Buku Al Mawardi Prima hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Umrah: Sebuah Fenomena Spiritual Manusia Modern

Umrah

Dewasa ini, kita menyaksikan di kota-kota besar seperti kota Jakarta dan lain-lain, telah terjadi peningkatan kesadaran beragama yang luar biasa, yang ditandai dengan semakin semaraknya kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan pada berbagai tempat, seperti di masjidmasjid, di perusahaan-perusahaan, di perkantoran, di masyarakat dan lain-lain, baik pelaksanaan amalan keagamaan yang bersifat wajib maupun yang bersifat anjuran.

Di mana-mana kita mendapati kaum Muslim berkumpul untuk mengkaji dan memperdalam pengetahuan dan pemahaman ilmu-ilmu keislaman, mereka berkumpul untuk mempelajari Al-Qur'an, mereka berkumpul untuk berzikir kepada Allah, melantunkan shalawat pada Nabi. Pada setiap pe-laksanaan shalat Jumat di perkantoran, di perusahaan dan di pusat-pusat keramaian, tempat shalat Jumat sangat sesak dipenuhi oleh kaum Muslim yang melaksanakan shalat jumat tersebut. Dan lain-lain.

Kebangkitan kesadaran beragama itu juga terjadi di negara-negara lain, termasuk di negara-negara sekuler. Banyak orang yang cenderung mencari jalan untuk kembali ke pangkuan agama. Sebab, ilmu pengetahuan yang selama ini diagung-agungkan, ternyata tidak mampu menjawab semua permasalahan kehidupan manusia. Demikian pula dengan materialisme yang dipuja-puja, justru mem-buat kehidupan semakin terasa gersang dan hampa.

Dr. John Naisbitt mengatakan, “Ilmu penge-tahuan dan teknologi tidak mampu memberi tahu kita tentang apa arti atau makna kehidupan. Dan kita mempelajari serta mendapatkan hal itu melalui sastra, seni dan spiritual.”

Seorang teolog dari Universitas Chicago, Martin Marty, mengatakan, “Kini kita percaya, bahwa keterbatasan ilmu pengetahuan telah diketahui. Kita menghargai ilmu dan teknologi untuk hal-hal yang mampu dilakukannya, akan tetapi ia tidak mampu melakukan atau mengatasi segala hal.”

Prof. Dr. Azyumardi Azra bercerita, “Tarekat-tarekat sufi bermunculan di belantara Manhattan, New York. Gejala apa ini? Seorang insinyur teknik tamatan Columbia University, yang juga lulusan Universitas Al-Azhar Mesir, menjadi Imam di Islamic Centre New York, dan menjadi Khalifah Tarekat Halvatiye Jerrahi di Lower West Side Manhattan. Lalu mengapa orang-orang Barat yang serba rasional itu, menghabiskan banyak waktu mereka untuk berzikir kepada Allah?”

Juga dinyatakan oleh Dr. Gay Hendricks dan Kate Ludeman bahwa, “Pada era pasar yang semakin global atau mendunia ini, Anda akan menemukan orang-orang suci, para mistikus, para sufi, tidak hanya di masjid, gereja, kuil dan biara, akan tetapi Anda juga akan menemukan mereka di perusahaan-perusahaan besar dan di organisasi-organisasi modern.”

Dan salah satu hal yang banyak dilakukan oleh orang-orang modern untuk memenuhi dahaga spiritual mereka adalah dengan ziarah spiritual. Mereka beramai-ramai berkunjung atau mendatangi tempat-tempat suci tertentu, untuk menenangkan diri mereka, untuk menghubungkan diri mereka dengan Tuhan, untuk berdoa, dan untuk mencari makna hidup.


Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Muhammad Rusli Amin, KH, MA
Editor: Al-Mawardi Prima

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9786029247183
Terbit: Maret 2013, 187 Halaman

Ikhtisar

Dewasa ini, kita menyaksikan di kota-kota besar seperti kota Jakarta dan lain-lain, telah terjadi peningkatan kesadaran beragama yang luar biasa, yang ditandai dengan semakin semaraknya kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan pada berbagai tempat, seperti di masjidmasjid, di perusahaan-perusahaan, di perkantoran, di masyarakat dan lain-lain, baik pelaksanaan amalan keagamaan yang bersifat wajib maupun yang bersifat anjuran.

Di mana-mana kita mendapati kaum Muslim berkumpul untuk mengkaji dan memperdalam pengetahuan dan pemahaman ilmu-ilmu keislaman, mereka berkumpul untuk mempelajari Al-Qur'an, mereka berkumpul untuk berzikir kepada Allah, melantunkan shalawat pada Nabi. Pada setiap pe-laksanaan shalat Jumat di perkantoran, di perusahaan dan di pusat-pusat keramaian, tempat shalat Jumat sangat sesak dipenuhi oleh kaum Muslim yang melaksanakan shalat jumat tersebut. Dan lain-lain.

Kebangkitan kesadaran beragama itu juga terjadi di negara-negara lain, termasuk di negara-negara sekuler. Banyak orang yang cenderung mencari jalan untuk kembali ke pangkuan agama. Sebab, ilmu pengetahuan yang selama ini diagung-agungkan, ternyata tidak mampu menjawab semua permasalahan kehidupan manusia. Demikian pula dengan materialisme yang dipuja-puja, justru mem-buat kehidupan semakin terasa gersang dan hampa.

Dr. John Naisbitt mengatakan, “Ilmu penge-tahuan dan teknologi tidak mampu memberi tahu kita tentang apa arti atau makna kehidupan. Dan kita mempelajari serta mendapatkan hal itu melalui sastra, seni dan spiritual.”

Seorang teolog dari Universitas Chicago, Martin Marty, mengatakan, “Kini kita percaya, bahwa keterbatasan ilmu pengetahuan telah diketahui. Kita menghargai ilmu dan teknologi untuk hal-hal yang mampu dilakukannya, akan tetapi ia tidak mampu melakukan atau mengatasi segala hal.”

Prof. Dr. Azyumardi Azra bercerita, “Tarekat-tarekat sufi bermunculan di belantara Manhattan, New York. Gejala apa ini? Seorang insinyur teknik tamatan Columbia University, yang juga lulusan Universitas Al-Azhar Mesir, menjadi Imam di Islamic Centre New York, dan menjadi Khalifah Tarekat Halvatiye Jerrahi di Lower West Side Manhattan. Lalu mengapa orang-orang Barat yang serba rasional itu, menghabiskan banyak waktu mereka untuk berzikir kepada Allah?”

Juga dinyatakan oleh Dr. Gay Hendricks dan Kate Ludeman bahwa, “Pada era pasar yang semakin global atau mendunia ini, Anda akan menemukan orang-orang suci, para mistikus, para sufi, tidak hanya di masjid, gereja, kuil dan biara, akan tetapi Anda juga akan menemukan mereka di perusahaan-perusahaan besar dan di organisasi-organisasi modern.”

Dan salah satu hal yang banyak dilakukan oleh orang-orang modern untuk memenuhi dahaga spiritual mereka adalah dengan ziarah spiritual. Mereka beramai-ramai berkunjung atau mendatangi tempat-tempat suci tertentu, untuk menenangkan diri mereka, untuk menghubungkan diri mereka dengan Tuhan, untuk berdoa, dan untuk mencari makna hidup.


Pendahuluan / Prolog

Pendahuluan
Penganyat Penulis

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamien. Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammad.

Segala puji bagi Allah, karena dengan izin dan kekuatan yang dianugerahkan-Nya, penulis bisa menyelesaikan penulisan buku ini. Dan dengan kebaikan dan bantuan Penerbit Al-Mawardi, buku berjudul UMRAH, Sebuah Fenomena Spiritual Manusia Modern ini bisa terbit dan hadir di hadapan pembaca sekalian.

Sesungguhnya salah satu dasar pemikiran penulisan buku ini adalah sebagai upaya memberikan pemahaman lebih luas kepada kaum Muslim tentang Umrah, karena sedemikian banyak dan luas, makna yang terkandung dalam ibadah umrah tersebut. Dan diharapkan setelah itu, akan lebih memotivasi dan membangkitkan semangat kaum Muslim untuk bisa melakukan ibadah di Baitullah, baik umrah maupun haji.

Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu, terutama Penerbit Al-Mawardi, sehingga buku ini bisa terbit sesuai harapan dan rencana. Dan juga terima kasih tak terhingga, kepada para pembaca yang telah berkenan membeli dan membaca buku ini. Teriring doa, kiranya Allah membalas semua kebaikan itu, dengan pahala yang besar. Amien.

KH. M. Rusli Amin


Daftar Isi

Daftar Isi
Pengantar Penulis
Ziarah Spriritual Sebagai Kebutuhan Manusia Modern
Gairah Berumrah Kaum Muslim Indonesia
Kerinduan pada Baitullah
Rasulullah pun Sangat Cinta dan Rindu Kepada Makkah
Mengenal Baitullah Sebelum Berhaji
Meraih Balasan Pahala Beribu Kali Lipat
Melebur Dosa-dosa
Perjalanan Menemukan Kembali Jati Diri
Menyaksikan Tanda Kekuasaan Allah di Ka'bah
Tanda Kekuasaan Allah pada Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim
Mengharap Doa-doa Dikabulkan Allah Swt
Allah Memiliki Semua yang Diminta Orang yang Berdoa
Menyaksikan Jejak Pengabulan Doa Nabi Ibrahim AS
Air Zam-zam dan Doa Nabi Ibrahim AS
Allah Menjadikan Keturunan Nabi Ibrahim AS Sebagai Orang Shalih
Kerinduan Kepada Makkah Adalah Hasil Doa Nabi Ibrahim AS
Buah-buahan Makkah dan Doa Nabi Ibrahim AS
Perjalanan Menuju Allah SWT
Di Baitullah, Allah Terasa Sangat Dekat
Semakin Beriman Pada Allah SWT
Meraih Shalat Khusyuk di Masjid Al-Haram
Nikmatnya Shalat di Baitullah
Belajar Tawakkal dari Kisah Siti Hajar
Melepas Rindu Berjumpa Rasulullah SAW
Panduan Singkat Tata Cara Umrah
     Di Hotel Madinah
     Di Masjid Bi’r ‘Ali
     Di Masjid al-Haram
     Melakukan Thawaf di Ka’bah
     Melakukan Sa’i antara Shafa dan Marwah
     Memotong atau Mencukur Rambut
Tentang Penulis

Kutipan

Gairah Berumrah Kaum Muslim Indonesia
Ada sebuah kenyataan menarik yang kita saksikan saat ini, yaitu meningkatnya gairah kaum Muslim Indonesia untuk menunaikan Ibadah Umrah di Tanah Suci Makkah, dan tentu juga yang demikian itu terjadi pada kaum Muslim di negara-negara lain. Teman-teman penulis yang berbisnis sebagai Penyelenggara Ibadah Haji dan Umrah biasa menceritakan, bahwa dewasa ini terjadi peningkatan semangat yang luar biasa dari kaum Muslim untuk berumrah.

Jika sekian tahun lalu, pada saat Pemerintah Saudi Arabia mulai memperbolehkan kaum Muslim menunaikan ibadah Umrah, setelah selesai musim haji, biasanya belum terlalu banyak orang melaksanakan Umrah kecuali beberapa bulan setelah itu, dan puncaknya pada saat umrah Ramadhan, tapi saat ini tidak lagi seperti itu. Begitu musim haji telah usai, dan Masjid al-Haram dibuka untuk kaum Muslim dari berbagai belahan dunia menunaikan ibadah Umrah, langsung ramai dan padat kaum Muslim menunaikan ibadah umrah tersebut.

Tentu banyak faktor yang mendorong meningkatnya gairah kaum Muslim berumrah di Baitullah, antara lain, karena semakin meningkatnya kesadaran beragama kaum Muslim, semakin meningkatnya kesejahteraan hidup secara ekonomi, ingin mewujudkan kerinduan sebagai seorang Muslim terhadap Baitullah, dan lain-lain.

Kerinduan Pada Baitullah
Di dalam diri setiap Muslim beriman, pasti ada kerinduan pada Baitullah, kerinduan untuk berjumpa dengan Baitullah, kerinduan untuk bisa menginjakkan kaki dan berada di dua tanah suci - Makkah dan Madinah, kerinduan untuk melihat Ka'bah secara langsung, kerinduan untuk dapat melaksanakan shalat di Masjid al-Haram, kerinduan untuk shalat di dekat Ka’bah, kerinduan untuk melaksanakan haji dan umrah.

Seorang Muslim yang setiap kali melaksanakan shalat harus menghadap ke arah Ka’bah-Baitullah di Makkah, tentu sangat mendambakan agar suatu saat benar-benar bisa melihat secara langsung Ka'bah Baitullah, sebagai kiblat shalatnya itu. Jika suatu saat ada saudara Muslim kita, atau tetangga kita, atau keluarga kita, yang pulang dari menunaikan ibadah haji, lalu menceritakan kepada kita tentang keagungan Baitullah, tentang keindahan masjid al- Haram di Makkah dan Madinah, tentang kenikmatan melaksanakan haji dan umrah, maka semakin bertambah keinginan kita untuk beribadah di Baitullah.

Rasulullah pun Sangat Cinta dan Rindu Kepada Makkah
Rasulullah Saw lahir dan dibesarkan di Makkah. Beliau menjalani kehidupan di Makkah selama kurang lebih 53 tahun. Lalu atas perintah Allah Swt, beliau hijrah (berpindah) ke Madinah bersama kaum Muslim. Sesungguhnya betapa berat bagi beliau meninggalkan Makkah, karena beliau sangat mencintai Makkah.

Beliau harus meninggalkan Makkah dan pindah ke Madinah, karena orang-orang kafir di Makkah memusuhi beliau, menentang seruan beliau kepada agama Allah, mengusir beliau dari Makkah, bahkan hendak membunuh Rasulullah Saw. Maka Allah Swt memerintahkan beliau agar hijrah (pindah) ke Madinah.

“Dan ingatlah ketika orang-orang kafir Quraisy memikirkan tipu daya terhadapmu, untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfaal : 30).

Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah Saw berada di bukit bernama Khazwarah, beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya engkau (Makkah) adalah bumi (negeri) yang paling baik dan paling dicintai di sisi Allah Swt. Seandainya aku tidak diusir darimu (Makkah), pasti aku tidak meninggalkanmu.” (Diriwayatkan dari Ibnu Umar bin Adiy bin Abil Hamra, dikutip dari ‘Atiq bin Ghaits al-Biladi).