Buku Al Mawardi Prima hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati

Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati

UUD 1945 (versi Amandemen), pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Pa-sal 31, ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pe-ngetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Undang-undang tersebut sangat jelas dan gamblang. Tidak diragukan, bahwa pendidikan seharusnya menciptakan manusia yang bisa membangun peradaban dunia selaras dengan misi diciptakannya, yaitu menjadi khalifah Allah di muka bumi. Seorang khalifah tentu dituntut mempunyai sifat-sifat terpuji menyontoh sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya yang indah. Seorang khalifah wajib menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan memanusiakan manusia. Seorang khalifah harus mempunyai kepribadian mulia dan berakhlak karimah.

Seperti apa proses pendidikan yang bisa mengantarkan manusia menjadi khalifah Allah? Baca buku ini, yang ditulis oleh DR. Hamka Abdul Aziz, MSi., Anda akan menemukan jawaban dan cara mengembangkan orientasi pendidikan yang, insya Allah, bisa mengantarkan pada kesuksesan hidup. Kita semua punya tanggung jawab yang sama dalam memajukan bangsa dan negara kita. Kunci utamanya adalah pendidikan yang kaffah, yaitu pendidikan yang melahirkan manusia-manusia terampil (profesional) dan berakhlak karimah.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Hamka Abdul Aziz, Dr. MSi
Editor: Dwi Bagus MB / Al-Mawardi Prima

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9789793862828
Terbit: April 2012, 218 Halaman

Ikhtisar

UUD 1945 (versi Amandemen), pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Pa-sal 31, ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pe-ngetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Undang-undang tersebut sangat jelas dan gamblang. Tidak diragukan, bahwa pendidikan seharusnya menciptakan manusia yang bisa membangun peradaban dunia selaras dengan misi diciptakannya, yaitu menjadi khalifah Allah di muka bumi. Seorang khalifah tentu dituntut mempunyai sifat-sifat terpuji menyontoh sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya yang indah. Seorang khalifah wajib menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan memanusiakan manusia. Seorang khalifah harus mempunyai kepribadian mulia dan berakhlak karimah.

Seperti apa proses pendidikan yang bisa mengantarkan manusia menjadi khalifah Allah? Baca buku ini, yang ditulis oleh DR. Hamka Abdul Aziz, MSi., Anda akan menemukan jawaban dan cara mengembangkan orientasi pendidikan yang, insya Allah, bisa mengantarkan pada kesuksesan hidup. Kita semua punya tanggung jawab yang sama dalam memajukan bangsa dan negara kita. Kunci utamanya adalah pendidikan yang kaffah, yaitu pendidikan yang melahirkan manusia-manusia terampil (profesional) dan berakhlak karimah.

Pendahuluan / Prolog

Pendahuluan
Dengan mengucap syukur kepada Allah, Rabbil ‘alamin, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulisan buku PENDIDIKAN KARAKTER BERPUSAT PADA HATI (Akhlak Mulia Pondasi Membangun Karakter Bangsa) dapat kami selesaikan. Tentu saja kami sadari, isinya jauh dari sempurna. Penulisan buku ini sesungguhnya dimotivasi oleh keprihatinan Penulis, melihat realitas sosial dengan semakin hilangnya karakter bangsa, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Keprihatinan juga kami rasakan karena semakin jauhnya praktik pendidikan di Indonesia dari tujuan pendidikan nasional yang hendak mencapai kualitas manusia Indonesia yang tidak hanya memiliki kesadaran intelektual dan kemampuan keterampilan (skill), tapi juga kesadaraan berakhlak mulia cermin dari kualitas keimanan dan ketakwaan sebagai insan fi ahsani taqwim.

Untuk mengantarkan Pembaca memahami isi buku ini, maka akan kami uraikan beberapa kata kunci yang termuat pada buku ini, yang mungkin berguna sebagai pembuka pintu untuk memasuki ruang-ruang kecerdasan di dalam buku ini, insya Allah.

Pendidikan Tidak ada manusia yang terlepas dari proses pembelajaran, sejak bayi dalam kandungan ibunya, kemudian dalam buaian, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, hingga dapat meraih sesuatu. Dalam proses pembelajaran tentunya ada hasil yang diperoleh untuk pendewasaan diri. Proses pembelajaran ini harus dilakukan secara terus-menerus. Belajar adalah aktivitas yang sangat penting bagi seluruh manusia, karena dengan itu manusia dapat mengetahui, mengerti, dan memahami sesuatu.

Pendidikan berasal dari kata “didik.” Bila kata ini mendapat awalan “me” akan menjadi “mendidik,” artinya memelihara dan memberi pelatihan. Dalam memelihara dan memberi pelatihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan bimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan lebih dari sekadar pengajaran, karena pengajaran hanyalah aktivitas proses transfer ilmu belaka, sedang pendidikan merupakan transformasi nilai dan pembentukan karakter dengan segala aspek yang dicakupnya. Melalui pendidikan diharapkan manusia benar-benar menemukan “jati dirinya” sebagai manusia.

Proses pembelajaran dialami manusia sepanjang hayatnya, serta dapat berlaku di mana pun dan kapan pun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai suatu objek yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotorik) seorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi aktif antara guru dengan peserta didik.

Hati Hati atau Qalb (diindonesiakan menjadi kalbu) adalah media bagi manusia untuk menerjemahkan dirinya dalam memikirkan dan memahami perilaku lahir dan batin sesuai dengan kehendak Allah. Hati sangat terkait erat dengan seluruh aktivitas manusia. Sebelum para psikolog menyadari fungsi hati (qalb, kalbu) ini, Rasulullah Saw lebih dari 14 abad yang lalu telah menginformasikan,

Ketahuilah bahwa dalam tubuh (manusia) terdapat mudghah (segumpal daging), bila dia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Dan bila dia rusak, maka akan rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati (qalb). (HR. Bukhari & Muslim)

Informasi yang diberikan Rasulullah Saw sangat berharga bagi pengembangan berbagai disiplin ilmu. Sehingga semua ilmu seharusnya mengaitkan hati dalam landasan etik dan operasionalnya. Begitu juga indera manusia, harus selalu dihubungkan dengan hati. Mata dan telinganya, misalnya. Dua indera yang menjadi “jendela dunia” bagi manusia. Kalau manusia melihat dan mendengar sesuatu “apa adanya” saja, maka sesungguhnya dia tidak beda dengan binatang. Karena binatang juga melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga segala sesuatu sesuai keadaan yang sebenarnya. Tapi bila dalam melihat dan mendengar manusia menggunakan qalb (hati)-nya, maka akan banyak hikmah tersembunyi yang dia dapatkan.

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguh-nya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS. Al-Hajj [22]: 32)

Tentu saja yang dimaksud dengan “hati” dalam sabda Rasulullah Saw dan firman Allah itu bukan hati dalam pengertian organ tubuh (bahasa Yunani: ἡπαρ, hēpar), alat ekskresi yang merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh dan terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. Hati di sini adalah “komponen ruh” manusia yang senantiasa (ingin) berhubungan dengan Sang Pencipta.

Sesungguhnya tragedi kemanusiaan terbesar abad kita (yang tidak pernah kita sadari) adalah rusaknya hati. Karena kerusakan hati menyebabkan terjadi dekadensi moral dan krisis akhlak, padahal itu berdampak sangat besar pada peradaban manusia. Hati yang baik akan mengarahkan manusia untuk mendengar dan memperhatikan peringatan (dan ayat-ayat) Allah. Hanya dengan begitu manusia berada dalam posisi yang sebenarnya sebagai abdillah, yang sangat tergantung dan senantiasa mengagungkan Allah.

Jadi, kalau hati seseorang tidak terkait dengan Allah, dia tidak mau mendengar, melihat Kebesaran Allah, tidak mensyiarkan Keagungan Allah, itu berarti hatinya tertutup (kufr). Hanya hati yang hidup yang akan selalu terhubung dengan Allah. Dan hati itulah yang akan menggerakkan aktivitas positif dalam rangka menebarkan kebajikan.

Akhlak Akhlak adalah proyeksi hidup manusia dalam mencerminkan peranan sifat-sifat Allah sebagai abdillah untuk mengemban amanah Sang Khaliq, atau memerankan sifat-sifat ke-khaliq-an yang ada dalam diri setiap makhluk (khususnya manusia), yang dengan itu manusia dapat menciptakan segala sesuatu untuk kemaslahatan hidupnya. Dengan kata lain, akhlak adalah hubungan yang “selayaknya” antara manusia dengan Tuhan yang telah menciptakannya dengan segala kelebihan sebagai makhluk. Lebih sederhana lagi begini pengertiannya; Allah sebagai Khaliq menciptakan (khalaqa) makhluk, dan “tata krama dan sopan santun” makhluk kepada Allah itulah yang disebut akhlak. Kalau sikap dan tingkah laku manusia kepada Allah, sebagai Sang Pencipta, tidak baik, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Bukan saja dia tidak tahu bersyukur, tapi juga dia telah berlaku aniaya.

Mulia Mulia semakna dengan indah atau bagus. Mulia sangat berkaitan dengan sikap manusia yang tercermin dari suara dan gerakan hatinya. Seseorang dikatakan mulia karena melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat dan berguna untuk dirinya, orang lain dan lingkungannya. Di dalam sikap mulia terkandung muatan sikap untuk memberikan yang terbaik dan menerima yang terburuk sekali pun, hingga sering kita mendengar ada pernyataan, “mulia sekali hatinya.” Hal ini menunjukkan bahwa mulia hanya dapat diajarkan dengan hati yang jujur, cerdas, disiplin dan bertanggung jawab untuk selalu memperbaiki diri menuju kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw menyatakan bahwa orang yang baik (mulia) adalah dia yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Dengan kata lain, kemuliaan seseorang sangat bergantung pada prestasinya yang bisa dirasakan oleh orang banyak, bukan untuk dinikmati sendiri.

Dan Rasulullah Saw adalah orang pertama yang berada di garis depan kemuliaan akhlak, sehingga Allah memuji beliau, Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Pondasi Pondasi adalah bagian awal yang harus dibuat ketika kita akan mendirikan suatu bangunan. Pondasi inilah yang nanti akan dijadikan tempat mendirikan bangunan. Suatu bangunan dapat berdiri tegak bila memiliki tiga perangkat yang mendukung untuk menguatkan struktur bangunan tersebut. Tanpa tiga perangkat ini, dapat dipastikan bangunan itu tidak akan berdiri dengan kokoh dan stabil. Adapun tiga perangkat tersebut yaitu; atap, tiang dan pondasi. Atap berfungsi untuk meneduhkan bangunan, tanpa atap bangunan akan mudah rusak. Sedangkan tiang berfungsi untuk menahan atap dan “penghubung” antara pondasi dengan atap. Tanpa tiang bangunan akan mudah roboh. Dan pondasi berfungsi untuk menguatkan tiang serta atap agar tidak hancur. Tanpa pondasi yang kuat, tentu keseluruhan bangunan akan mudah goyah, bahkan roboh dan hancur.

Manusia juga laksana bangunan kokoh, yang memiliki perangkat sama seperti bangunan-bangunan lain. Dalam diri manusia, atap adalah simbol dari kepala. Sedangkan tiang adalah simbol dari badan. Dan pondasi adalah simbol dari kaki. Ketiga perangkat ini harus ada pada manusia. Bila ketiga perangkat ini tidak ada pada diri manusia, maka dia tidak dikatakan sebagai manusia. Bila manusia tidak memiliki kepala (atap), akibatnya tidak memiliki kendali atau ngawur apa yang dilakukannya. Hasilnya bangunan tersebut menjadi kepanasan atau kebanjiran dan mudah rusak. Artinya, kalau “kepalanya” (sebagai simbol kepintaran/intelektualitas) tidak dipergunakan dengan semestinya dan sesuai peruntukkannya, maka semua tindakan manusia cenderung mengikuti hawa nafsu. Potensi akalnya dirusak. Kecerdasan dikebiri. Dan pikirannya dibiarkan liar tak beraturan, menabrak-nabrak nilai dan norma (baik agama maupun budaya).

Bila manusia tidak memiliki badan (tiang), artinya antara kepala dan kakinya menyatu seperti hantu, maka perbuatan manusia tidak mempunyai penopang, sehingga cenderung membabi buta dan tidak terarah. Ini seperti, bangunan yang tidak bisa berdiri sempurna. Badan atau batang tubuh adalah salah satu bagian vital manusia, karena di dalamnya terdapat jantung, hati, dan organ-organ pencernaan lain, yang semua bekerja secara harmonis, sesuai dengan mekanisme yang telah diatur oleh Allah sedemikian rupa.

Sedangkan apabila manusia tidak memiliki kaki (pondasi), maka dia tidak bisa bergerak aktif dan dinamis untuk sampai kepada tujuan hidupnya. Dia akan mengalami stagnasi. Dia berada dalam kegelapan (zhulum) karena tidak bisa bergerak keluar dari boks yang mengkungkungnya (out of the box). Kaki adalah lambang aktivitas yang aktif dan dinamis. Yang membawa seseorang pada idea-idea baru dan cemerlang. Yang mengantarkan seseorang sampai pada kepasrahan dan penyerahan diri kepada Tuhan. Dalam konteks bangunan, bila tidak mempunyai pondasi hanya tampak kuat saja, padahal sesungguhnya di dalamnya keropos dan membahayakan, karena rawan roboh dan hancur berantakan.

Karakter Karakter adalah watak atau sifat, fitrah yang ada pada diri manusia. Contoh sederhananya adalah kayu yang ada di hutan, yang masih berupa pohon-pohon adalah karakter. Sedangkan kayu yang sudah menjadi bangku, meja, lemari dan sebagainya adalah komoditas. Pada hakikatnya semuanya adalah kayu hutan. Bedanya, kayu yang masih ada di hutan belum dicemari oleh gergaji, mesin, bahan atau zat kimia tertentu dan lain sebagainya. Sedangkan kayu yang sudah menjadi komoditas; meja, kursi, lemari, pintu, jendela dan sebagainya, sudah dikemas oleh “polesan dunia,” berupa berbagai macam bentuk, desain, fungsi, dan zat kimia yang menempel pada kayu tersebut.

Sama halnya dengan manusia. Secara karakter, manusia adalah fitrah. Apa adanya. Sedangkan secara komoditas manusia sudah tersentuh dengan “polesan dunia,” seperti gelar sarjana (S1, S2, S3), pengusaha, tentara, presiden, menteri, kyai, ulama, dan sebagainya. Fitrah manusia diciptakan dari tanah, sifat tanah yaitu menerima dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, dari tumbuhan tersebut menghasilkan buah yang terbaik, maka sifat manusia haruslah mengikut tanah yaitu siap menerima dan memberikan hasil yang terbaik bukan memberikan yang terburuk.

Bangsa Bangsa adalah sekumpulan masyarakat yang mendiami suatu wilayah dan mempunyai satu atau beberapa kesamaan, baik etnis, budaya, ideologi, agama dan sebagainya yang satu sama lain saling terikat. Suatu bangsa dapat berdiri kokoh bila memiliki tiga persyaratan. Yang pertama, adanya pemerintahan dalam rangka membuat peraturan (regulasi) dan peranan untuk keamanan-ketertiban. Kedua, adanya rakyat sebagai orang-orang yang dipimpin untuk menjalankan dan menerapkan peraturan serta peranan yang sudah ada, juga untuk membuat pemerintahan mempunyai legitimasi yang kuat. Ketiga, adanya peraturan dan hukum, dalam rangka Untuk mencapai kondisi yang demikian, maka ketiga persyaratan tersebut harus berfungsi secara maksimal dan seimbang. Artinya seluruh tatanan yang telah diciptakan dan disepakati melalui sebuah lembaga resmi kenegaraan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Pemerintah memahami peranan, hak, dan kewajibannya. Begitu juga rakyat, mereka juga mengetahui peranan, hak, dan kewajibannya. Kalau itu tidak berjalan, maka kelangsungan hidup bangsa (negara) itu akan mengalami masalah berkaitan dengan banyak hal, yang ujung-ujungnya akan terjadi kerusakan akhlak (dekadensi moral) bangsa itu. Kalau ini yang terjadi, maka eksistensi bangsa atau negara itu akan terancam.menjadikan bangsa menjadi negara yang aman, tertib hukum dan terkendali.

Daftar Isi

Sampul
Daftar Isi
Pengantar Penerbit
Pengantar Penulis
Bab 1: MANUSIA SEBAGAI SASARAN PENDIDIKAN
     A. Pengantar
     B. Fungsi Manusia
     C. Pengembaraan Intelektual Dan Spiritual Manusia
     D. Makhluk Yang Kompleks
     E. Budaya Yang Membentuk Karakter
     F. Karakter Yang Menjadi Budaya
     G. Krisis Budaya Tanda Matinya Karakter?
Bab 2: Pendidikan Yang Memanusiakan Manusia
     A. Pengantar
     B. Definisi, Tujuan dan Misi Pendidikan
     C. Tujuan Pendidikan Yang Terlupakan (?)
     D. Pendidikan Yang Mencerahkan
     E. Fungsi Pendidikan
Bab 3: Pendidikan Akhlak Mulia
     A. Pengantar
     B. Esensi Tujuan Pendidikan Nasional dalam Pembangunan Karakter Bangsa
     C. Akhlak Mulia sebagai Tujuan Pendidikan
Bab 4: Karakter Akhlak Mulia Berpusat Pada Hati
     A. Pengertian Karakter
     B. Pengertian Akhlak Mulia
     C. Peranan Hati Dalam Membentuk Akhlak Mulia
     D. Ranah Pendidikan
     E. Kurikulum Pendidikan Karakter
Daftar Pustaka

Kutipan

Bab 1: Manusia Sebagai Sasaran Pendidikan - Pengantar
Menurut para pemikir Barat, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sulit didefinisikan. Ini karena mereka tidak percaya bahwa manusia bukan hanya makhluk jasmani, tapi juga makhluk ruhani. Banyak filosof atau pemikir yang menolak mengatakan bahwa manusia termasuk makhluk ruhani. Sebab, bagi mereka, ruhani itu sesuatu yang abstrak, tidak nyata. Sedang bicara soal manusia adalah bicara kenyataan. Dan kenyataan, tentu saja, bisa diukur dengan parameter yang telah disepakati bersama, dan bisa dijelaskan. Tentu saja tidak demikian. Manusia memang makhluk yang unik, oleh karenanya tidak perlu repot-repot mencari definisi atasnya. Tinggal lihat saja rujukan (referensi) yang pasti benar ketika bicara tentang manusia, yaitu Al-Qur’an.

Ruhani, ruh atau apa pun namanya untuk mengatakan se-suatu yang menjadi “sisi dalam” manusia itu, tidak bisa dibuktikan ada dan tidaknya secara empiris. Ruh atau sisi dalam manusia itu tidak bisa di-laboratorium-kan. Tapi bahwa manusia mempunyai jiwa, hampir semua filosof dan ilmuwan setuju. Meskipun yang disebut “jiwa” (nafs) itu sendiri juga sesuatu yang abstrak dan sama tidak jelasnya dengan ruh (ruhani). Dan memang, ketika tamu-tamu Rasulullah Saw, yaitu para pendeta Nasrani dari Najran, bertanya kepada beliau tentang ruh, Rasulullah Saw hanya menjawab sesuai dengan yang Allah Jalla wa ‘Ala wahyukan saja,

“(Masalah) ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit (saja).” (QS. Al-Isra [17]: 85)

Anak kalimat “dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit (saja),” menjadi perdebatan para Ulama. Apakah yang dimaksud dengan “pengetahuan” adalah manusia tidak diberi (ilmu) pengetahuan tentang ruh oleh Allah kecuali hanya sedikit sekali. Artinya, ada juga manusia yang tahu dan mengerti tentang ruh, walaupun hanya sedikit. Sedikit dalam kualitas pengetahuannya maupun sedikit dalam jumlah orang yang mengetahuinya. Atau, Allah tidak memberi manusia pe-ngetahuan—tentang apa saja—kecuali hanya sedikit dibanding dengan pengetahuan dan ilmu Allah.

Yang jelas, masalah ruh adalah hak prerogatif Allah. Dia Yang Maha Tahu, apa sebenarnya ruh itu, apa substansinya, dan apa pula hakikatnya. Oleh karena itu, kita tidak akan membicarakan masalah yang menjadi rahasia Allah ini terlalu jauh, karena khawatir akan terjebak oleh asumsi-asumsi berdasarkan pikiran saja. Sebagaimana kita juga tidak akan memberikan definisi apa-apa untuk manusia, karena memang makhluk yang Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati 23 paling kompleks. Lagi pula percuma saja kalau setelah kita bersusah payah mendefinisikan manusia, tapi ternyata upaya itu sama sekali tidak mendekatkan diri kita secara benar kepada yang menciptakan manusia itu, yaitu Tuhan. Biarlah soal definisi-mendefinisikan ini menjadi “tanggungjawab” para filosof dan psikolog saja, yang mereka tidak akan sampai pada hakikat manusia tanpa mereka merujuk kepada Al-Qur’an.

Mengapa manusia sulit sekali—bahkan mungkin tidak akan bisa—didefinisikan? Ya, karena bukan untuk itu manusia diciptakan. Tuhan tidak menciptakan manusia untuk diberi definisi atau dikonsepsikan menurut akal dan kemauan manusia sendiri. Ini bukan berarti manusia tidak boleh mengenal dirinya sendiri. Justru Allah Jalla wa ‘Ala memerintahkan agar manusia mengenali dirinya. Tapi pengenalan itu bukan untuk membuat manusia kerepotan mencari dan merumuskan definisi dengan bahasa-bahasa yang njilemet tentang dirinya dan keberadaannya. Pengenalan manusia atas dirinya semata-mata diarahkan untuk lebih mengenal siapa yang telah menciptakannya. Dan ketika dia sudah mengenal Tuhannya dengan benar, dia diharapkan tunduk, patuh pada perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya. Oleh karena itu, referensi utama bagi manusia untuk mengenal dirinya adalah Kitab Suci yang berasal dari Tuhan yang menciptakan manusia.

Memang dalam Al-Qur’an, Allah menyebut manusia dengan beberapa istilah yang menunjukkan peran atau fungsinya dan juga kualitasnya. Terkadang manusia disebut “al-insaan,” dalam kesempatan lain disebut “an-naas,” di lain tempat disebut “al-basyar,” dan kadang juga secara umum disebut “Bani Adam,” anak-cucu keturunan Adam. Penyebutan manusia dengan berbagai istilah itu seolah-olah Allah ingin menunjukkan bahwa manusia memang makhluk-Nya yang paling kompleks.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (QS. At-Tiin [95]: 4-6)

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat (karunia) Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya (menghitungnya). Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim [14]: 34)

Kata “al-basyar” digunakan dalam Al-Qur’an ketika Allah ingin menunjukkan manusia sebagai makhluk yang cerdas, mengalami proses pematangan setahap demi setahap, sehingga ketika sudah sampai pada taraf kedewasaan dia mampu memikul tanggungjawab. Dari sini bisa disimpulkan bahwa manusia sebagai “al-basyar” adalah sosok yang sama dengan manusia lainnya, yang oleh karenanya mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama pula.

Allah Jalla wa ‘Ala menginstruksikan kepada Rasulullah Saw untuk menyampaikan seruan kepada manusia:

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia (basyar) seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110)

Menjadi masuk akal kalau Allah memikulkan tugas dan tanggungjawab kekhalifahan kepada manusia sebagai basyar. Karena saat itulah, manusia sudah dalam kondisi yang tepat dan siap secara fisik, psikis dan spiritual.

Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi….” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia (basyar) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr [15]: 28-29)

Jelaslah bagi kita, bahwa basyar yang diciptakan dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam itu adalah manusia yang akan dijadikan khalifah di muka bumi. Karena para malaikat disuruh sujud oleh Allah kepada basyar yang khalifah itu, setelah proses penjadiannya sempurna.

Bab 1: Manusia Sebagai Sasaran Pendidikan - Fungsi Manusia
Secara sederhana, fungsi manusia dapat dikelompokkan berdasarkan sebutan khas-nya di dalam Al-Qur’an. Yaitu,

1. Manusia sebagai ins Manusia hanya dilihat sebatas aktivitas beribadahnya saja, yang sama dan sejajar dengan jin.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 56)

Dia berperilaku berdasarkan informasi yang masuk ke dalam otaknya saja, tanpa dipikirkan, apalagi diolah untuk kemudian dimengerti dan dipahami. Contohnya: Seorang guru yang mengajar hanya sebatas melaksanakan tugas untuk memenuhi kewajiban saja tanpa mau mengembangkan. Di luar kewajibannya, dia tidak mau mengerjakan. “Pengabdiannya” dia batasi sendiri dengan waktunya. Datang ke tempat mengajar pukul sekian, pulang pukul sekian dan selesai. Jadi aktivitasnya belum sampai kepada nilai ibadah dengan tuntas, hanya sebatas menggugurkan kewajiban mengajar.

Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah. (QS. Al-Jin [72]: 5) Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin [72]: 6)

2. Manusia sebagai an-naas

Sebagai “an-naas,” manusia hanya dilihat dari hasil dia mencari kebutuhan demi kebutuhan. Aktivitasnya hanya berkisar untuk mencari makan, menumbuhkan kekuatan fisik dan mencari kesenangan. Tentu saja semua manusia wajib mencari makan untuk perkembangan fisik, tapi alangkah naifnya bila orientasi hidup kita hanya diarahkan ke satu titik saja pada tubuh kita yaitu perut. Kita boleh-boleh saja mencari kesenangan, sebagai bagian dari aktualisasi diri kita dengan lingkungan. Tapi harus ada hal-hal besar dan lebih luas. Contohnya: Seorang guru yang mengajar hanya untuk mencari kebutuhan hidup semata. Dia datang ke tempat mengajar karena yakin setiap akhir atau awal bulan akan mendapatkan penghasilan (gaji) dari hasil pekerjaannya. Dia tidak bedanya dengan orang upahan.

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Naas [114]: 1-6 )

3. Manusia sebagai insan Manusia ditinjau dari struktur lahir dan batin yang memiliki panca indra, otak dan hati dengan sempurna.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). (QS. At-Tiin [95]: 4-5)

Perilaku kemanusiaan “insan” hanya untuk sekadar menambah wawasan semata. Bukan untuk kepentingan yang lebih besar lagi di luar diri, sehingga wawasannya tidak berguna sebagai media untuk dekat dengan Allah, misalnya untuk melahirkan atau menciptakan generasi yang lebih baik dan berakhlak mulia. Bila sekadar hebat wawasan namun kosong makna, akhirnya menjadi manusia “asfala safilin.”

4. Manusia sebagai basyar Manusia ditinjau dari sisi kecerdasan untuk memikirkan, memahami keberadaan diri (eksistensi), alam semesta dan Allah Jalla wa ‘Ala. Dalam dimensi ini, mulai turun wahyu untuk menerjemahkan amanah Allah pada dirinya. Contohnya seorang guru yang mengajarkan pemahaman kepada anak-anak didiknya apa yang dulu dia pernah diajarkan.

Katakanlah: “Bahwasannya aku hanyalah se-orang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya).” (QS. Al-Fushshilat [41]: 06)

Jadi, terjadi transformasi nilai yang bersifat dialogis di ruang belajar. Di mana subjek (guru) bisa bertukar predikat dengan murid (objek). Artinya, ketika sedang mengajarkan pemahaman, boleh jadi sesungguhnya guru juga sedang belajar dari murid. Dari keadaan ini, posisi guru menjadi objek, dan muridlah subjeknya.

5. Manusia sebagai khalifah Khalifah adalah peran lain manusia di muka bumi. Ini adalah peran yang sangat berat, karena manusia harus mengubah perilaku dirinya (juga menularkannya pada yang lain) agar lebih baik dari sebelumnya. Bahkan manusia mempunyai kemampuan mengubah batu menjadi rumah, kayu menjadi bangku, kursi dan lemari, mengubah besi menjadi kendaraan yang mempermudah aktivitasnya, misalnya menjadi sepeda, motor, mobil, kereta, pesawat udara, kapal laut dan sebagainya. Dari semua kemampuan itu, yang paling utama adalah manusia dapat mengubah pola pikir, pola rasa menjadi pola sadar dalam bertindak dan berperilaku.

Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mere-ka (para Malaikat) berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Pada peran inilah manusia menempati posisi tertinggi seba-gai makhluk Allah. Karena dia telah menjadi “wakil Tuhan” di muka bumi. Yang tugasnya ikut menata dan mengelola bumi dengan segala yang ada di dalamnya. Baik berupa sumber daya manusia, maupun sumber daya alam. Contohnya seorang guru yang tidak sekadar mengajar murid-murid, tapi juga memberi pemahaman dan mengubah pola rasa, pola pikir, dan pola tindakan murid menjadi lebih baik dan lebih benar.

6. Manusia sebagai ‘abdullah Sebagai ‘abdullah, manusia berada di titik “nol” dalam pusaran alam semesta. Dia adalah sesuatu yang kecil, bahkan tidak berarti di hadapan Penciptanya. Tapi posisi ini juga yang bisa membuat manusia menjadi tinggi derajatnya di sisi Allah. Sebagai ‘abdullah, manusia merasa, berpikir, berperilaku, bertindak berdasarkan ayat-ayat Allah (Kehendak-Nya) perbuatan yang dilakukannya semata-mata hanya karena Allah.

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah (‘abdullah). Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam [19]: 30)

Contohnya, seorang guru yang mengajar, menjadikan murid sebagai (seolah-olah) dirinya sendiri. Dia juga ikut merasa bertanggungjawab terhadap perkembangan jiwa dan perilaku murid, sehingga dia berusaha menjadikan murid-muridnya berperilaku sesuai dengan “keinginan” Allah, sebagai Pemilik sebenarnya dari kehidupan dirinya. Dia akan merasa gagal bila mendapati kenyataan anak-anak didiknya Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati 31 justru semakin menjauh dari Allah. Tapi dia akan merasa senang ketika tahu anak-anak didiknya berhasil mengelola potensi kebaikannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenar-nya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat. (QS. Al-An’aam [6]: 62)

Bab 1: Manusia Sebagai Sasaran Pendidikan - Pengembaraan Intelektual Dan Spiritual Manusia
Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak membiarkan manusia berlama-lama menghabiskan waktu hanya untuk mengetahui hakikat dirinya. Karena telah berlalu ratusan bahkan ribuan filosof, generasi demi generasi dari segala bangsa, yang memikirkan dengan intens hakikat manusia. Semua potensi akal, mereka kerahkan untuk sampai pada kesimpulan yang tepat tentang “apa” sebenarnya manusia itu. Tapi sampai sekarang, belum ada satu pun filosof yang berhasil merumuskan “apa itu manusia,” dan rumusannya diterima dan dipakai oleh semua pihak.

Wajar saja, sebagai makhluk yang berpikir, manusia ingin mengerti dan memahami dirinya. Tapi semakin mereka ingin mengerti dirinya, mereka semakin digiring pada sebuah labirin yang membingungkan, seolah tidak ada pangkal dan tidak ada juga ujungnya.