Buku Al Mawardi Prima hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Pendidikan Holistik: Format Baru Pendidikan Islam Membentuk Karakter Paripurna

Pendidikan Holistik

Saat ini penyelenggaraan pendidikan kita masih cenderung dikotomis, yaitu membedakan antara pendidikan umum dan pendidikan agama, antara pelajaran umum dan pelajaran agama, antara ilmu umum dan ilmu agama. Pandangan dikotomis itu menjadikan Islam dilihat hanya sebatas sebagai agama atau agama dipisahkan dari persoalanpersoalan lain seperti ekonomi, politik, sosial, hukum, dan juga ilmu pengetahuan.

Cara berpikir seperti itu, sudah mulai digugat. Muncul suara-suara yang mengatakan bahwa jika Islam hanya dipahami seperti itu, maka sadar atau tidak, sesungguhnya telah mempersempit wilayah kajian Islam itu sendiri. Dengan cara berpikir seperti itu, Islam telah dipersempit oleh para ilmuwan, cendekiawan, atau pemikir Islam sendiri. Islam hanya dipahami sebatas sebagai pedoman komunikasi dengan Tuhan, berupa ritual-ritual doa, dan sejenisnya.

Buku yang ada di tangan anda ini berjudul Pendidikan Holistik; Membentuk Karakter Paripurna yang ditulis oleh Ibu Dr. Amie Primarni dan Bapak Khairunnas ini adalah sebuah buku yang patut dibaca, dicermati dan nikmati. Buku yang menggambarkan tentang konsep pendidikan holistik ala barat dan pendidikan holistik menurut konsep Islam.

Buku ini ditulis dengan referensi yang lengkap, logika dan nalar yang cerdas. Penulis juga merujuk pada pendidikan holistik model barat dan pendidikan holistik yang digagas oleh Husen Nasr yaitu dengan menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dengan science dan juga model pendidikan yang dikembangkan di pesatren dalam hal ini penulis merujuk pada model pendididkan pesantren Gontor yang sudah sangat melegenda dalam kepesantrenan.

Kita tahu bahwa pendidikan di pesantren adalah pendidikan yang membentuk karakter para santri. Karakter yang mandiri, cerdas dan jujur serta mampu menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya. Pendidikan yang ingin melahirkan santri yang shalih dan cerdas.

Walaupun di banyak pesantren telah dicoba konsep pendidikan holistik, namun unsur dikotomi keilmuan masih terasa ada. Ada kajian aqidah, fiqh, akhlak, tasawuf dan seterusnya yang seakan akan terpisah dengan ilmu matematika, fisika, biologi kedokteran dsb.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Amie Primarni, Dr. / Khairunnas, S.Hi
Editor: Tim AMP Press

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9786029247169
Terbit: Februari 2016, 247 Halaman

Ikhtisar

Saat ini penyelenggaraan pendidikan kita masih cenderung dikotomis, yaitu membedakan antara pendidikan umum dan pendidikan agama, antara pelajaran umum dan pelajaran agama, antara ilmu umum dan ilmu agama. Pandangan dikotomis itu menjadikan Islam dilihat hanya sebatas sebagai agama atau agama dipisahkan dari persoalanpersoalan lain seperti ekonomi, politik, sosial, hukum, dan juga ilmu pengetahuan.

Cara berpikir seperti itu, sudah mulai digugat. Muncul suara-suara yang mengatakan bahwa jika Islam hanya dipahami seperti itu, maka sadar atau tidak, sesungguhnya telah mempersempit wilayah kajian Islam itu sendiri. Dengan cara berpikir seperti itu, Islam telah dipersempit oleh para ilmuwan, cendekiawan, atau pemikir Islam sendiri. Islam hanya dipahami sebatas sebagai pedoman komunikasi dengan Tuhan, berupa ritual-ritual doa, dan sejenisnya.

Buku yang ada di tangan anda ini berjudul Pendidikan Holistik; Membentuk Karakter Paripurna yang ditulis oleh Ibu Dr. Amie Primarni dan Bapak Khairunnas ini adalah sebuah buku yang patut dibaca, dicermati dan nikmati. Buku yang menggambarkan tentang konsep pendidikan holistik ala barat dan pendidikan holistik menurut konsep Islam.

Buku ini ditulis dengan referensi yang lengkap, logika dan nalar yang cerdas. Penulis juga merujuk pada pendidikan holistik model barat dan pendidikan holistik yang digagas oleh Husen Nasr yaitu dengan menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dengan science dan juga model pendidikan yang dikembangkan di pesatren dalam hal ini penulis merujuk pada model pendididkan pesantren Gontor yang sudah sangat melegenda dalam kepesantrenan.

Kita tahu bahwa pendidikan di pesantren adalah pendidikan yang membentuk karakter para santri. Karakter yang mandiri, cerdas dan jujur serta mampu menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya. Pendidikan yang ingin melahirkan santri yang shalih dan cerdas.

Walaupun di banyak pesantren telah dicoba konsep pendidikan holistik, namun unsur dikotomi keilmuan masih terasa ada. Ada kajian aqidah, fiqh, akhlak, tasawuf dan seterusnya yang seakan akan terpisah dengan ilmu matematika, fisika, biologi kedokteran dsb.

Pendahuluan / Prolog

Pengantar
Kata Holistik pertama dikenal di dunia Kesehatan khususnya kedokteran, kata ini kemudian diguna-kan secara lebih luas di berbagai bidang Ilmu Pengetahuan lainnya. Dalam buku ini kata Holistik digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang bulat, utuh, dan menyatu, tidak terpisah-pisah, dan tidak terkotak-kotak, meskipun setiap elemennya masih dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Saya menggambarkan kata Holistik ini seperti sebuah komposisi senyawa kimia, misalnya air yang terdiri atas H2O, atau Carbondioksida seperti CO2. Masing-masing elemen yang membentuknya memiliki ciri dan komponen tertentu, tetapi ketika kita menyebut kata air, maka komposisi H2O tidak dapat dipisahkan.

Di era global ini manusia dituntut serba cepat sehingga agar mampu survive dalam kehidupan yang penuh kecepatan ini lambat laun manusia terprogram dengan rasa persaingan yang tinggi, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Manusia seakan berlomba dengan waktu, tidak memberi ruang pada kekalahan dan kegagalan. Manusia menjadi serakah untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan yang diukur dari sesuatu yang kasat mata, materi, status sosial.

Kasus bunuh diri di kalangan pelajar yang tidak siap dengan kekalahan. Perilaku curang termasuk mulai dari menyontek hingga menjiplak di kalangan akademisi merupakan dampak modernisasi yang memandang tinggi sebuah keberhasilan, tanpa menyertakan unsur religius yang memungkinkan segala sesuatu dapat terjadi sebagaimana yang dikehendaki atau tidak. Dampak Modernisasi dan Paradigma dikotomis membuat manusia mengedepankan aspek kognitif daripada afektif dan psikomotorik. Mempercayai apa yang dapat terinderai semata-mata oleh akal serta panca indera dan menolak sesuatu yang tak terinderai. Dampak dikotomis, menjadikan manusia sebagai central, manusia tidak membutuhkan Tuhan dalam meraih kesuksesaan. Terjadinya pemilahan-pemilahan antara ilmu umum dan ilmu agama inilah yang membawa umat Islam kepada keterbelakangan dan kemunduran peradaban, lantaran karena ilmu-ilmu umum dianggap sesuatu yang berada di luar Islam dan berasal dari non-Islam atau the other, bahkan seringkali dipertentangkan antara agama dan ilmu (dalam hal ini sains). Agama dianggap tidak ada kaitannya dengan ilmu, begitu juga ilmu dianggap tidak memperdulikan agama. Begitulah gambaran praktik kependidikan dan aktivitas keilmuan di tanah air sekarang ini dengan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dan dirasakan oleh masyarakat. Di sisi lain, generasi muslim yang menempuh pendidikan di luar sistem pendidikan Islam hanya mendapatkan porsi kecil dalam hal pendidikan Islam atau bahkan sama sekali tidak mendapatkan ilmu-ilmu keislaman.

Terdapat sejumlah masalah yang melatarbelakangi perlunya menggagas pendidikan Holistik Islami:

Pertama, sebagai dampak era globalisasi, saat ini telah terjadi proses integrasi ekonomi, fragmentasi politik, high technology, interdependensi dan new colonization in culture. Dampak tersebut antara lain disebabkan globalisasi itu sendiri digerakkan oleh sebuah ideologi Barat yang berbasis pada paham pragmatis, hedonisme, postivisme, rasionalisme dan materialisme yang berakar pada antropo-centrisme yang sama sekali tidak melibatkan peran dan kekuasaan Tuhan.

Integrasi ekonomi adalah sebuah kondisi dimana perdagangan di antara bangsa-bangsa di dunia saling terbuka, sehingga bangsa yang satu menjadi pasar produk bangsa yang lain, dan sebaliknya. Dalam keadaan demikian, maka timbullah persaingan dagang antara setiap negara dalam suasana yang sangat ketat dan tidak sehat, kondisi ini mendorong munculnya penggunaan cara-cara yang tidak legal dan mementingkan diri sendiri.

Sementara itu fragmentasi politik adalah sebuah kondisi dimana setiap individu semakin menuntut untuk diperlakukan secara adil, demokratis, manusiawi dan egaliter. Dalam keadaan demikian, maka berbagai perlakuan yang dipandang melanggar hak-hak asasi manusia akan mendapatkan penolakan yang terkadang dilakukan dengan cara yang berlebihan dan mengarahkan kepada tindakan anarkis, seperti praktik main hakim sendiri, melakukan tindakan perusakan dan sebagainya.

Selanjutnya high technology berkaitan dengan penggunaan teknologi canggih, terutama dalam bidang komunikasi dan interaksi yang selanjutnya mengarah kepada terjadinya perubahan pola komunikasi dan interaksi yang lebih bersifat jarak jauh, serta penyalahgunaan peralatan teknologi canggih tersebut untuk tujuan yang merusak moral, bertendensi kriminal dan lain sebagainya.

Selanjutnya high technology berkaitan dengan penggunaan teknologi canggih, terutama dalam bidang komunikasi dan interaksi yang selanjutnya mengarah kepada terjadinya perubahan pola komunikasi dan interaksi yang lebih bersifat jarak jauh, serta penyalahgunaan peralatan teknologi canggih tersebut untuk tujuan yang merusak moral, bertendensi kriminal dan lain sebagainya.

Daftar Isi

Sampul
Daftar Isi
Format Baru Pendidikan Islam
Pengantar Penulis
Pendidikan Holistik Membentuk Karakter Paripurna
Problematika Pendidikan
     1. Problematika Filsafat
     2. Problematika Psikologi Pendidikan
     3. Problematika Modernitas
Menggagas Pendidikan Holistik
Sejarah Perkembangan Pendidikan Holistik
Pendidikan Holistik Barat
     1. Tujuan Pendidikan Holistik Barat
     2. Filsafat Pendidikan Holistik Barat
     3. Kurikulum Pendidikan Holistik Barat
     4. Pemikiran Fritjof Capra
     5. Pemikiran Paulo Freire
Pendidikan Holistik Islami
     1. Pemikiran Syehh Naquib Al-Attas
     2. Akar Pendidikan Holistik Dalam Islam
     3. Konsep Pendidikan Islami
     4. Pemikiran Al-Ghazali
     5. Tujuan Pendidikan Holistik Islami
     6. Falsafah Pendidikan Islam
Kurikulum Pendidikan Holistik Islami
Metode Pendidikan Holistik Islami
Model Guru Paripurna
Model Pendidikan Holistik Di Indonesia
     1. Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor
     2. Gagasan dan Cita-Cita Pembaharuan KH. Imam Zarkasyi
     3. Pembaharuan Pendidikan KH. Imam Zarkasyi
Desain Pendidikan Holistik Islami
     1. Alam, Manusia dan Agama Dalam Pandangan Islam
     2. Metodologi Studi Islam
     3. Metodologi Sains dalam Islam
     4. Metodologi Humaniora Dalam Islam
Konsep Manusia Islami
Kerangka Dasar Pendidikan Holistik Islami
Landasan Pendidikan Holistik Islami
     1. Elemen Spiritual
     2. Elemen Emosi
     3. Elemen Intelektual
     4. Elemen Inderawi dan Fisik
Desain Pendidikan Holistik Islami
     1. Pengertian Pendidikan Holistik Islami
     2. Tujuan Pendidikan Holistik Islami
     3. Konsep Pendidikan Holistik Islami
Penutup
Daftar Pustaka
Profil Penulis

Kutipan

Pendidikan Holistik Membentuk Karakter Paripurna
Sebagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim, pendidikan Islam mempunyai peran yang sangat signifikan di Indonesia dalam pengembangan sumberdaya manusia dan pembangunan karakter, sehingga masyarakat yang tercipta merupakan cerminan masyarakat islami. Dengan demikian Islam benar-benar menjadi rahmatan lil’alamin, rahmat bagi seluruh alam.

Namun hingga kini pendidikan Islam masih saja menghadapi permasalahan yang komplek, dari permasalahan konseptual-teoritis, hingga persoalan operasional-praktis. Tidak terselesaikannya persoalan ini menjadikan pendidikan Islam tertinggal dengan lembaga pendidikan lainnya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga pendidikan Islam terkesan sebagai pendidikan “kelas dua.” Tidak heran

jika kemudian banyak dari generasi muslim yang justru menempuh pendidikan di lembaga pendidikan non Islam.

Ketertinggalan pendidikan Islam dari lembaga pendidikan lainnya, menurut Azyumardi Azra, setidaknya disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Pendidikan Islam sering terlambat merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan masyarakat sekarang dan akan datang.

2. Sistem pendidikan Islam kebanyakan masih lebih cenderung mengorientasikan diri pada bidang-bidang humaniora dan ilmu-ilmu sosial ketimbang ilmu-ilmu eksakta semacam fisika, kimia, biologi, dan matematika modern.

3. Usaha pembaharuan pendidikan Islam sering bersifat sepotong-potong dan tidak komprehensif, sehingga tidak terjadi perubahan yang esensial.

4. Pendidikan Islam tetap berorientasi pada masa silam ketimbang berorientasi kepada masa depan, atau kurang bersifat future oriented.

5. Sebagian pendidikan Islam belum dikelola secara profesional baik dalam penyiapan tenaga pengajar, kurikulum maupun pelaksanaan pendidikannya

Senada dengan itu, Muhaimin menyebutkan bahwa ketertinggalan pendidikan Islam disebabkan oleh terjadinya penyempitan terhadap pemahaman pendidikan Islam yang hanya berkisar pada aspek kehidupan ukhrawi yang terpisah dengan kehidupan duniawi, atau aspek kehidupan rohani yang terpisah dengan kehidupan jasmani.

Jika kita lihat kondisi di Indonesia saat ini, salah satu pertanyaan yang muncul adalah mengapa kualitas SDM kita sedemikian buruknya? Penyebabnya adalah, sejak merdeka, Indonesia belum memiliki visi dan strategi yang jitu dalam membawa bangsa ini mencapai kejayaan di masa depan.

Padahal, Jepang dan Jerman, misalnya, yang luluh lantak akibat kekalahan pada Perang Dunia ke-2, mampu bangkit dan menjadi negara maju. Apa kunci sukses mereka? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena mereka memiliki strategi yang tepat dalam mengembangkan SDM, yaitu dengan mencetak tenaga kerja handal. Mereka melatih 60 persen dari penduduk mereka melalui pendidikan keterampilan.

Meski begitu, mereka tetap menyadari bahwa untuk menciptakan keseimbangan harus dicetak pula manusia yang menguasai IPTEK hingga mampu menciptakan teknologi baru. Oleh sebab itu, perlu pendidikan yang tepat bagi 15 persen terpandai (brain power) penduduk sehingga mereka siap masuk ke jenjang perguruan tinggi.

Namun, karena setiap teknologi baru dapat ditiru dan diproduksi di mana saja, maka pekerja yang terampil dan handal-lah sesungguhnya yang menjadi kelebihan (comparative advantage) yang sulit untuk ditiru. Pekerja terampil adalah ujung tombak dan menjadi tangan-tangan produktif yang akan menghasilkan produk teknologi apa saja.

Kita mengenal Amerika Serikat sebagai negara penemu teknologi kamera, recorder, dan mesin faks. Namun sekarang produk-produk tersebut sudah menjadi unggulan Jepang.

Jepang dan Jerman dikenal memiliki penduduk dengan apprentice system (keterampilan) yang handal, sehingga produk-produk mereka terkenal paling bagus kualitasnya di dunia, karena dikerjakan oleh para pekerja yang terampil, pekerja keras, percaya diri dengan kemampuannya dan mempunyai kualitas karakter lainnya yang mendukung. Mereka adalah para pekerja manual, bukan saintis atau ilmuwan.

Meski begitu, Jepang dan Jerman tetap memperhatikan perguruan tinggi untuk menampung 15 persen penduduk terpandai (yang daya abstraksi dan analitiknya tinggi). Namun mereka tidak memaksakan target perguruan tinggi - menjadi ilmuwan kepada 85 persen penduduk lainnya.

Jika strategi pendidikan ditujukan untuk menciptakan para pekerja yang handal (yang meliputi 85 persen penduduk), maka fokus pendidikan kita harus lebih memperhatikan penyiapan anak didik agar mereka siap bekerja dan terampil selepas SLTA atau bahkan SLTP, tergantung keterampilannya masing-masing. Namun kenyataannya, sistem pendidikan Indonesia belum memberikan ruang pada peserta didik untuk menjadi tenaga yang terampil.

Mayoritas siswa Indonesia sejak usia SD sudah habis energinya mengikuti pelajaran yang dirancang supaya mereka tidak mampu mengikutinya. Selain itu, metode pembelajaran di kelas banyak yang menyalahi teori-teori perkembangan anak. Hasilnya adalah generasi yang tidak percaya diri. Ditambah dengan vonis sistem ranking di sekolah, maka sempurnalah keterpurukan SDM Indonesia.

Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa SDM Indonesia saat ini berada di urutan bawah. SDM kita tidak bisa bekerja dengan baik, tidak terampil, tidak percaya diri, dan tidak berkarakter. Mereka tumbuh dalam sebuah sistem yang salah. Kita keliru dalam mendidik mereka. Mereka tidak menghargai pekerjaan yang memerlukan keterampilan, kerajinan, dan ketekunan.

Masalah minimnya keterampilan tidak hanya dialami oleh siswa SMA, tetapi juga siswa SMK yang notabene sekolah kejuruan. Mereka umumnya tidak mempunyai gairah untuk mencintai bidang keterampilannya karena merasa dicap bodoh. Mafhum, saat ini, masih ada anggapan SMK adalah pilihan kedua setelah tidak diterima di SMA.