR TERRUZ dan Hubbadiva (lembaga pengkajian Al- Qur’an, outbond, in house training, family Gathering, kecerdasan shalat, kecerdasan Ramadhan, kecerdasan haji umrah dan pelatihan yang berkaitan dengan karakter dan kapabiliti pada semua golongan khususnya Islamic training) yang selalu berupaya keras untuk mendukung pembelajaran Al-Qur’an.

• Sahabat-sahabat Ulujami, Cibubur, kawan-kawan, abang-abang, kakak-kakak yang terlibat langsung maupun tidak langsung yang selalu memberikan inspirasi dan kreatifitasnya.

• Keluarga besar QIC (Qur’anic Intelligence Center) Banjarmasin, sebagai pusat kajian kecerdasan Al-Qur’an. mulai dari TK, SD, SMP, SMA, mahasiswa, pelajar, pekerja, umum, hingga usia senja, yang bersama-sama berjuang untuk menegakkan Kalamullah.

• Semua sahabat-sahabat yang tidak dapat disebutkan satu persatu, tanpa mengurangi rasa hormat penulis mengucapkan terima kasih semoga Allah memberikan Rahmat dan Ridha-Nya kepada kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Pendahuluan / Prolog

Pendahuluan
Segala puji bagi Allah. Dialah Tuhan yang men-ciptakan manusia, kemudian memberikan petun-juk kepadanya. Dialah yang menghidupkan manusia, kemudian memberikan rezeki kepadanya. Dialah yang menetapkan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi, kemudian memberikan petunjuk kepadanya. Tidak ada satu kaum di dunia kecuali diangkat oleh Allah seorang pemimpin. Tidak ada satu bangsa di dunia kecuali diutus oleh Allah seorang nabi atau rasul dari mereka. Semua nabi dan rasul menyampaikan ajaran Allah, mengajak beribadah kepada Allah dan mengikuti hukum Allah. Semua nabi dan rasul adalah bersaudara, membawa risalah yang sama. Nabi Muhammad Saw adalah nabi dan rasul terakhir yang menyempurnakan risalah para nabi dan rasul terdahulu. Karena itu, risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw merupakan risalah yang paling sempurna dan berlaku sepanjang zaman, di mana saja dan kapan saja. Itulah Risalah Islamiyah, dan Al-Qur’an sebagai kitab sucinya yang menjadi petunjuk bagi seluruh ummat manusia.

Al-Qur’an adalah sumber kajian ilmu yang tak pernah kering. “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab,” (QS. 6: 38). Allah mengillustrasikan, sekiranya seluruh lautan menjadi tinta untuk mengungkapkan kata-kata Allah (Al-Qur’an), maka semuanya ludes habis sebelum sempat terungkap kata-kata Tuhan. Allah berfirman dalam QS. 18: 109:

Artinya: Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

Sudah banyak orang menjelaskan kandungan Al-Qur’an. Tak terhitung para Mufassir menafsirkan Al-Qur’an dengan berbagai metoda pendekatan disiplin ilmu. Ada yang menafsirkan ayat dengan ayat atau ayat dengan hadits yang disebut “Tafsir bil ma’tsur,” ada yang mengaitkan dengan asbabun nuzul, kaidah bahasa, sejarah, tekstual, kontekstual, dan sebagainya.

Cara-cara tersebut cukup bisa membantu ummat Islam dalam memahami Al-Qur’an, namun masih banyak masalah yang belum bisa dijelaskan dan belum bisa dipahami secara komprehensif oleh sebagian ummat Islam. Kitab Al-Qur’an adalah petunjuk, bukan sekadar pengeta11 huan. Kalau Al-Qur’an hanya sebagai pengetahuan, atau hanya memberitahu tentang adanya surga dan neraka, ini dan itu haram, itsmun dan ajran, maka nilainya hanya se-bagai pengetahuan, bukan petunjuk, karena yang nama-nya petunjuk adalah yang sungguh-sungguh menunjuki, tidak semata-mata memberitahu. Misalnya, ada orang menyatakan bahwa jumlah mangga dalam 3 kantung berjumlah 100 buah. Pernyataan tersebut sifatnya baru hanya memberitahu, dan orang lain memang menjadi tahu bahwa tiga kantung itu berisikan 100 buah mangga.

Berbeda dengan petunjuk. Petunjuk tidak hanya menunjukkan jumlah, tapi juga mengungkap mengapa jumlah itu demikian. Menjadi lain ketika apa yang terucapkan tadi bisa diungkapkan sisi-sisi kedalamannya, misalnya dijelaskan jumlah mangga yang ada di masing-masing kantung, cara-cara menjumlahkannya, cara mem-buka kantung-kantung itu, apa kegunaan mangga tersebut bagi manusia dan mengapa harus mangga bukan yang lainnya?

Pengetahuan sekadar memberikan wawasan, sedang-kan petunjuk merupakan arahan yang bila dilaksanakan akan memberikan dampak kebaikan yang nyata, meng-ubah sifat yang baik menjadi semakin baik, mengubah yang buruk menjadi baik, mengubah yang tidak tahu menjadi tahu, mengubah yang bodoh menjadi pintar, yang gagal menjadi berhasil, dan yang terpenting adalah me-ngantarkan manusia untuk berperilaku benar dan terarah sehingga meraih hidup bahagia.

Itulah pentingnya arti sebuah petunjuk. Apa pun yang kita kerjakan hendaknya didahului dengan mengetahui petunjuknya. Bagaimana kita bisa mencapai sebuah tujuan kalau kita tidak tahu petunjuknya. Bagaimana kita bisa menjadi manusia yang dikehendaki Tuhan kalau kita tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

Untuk mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an, diperlukan hati nurani yang tajam dalam menelaah ayat-ayat Allah dan kebersihan hati untuk membuka diri terhadap masuknya ayat-ayat Allah. Karena memang Al-Qur’an itu diturunkan untuk hati sebagaimana disebutkan dalam QS. 2 : 97:

Artinya: Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Ini berarti siapa saja tidak tertutup kemungkinan untuk mendapatkan petunjuk Al-Qur’an, asalkan hati-nya benar-benar bersih. Allahu yahdi mayyasya’, Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Maksudnya petunjuk Allah tidak mengenal institusi dan lembaga, golongan dan kasta, usia dan jenis kelamin, kaya dan miskin. Petunjuk Allah hanya diberikan kepada siapa saja yang menyiapkan hatinya untuk siap diatur 100% oleh Allah lewat Al-Qur’an.

Petunjuk Allah bersifat universal, yang artinya berlaku untuk siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Seperti konsep matematika yang secara fakta dan pasti berlaku secara universal. Di mana pun dan kapan pun yang namanya 1 + 1 pasti sama dengan 2. Apabila konsep ini dibawa ke seluruh pelosok dan sudut dunia, pasti semua orang tidak ada yang menolaknya. Bila ada orang yang menyangkalnya, maka perlu diselidiki pikirannya. Untuk itu, Allah berfirman dalam QS. 2: 2:

Artinya: Kitab (Al-Quran) itu tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa kitab-Nya (Al-Qur’an) adalah la raiba (tidak ada keraguan) menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Kata la raiba diartikan tidak ada keraguan sama sekali atau lebih tegas-nya dapat dikatakan sebagai suatu hal yang pasti. Sesuatu yang pasti adalah berkenaan fakta, nyata, dapat dipantau oleh indera, dapat dihitung dan dinalar secara logis, dan berlaku secara universal. Maka setiap ayat Al-Qur’an haruslah menjelma menjadi sebuah fakta, realita, dapat diukur, dipikirkan secara logis, berlaku secara universal, dan yang terpenting diaplikasikan dalam perilaku hidup. Sesuatu yang pasti, dapat dirasakan dan diterapkan oleh semua manusia. Maka barangsiapa yang menjadikan Al-Qur ‘an sebagai acuan hidupnya, pastilah hidupnya penuh dengan kepastian dan keyakinan, cara berpikirnya logis berdasarkan fakta dan realita dan merujuk pada konsep yang universal yaitu kebenaran.

Singkatnya, Al-Qur’an menjadi petunjuk bersandar-kan pada fakta bukan khayal, nyata bukan mimpi, logis dan dapat diukur secara pasti, serta berlaku secara universal bukan sektoral apalagi parsial. Dan karena itulah, maka Al-Qur’an banyak sekali mengingatkan kita dengan kata-kata: Afala ta’lamun (apakah kamu tidak mengetahui), Afala tatafakkarun (Apakah kamu tidak memikirkan), Afala ta’qilun (Apakah kamu tidak melogikakan), tafqahun (memahami), Afala tadabbarun (Apakah kamu tidak meneliti secara mendetail) dan Afala tadzakkarun (Apakah kamu tidak mengingat). Semuanya adalah pernyataan Allah agar manusia menggunakan pengetahuan, pikiran, akal, pemahaman, pertimbangan, sistematisasi dan fungsionalisasi, yang apabila kita telaah semua itu adalah fungsi-fungsi otak manusia yang sangat dahsyat. Bila demikian, sebenarnya petunjuk Al-Qur’an membimbing fungsi otak manusia menjadi lebih cerdas, tajam dan sehat.

Tulisan ini akan mengupas tentang hal yang paling esensial pada ummat Islam yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam. Semua yang ada pada tulisan ini tentu tak lain kita harapkan akan menambah keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt ketika ayat-ayat Al-Qur’an kita pelajari dan renungi.

Buku ini merupakan sebuah karya yang diperuntuk-kan bagi masyarakat yang peduli terhadap peningkatan kualitas diri dan pengembangan karakter akhlak mulia bangsa Indonesia yang tercinta ini, karena peradaban suatu negeri akan tumbuh dan berkembang ke arah yang benar dan diridhai Allah hanya dengan kekuatan karakter bangsa yang berakhlak mulia.

Penulis sadari dalam buku ini masih terdapat kekurangan di sana sini, untuk di kemudian hari dapat disempurnakan lebih baik lagi. Proses pembelajaran berjalan terus dan penulis tetap terus belajar karena Al-Qur’an merupakan sumber yang tidak ada habis-habisnya untuk digali, ditelaah dan dipahami untuk dijadikan sebagai petunjuk hidup.

Semoga buku ini berguna bagi pembacanya dan membimbing kepada pemahaman Rukun Iman dan Rukun Islam yang aplikatif serta terapan perilaku hidup yang Qur’ani dalam setiap gerak-gerik zhahir bathin-nya 24 jam.

Daftar Isi

Sampul
Kata Pengantar
Ucapan Terima Kasih
Daftar Isi
BAB I - Makna Rukun Iman
Iftitah
Rukun Iman
1. Iman Kepada Allah
     Ar-Rahman
     Ar-Rahim
     Al-Ghafurur Rahim
     Al-‘Azizur Rahim
     Raufur Rahim
     Al-Barrur Rahim
     At-Tawwabur Rahim
     Ar-Rahman Ar-Rahim
     Ar-Razzaq
     Al-Khaliq
     Al-Haq
     Al-Awwal
     Perbedaan Allah dengan Ar-Rabb
2. Iman Kepada Malaikat
     Malaikat dan Fungsinya
     Hubungan Malaikat dengan Manusia
     Terapan Sayap Malaikat 2, 3, dan 4
     Malaikat Turun Sebagai Pertolongan Allah
     Kecepatan Malaikat
3. Iman Kepada Al-Qur'an
     Fungsi Al-Qur’an
          Hudallah
          Hudal Linnas
          Hudal Lilmuttaqiin
     Interaksi Al-Qur'an
          Visual (3 Cara Melihat)
          Verbal (3 Cara Mendengar)
          Cara Membaca Al-Qur'an
               Talaa
               Rattala
               Qara’a
          Surah-surah Dalam Al-Qur’an
          Surah Makkiyah dan Madaniyah
          4. Iman Kepada Nabi Dan Rasul
               Nama-Nama Nabi dan Keistimewaannya
               Mengenal Sifat Nabi Muhammad Saw
               Perbedaan Nabi Dan Rasul
          5. Iman Kepada Yaumil Akhir
          6. Iman Kepada Qadha' Dan Qadar
          BAB II  - Makna Rukun Islam
          Iftitah
          Rukun Islam
          Syahadat
               Syahadat Sejak Masih di Rahim Ibu
          Shalat
               Keselarasan Bicara dan TindakanSebagai Hakikat Shalat
               Paradigma Wudhu
               Pengertian Shalat
               Makna Gerakan Shalat
               Shalat dan Gerakan Semesta
               Paradigma Waktu(Qabliyah - Wajib - Ba’diyah)
               Tentang Shalat Wail
               Makna Rakaat Shalat
          3. Shaum
               Shaum dan Al-Qur’an
          4. Zakat
               Yang Berhak Menerima Zakat
               Hukum Zakat
               Hukum Enggan Membayar Zakat
               Syarat-syarat Kekayaan Yang Wajib Dizakati
               NISHAB
               Macam-macam Zakat
               Syarat-syarat Wajib Zakat
               Harta (Maal) Yang Wajib Dizakati
               Yang Tidak Berhak Menerima Zakat
               Perbedaan Zakat dan Pajak
               Perbedaan Zakat, Infaq dan Shadaqah
               Zakat Ala Orang Beriman
               Perhatian Rasulullah Saw Sebagai Permisalan Zakat
          5. Haji
          Umrah
          Baitullah Sebagai Sentral Sistem Ibadah Haji Dan Umrah
          Makna Manasik Haji
               Ihram
               Miiqat
               Wuquf
               Muzdalifah
               Jumrah
               Thawaf
               Sai'i
               Tahallul
          Daftar Pustaka
          Tentang penulis

Kutipan

Surah - Surah Dalam Al-Qur'an
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dalam waktu 23 tahun. Al-Qur’an turun sesuai dengan kondisi yang dihadapi oleh umat Islam, turun secara berangsur-angsur, tidak sekaligus. Karena itu, Al-Qur’an mudah dihafal dan dipahami oleh orang yang mau menghafal dan mau memahami. Al-Qur’an adalah mukjizat Rasulullah yang kekal dan abadi sepanjang zaman. Terdiri dari 30 juz, berisi 114 Surah. Nama-nama Surah disebutkan oleh Rasulullah dan mempunyai makna yang sangat agung. Berikut inilah nama-nama surah dan jumlah ayat-ayatnya.

Surah Makkiyah dan Madaniyah

Allah menurunkan Al-Qur’an di dua tanah haram yang disebut “Haramain” yaitu kota Makkah dan kota Madinah. Surah atau yang turun di Makkah disebut Surah Makkiyah dan surah yang turun di Madinah disebut dengan Surah Madaniyah. Ada perbedaan yang sangat mendasar antara ayat Makkiyah dan ayat Madaniyah. Ayat Makkiyah secara umum diturunkan untuk mengokohkan peran hati, yaitu bagaimana menanamkan dan memantapkan keyakinan, membersihkan hati dari sifat-sifat jahil, menyucikan hati dari ketergantungan pada selain Allah dan penyembahan-penyembahan selain Allah, menguatkan mental, dan sebagainya. Sedangkan ayat Madaniyah secara umum diturunkan untuk memberikan pencerahan kepada pikiran manusia. Substansi ayat Madaniyah adalah bagaimana memberdayakan kehidupan menuju masyarakat modern (madani), maju dan beradab.

Ini artinya, bahwa kita hendaknya memandang Al-Qur’an dengan dua komponen yang sangat penting yaitu Hati dan Otak. Hati difungsikan untuk memahami makna hidup, dan otak difungsikan untuk memikirkan kebutuhan hidup. Jadi siapa orang yang membaca, memikirkan, memaknai dan menerapkan Al-Qur’an berarti orang tersebut telah memiliki kepekaan hati yang murni dan kecerdasan otak yang tajam.”