Buku Al Mawardi Prima hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Berdoalah Dalam Mewujudkan Impian-Impian Anda: Jangan Sungkan-Sungkan Minta Pada Allah

Berdoalah Dalam Mewujudkan Impian-Impian Anda

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran,” (QS. Al-Baqarah:186)

Dari segi istilah agama, DOA adalah permohonan hamba kepada Allah Swt agar memperoleh anugerah pemeliharaan dan pertolongan, baik buat si pemohon maupun pihak lain. Dan permohonan senantiasa terlahir dengan ketundukan dan pengagungan kepada-Nya.

Dalam Islam, berdoa termasuk salah satu ibadah dan pengabdian kepada Allah Swt. Karenanya siapa yang banyak berdoa akan memperoleh banyak pahala dari Allah Swt. Dan doa yang dijanjikan Allah Swt menerimanya ialah doa yang disertai amal usaha di samping khusyu’ dan tawadhu’. Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra, Rasulullah Saw bersabda: “Semua doa pasti dikabulkan Allah Swt, hanya waktunya yang berbeda; Pertama, disegerakan pengabulan doanya, kedua, disimpan untuk di akhirat, dan ketiga, dihindarkan dari kejahatan sebesar itu kepadanya.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, dari Nu’man bin Basyir ra, ia berkata, aku mendengar Nabi Saw bersabda: “Doa itu ibadah” kemudian beliau membaca ayat: “Dan Rabbmu berfirman, ‘berdoalah kepadaKu niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina-dina.” (QS. Al- Mukmin: 60).

Berdoa merupakan interaksi tanpa batas antara manusia dengan Allah Swt. Doa adalah manifesto hidup manusia. Segala keluh kesah akan tumpah ruah di sana. Berdoa adalah sarana komunikasi kita dengan Allah Swt.

Hal ini disebabkan karena manusia memiliki keterbatasan, tidak semua hal bisa terjangkau olehnya hanya melalui sekadar usaha. Keberhasilan sebuah usaha dan tercapainya keinginan manusia tanpa disadari hubungan vertikal ke Allah, hanya akan membuahkan kesombongan pada diri manusia. Dan tidak jarang pada akhirnya kepada Allah jua ia kembali mengeluhkan segala persoalannya ketika ditemukan kesusahan.

Bagaimana caranya mereka yang sanggup bertahan dalam kondisi sulit itu? Apa yang telah mereka lakukan hingga mereka mampu mengangkat diri kembali dan tidak terkapar dalam kekalahan. Hal sederhana yang sangat menguatkan itu adalah doa. Apapun kepercayaan anda sekarang, dan agama apapun yang anda peluk. Anda pasti akan selalu meminta kepada Tuhan yang anda percaya. Meminta adalah sebuah pengharapan. Pengharapan yang akan membawa kita kembali pada semangat yang menghidupkan, dan itulah doa.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Khairunnas, S.Hi / Abdulhaque Al-Bantanie
Editor: Al-Mawardi Prima

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9786029247176
Terbit: Januari 2013, 243 Halaman

Ikhtisar

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran,” (QS. Al-Baqarah:186)

Dari segi istilah agama, DOA adalah permohonan hamba kepada Allah Swt agar memperoleh anugerah pemeliharaan dan pertolongan, baik buat si pemohon maupun pihak lain. Dan permohonan senantiasa terlahir dengan ketundukan dan pengagungan kepada-Nya.

Dalam Islam, berdoa termasuk salah satu ibadah dan pengabdian kepada Allah Swt. Karenanya siapa yang banyak berdoa akan memperoleh banyak pahala dari Allah Swt. Dan doa yang dijanjikan Allah Swt menerimanya ialah doa yang disertai amal usaha di samping khusyu’ dan tawadhu’. Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra, Rasulullah Saw bersabda: “Semua doa pasti dikabulkan Allah Swt, hanya waktunya yang berbeda; Pertama, disegerakan pengabulan doanya, kedua, disimpan untuk di akhirat, dan ketiga, dihindarkan dari kejahatan sebesar itu kepadanya.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, dari Nu’man bin Basyir ra, ia berkata, aku mendengar Nabi Saw bersabda: “Doa itu ibadah” kemudian beliau membaca ayat: “Dan Rabbmu berfirman, ‘berdoalah kepadaKu niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina-dina.” (QS. Al- Mukmin: 60).

Berdoa merupakan interaksi tanpa batas antara manusia dengan Allah Swt. Doa adalah manifesto hidup manusia. Segala keluh kesah akan tumpah ruah di sana. Berdoa adalah sarana komunikasi kita dengan Allah Swt.

Hal ini disebabkan karena manusia memiliki keterbatasan, tidak semua hal bisa terjangkau olehnya hanya melalui sekadar usaha. Keberhasilan sebuah usaha dan tercapainya keinginan manusia tanpa disadari hubungan vertikal ke Allah, hanya akan membuahkan kesombongan pada diri manusia. Dan tidak jarang pada akhirnya kepada Allah jua ia kembali mengeluhkan segala persoalannya ketika ditemukan kesusahan.

Bagaimana caranya mereka yang sanggup bertahan dalam kondisi sulit itu? Apa yang telah mereka lakukan hingga mereka mampu mengangkat diri kembali dan tidak terkapar dalam kekalahan. Hal sederhana yang sangat menguatkan itu adalah doa. Apapun kepercayaan anda sekarang, dan agama apapun yang anda peluk. Anda pasti akan selalu meminta kepada Tuhan yang anda percaya. Meminta adalah sebuah pengharapan. Pengharapan yang akan membawa kita kembali pada semangat yang menghidupkan, dan itulah doa.

Pendahuluan / Prolog

Perintah Berdoa Dalam Al-Qur’an
Di dalam Al-Qur’an terdapat anjuran-anjuran untuk berdoa. Terdapat rahasia di dalamnya. Rahasianya Islam yang menyeru kepada tauhid yang murni, bersih dari kerak yang mengotori akidah yang suci. Sesungguhnya, Allah dekat dengan hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa.

“... Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu... “ (QS. Al-Mukmin: 60).

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)

“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Israa’: 11).

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orangorang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

“... Berdoalah kamu, dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Al-Mukmin: 50).

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d: 14).

“Dan apabila kami beri nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51).

Nabi Ibrahim As berkata: “Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudahmudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.” (QS. Maryam: 48).

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (QS. Ibrahim: 39).

“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi engkau seorang anak yang baik . Sesungguhnya engkau maha pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).

“(Zakaria) Ia berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. (QS. Maryam: 4).

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (QS. Az-Zumar: 8).

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orangorang yang berserah diri.” (QS. Fushshilat: 33).

Kita harus percaya kekuatan sebuah doa. Meminta dengan sepenuh hati dengan segala pengharapan penuh, sejujur-jujurnya kita bicara adalah saat memanjatkan sebuah doa. Pengakuan yang dalam atas kesalahan yang pernah dilakukan. Inilah waktunya kita berani menelanjangi diri sendiri, mengungkapkan semua aib yang kita punya.

Daftar Isi

Daftar Isi
The Power of Doa, Sebuah Pengantar
Sukses Dengan Intervensi Allah
Ajaklah Allah SWT Pada Setiap Aktivitas Kita
Allah Swt Maha Mengabulkan Doa Hambanya
Allah Swt Maha Kaya, Mintalah Pada-Nya
Jangan Sungkan-sungkan Minta Pada Allah Swt
Allah Swt Benci Orang Yang Tidak Meminta Kepada-Nya
Doa & Law of Attraction
Dahsyatnya Shalat Dhuha
Mu’jizat Shalat Tahajjud
Ingin Apapun, Ayo Shalat Hajat
Pilih yang Terbaik dengan Shalat Istikharah
Berdoalah Dengan Al-Asma Al-Husna
The Magic of Zikir
Khasiat Shalawat
Allah Swt Mengabulkan Doa-doa Orang Yang Berpuasa
Allah Swt Menyuruh Kita Berharap
Kisah-kisah Orang Sukses Dengan Dahsyatnya Doa
Jangan Khawatir Jika Allah Swt Belum Mengabulkan Doa Kita
Rahasia Mempercepat Terkabulnya Doa
Daftar Pustaka
Profil Penulis

Kutipan

Sukses Dengan Intervensi Allah
“Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasannya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (QS. An-Najm: 39-41)

“Semoga jalan keluar terbuka, semoga kita bisa mengobati jiwa kita dengan doa. Janganlah engkau berputus asa manakala kecemasan yang menggenggam jiwa menimpa. Saat paling dekat dengan jalan keluar adalah ketika telah terbentur pada putus asa.” (Ali bin Abi Thalib)

Sukses? Tak dapat dipungkiri, kata ajaib ini paling banyak dibidik manusia-bahkan semua manusia menginginkannya. Manusia itu mengidam-idamkan wujud dari sukses itu sendiri. Untuk apa orang tua menyekolahkan anaknya? Jawabnya, sukses. Untuk apa orang dusun berduyun-duyun ke kota? Tentunya bukan sekadar merantau. Tentu ujung-ujungnya ingin sukses. Untuk apa orang ingin menggapai kekayaan, pangkat, ketenaran? Semua didasari keinginan untuk sukses ‘kan? Untuk apa seseorang berani melakukan terobosan dan mencoba hal-hal yang baru (tentunya di sini adalah hal-hal yang bermanfaat)? Mereka semua mengharap panen sukses ‘kan? Nah, benarlah pada dasarnya, setiap manusia ingin sukses.

Ajaklah Allah Swt Pada Setiap Aktivitas Kita
“Bertasbilah kepada Allah di rumah-rumah (masjid) yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama- Nya di dalamnya. Pada waktu pagi dan petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah.” (QS. An-Nur: 36-37).

Pemimpin orang-orang bertakwa, Imam Ali ra, ketika membaca ayat di atas, beliau mengatakan: “Sesungguhnya Allah Swt telah menjadikan zikir sebagai penerang hati. Dengan hati akan mendengarkan dan akan melihat dalam kegelapan, hati akan tunduk setelah melakukan penentangan. Dari satu momen ke momen yang lainnya hanya untuk ‘Azza wa Jalla selamanya.

Maka, mereka menjadi pelita dengan mengandalkan cahaya kesadaran penglihatan dan perasaan. Sesungguhnya berzikir pastilah lebih mereka sambut dan ambil sebagai pengganti dari dunia. Perniagaan tidak akan pernah menyibukkan mereka, demikian pula jual beli. Mereka melewati hari-hari kehidupannya dengan berzikir dan mereka menyerukan pada telinga orang-orang yang lalai untuk menangkal berbagai hal yang diharamkan Allah.”

Coba kita simak salah satu perjalanan Nabi berikut. Tubuh mulia itu berlumuran darah akibat lemparan batu penduduk Thaif. Bukan hanya lemparan batu, cercaan dan hinaan pun menyertainya, hingga kemudian Rasulullah Saw memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw menjumpai suatu tempat yang dirasa aman. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya.