Buku Al Mawardi Prima hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Ibu... : Kisah Inspiratif "Khadijah" Wanita Mulia Penghuni Surga

Ibu...

Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta alam. Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu terlimpahkan kepada Nabi, Rasul dan Kekasih Allah, Muhammad Rasulullah Saw. Dan semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan rahmat, petunjuk dan ampunan kepada segenap kaum Muslim, amiiin.

Kepada para pembaca, kembali penulis persembahkan sebuah karya terbaru dengan judul, IBU; Kisah Inspiratif “Khadijah” Wanita Mulia Penghuni Surga. Dan hanya karena pertolongan Allah Swt, buku ini bisa ditulis dan diterbitkan. Harapan besar saya, kiranya kehadiran buku ini, bisa mengantar kaum Muslim untuk mengenal lebih mendalam Khadijah binti Khuwailid, istri sang Rasul tercinta, ibu orang-orang beriman, wanita terbaik sepanjang masa, wanita yang mendapatkan salam dari Allah melalui Malaikat Jibril, wanita yang dibuatkan Allah istana untuknya di surga.

Juga, kiranya buku ini bisa menginspirasi kaum Muslim tentang banyak hal untuk membangun karakter Muslim, mengetahui berbagai kunci utama membina keluarga sakinah dan juga mengenal berbagai kunci penting meraih kesuksesan hidup. Dan ada satu hal sangat khusus yang saya niatkan melalui penulisan buku ini, yaitu kiranya menjadi tanda cinta kepada Rasulullah Saw dan keluarga beliau, cinta kepada Khadijah binti Khuwailid, berarti juga tanda cinta kepada Rasulullah Saw, yang melalui itu semoga kelak dapat memperoleh syafaat Rasulullah Saw.

Terima kasih saya tak terhingga kesekian kalinya kepada penerbit AMP Jakarta yang telah berkenan menerbitkan buku ini. Terima kasih kepada Bapak H. Evi Afrizal Sinaro, kepada Saudara Abdul Hanan al-Hasany dan semua rekan penulis di AMP Press Jakarta. Terima kasih kepada para pembaca buku ini. Teriring doa, kiranya Allah selalu memudahkan segala urusan, melancarkan rezeki, mengampuni dosa-dosa, menambah ilmu pengetahuan. Amiiin.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Muhammad Rusli Amin, Al-Ustadz H. MA
Editor: Al-Mawardi Prima

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9786029247305
Terbit: Februari 2014, 224 Halaman

Ikhtisar

Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta alam. Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu terlimpahkan kepada Nabi, Rasul dan Kekasih Allah, Muhammad Rasulullah Saw. Dan semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan rahmat, petunjuk dan ampunan kepada segenap kaum Muslim, amiiin.

Kepada para pembaca, kembali penulis persembahkan sebuah karya terbaru dengan judul, IBU; Kisah Inspiratif “Khadijah” Wanita Mulia Penghuni Surga. Dan hanya karena pertolongan Allah Swt, buku ini bisa ditulis dan diterbitkan. Harapan besar saya, kiranya kehadiran buku ini, bisa mengantar kaum Muslim untuk mengenal lebih mendalam Khadijah binti Khuwailid, istri sang Rasul tercinta, ibu orang-orang beriman, wanita terbaik sepanjang masa, wanita yang mendapatkan salam dari Allah melalui Malaikat Jibril, wanita yang dibuatkan Allah istana untuknya di surga.

Juga, kiranya buku ini bisa menginspirasi kaum Muslim tentang banyak hal untuk membangun karakter Muslim, mengetahui berbagai kunci utama membina keluarga sakinah dan juga mengenal berbagai kunci penting meraih kesuksesan hidup. Dan ada satu hal sangat khusus yang saya niatkan melalui penulisan buku ini, yaitu kiranya menjadi tanda cinta kepada Rasulullah Saw dan keluarga beliau, cinta kepada Khadijah binti Khuwailid, berarti juga tanda cinta kepada Rasulullah Saw, yang melalui itu semoga kelak dapat memperoleh syafaat Rasulullah Saw.

Terima kasih saya tak terhingga kesekian kalinya kepada penerbit AMP Jakarta yang telah berkenan menerbitkan buku ini. Terima kasih kepada Bapak H. Evi Afrizal Sinaro, kepada Saudara Abdul Hanan al-Hasany dan semua rekan penulis di AMP Press Jakarta. Terima kasih kepada para pembaca buku ini. Teriring doa, kiranya Allah selalu memudahkan segala urusan, melancarkan rezeki, mengampuni dosa-dosa, menambah ilmu pengetahuan. Amiiin.

Daftar Isi

Persembahan
Daftar Isi
Bab 1 - Sekilas Tentang Masa Awal Kehidupan Khadijah Binti Khuwailid
     Tentang Orang Tua Khadijah
     Awal Kegiatan Bisnis Khadijah
Bab 2 - Menjadi Wanita Sukses
     Khadijah Binti Khuwailid Wanita Paling Sukses
     Islam Memuliakan Wanita
     Jadilah Wanita Sukses
Bab 3 - Bermitra dengan Orang Berakhlak Mulia, Kunci Meraih Keberuntungan
     Khadijah Bermitra Bisnis dengan Muhammad SAW
     Bermitra Karena Ahlak Mulia Muhammad SAW
     Manusia Harus Saling Bekerjasama
     Bekerjasama dengan Orang Berakhlak Mulia
Bab 4 - Memilih Orang Baik Menjadi Pasangan Hidup
     Pernikahan Khadijah dengan Muhammad SAW
     Memilih Orang Baik Menjadi Pasangan Hidup
     Perkara Utama yang Harus Diperhatikan Dalam Memilih Pasangan Hidup
BAB 5 - Cinta Sebagai Faktor Penting Rumah Tangga Sakinah
     Kekuatan Cinta Nabi Muhammad SAW dan Khadijah
     Makna Cinta
     Mawaddah Adalah Cinta Plus
BAB 6 - Peran Wanita Bagi Kemajuan Islam
     Peran Khadijah Binti Khuwailid dalam Perjuangan Islam
     Para Muslimah yang Berjuang Bersama Rasulullah SAW
     Peran Wanita bagi Kemajuan Islam
BAB 7 - Bersabar Menghadapi Cobaan Hidup
     Ujian Hidup Khadijah
     Rahasia-rahasia Musibah
     Kesabaran
BAB 8 - Akhir Kehidupan Khadijah Binti Khuwailid
Daftar Pustaka
Tentang Penulis

Kutipan

Bab 1 / Sekilas Tentang Masa Awal Kehidupan Khadijah Binti Khuwailid
TENTANG ORANG TUA KHADIJAH

Khadijah dilahirkan di Makkah. Ayah Khadijah bernama Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay. Ibu Khadijah bernama Fathimah binti Zaidah. Nenek Khadijah dari pihak ibu bernama Halah binti Abdi Manaf. Dengan demikian, Khadijah binti Khuwailid memiliki garis keturunan sama dengan Nabi Muhammad Saw, sebab Qushay yang merupakan leluhur Khadijah juga merupakan leluhur Nabi Muhammad, dari Bani Hasyim. Demikian juga Abdu Manaf adalah kakek ketiga Nabi Muhammad Saw. Keluarga Khadijah adalah keluarga paling mulia dan terhormat di Makkah, tidak hanya karena kekayaan yang mereka miliki, akan tetapi terutama karena keluhuran akhlak mereka.

Ayah Khadijah, Khuwailid, terkenal sebagai seorang laki-laki yang cerdas, kaya, terhormat, berakhlak mulia, jujur dan terpercaya. Khadijah juga memiliki saudara sepupu bernama Waraqah ibnu Naufal ibnu Asad, yang merupakan salah satu dari empat orang Arab yang menolak menyembah berhala yang dilakukan kebanyakan orang Quraisy. Keempat orang tersebut melakukan pencarian terhadap agama yang benar, yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim As. Akhirnya Waraqah ibnu Naufal memeluk agama Nasrani dan mempelajari agama Nasrani sebagaimana yang diajarkan Nabi Isa As. Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang banyak mengetahui ajaran-ajaran agama Nasrani pada masanya.

Sayid A.A. Razwy menulis dalam bukunya Khadijah al-Kubra, A Short Story of Her Life, bahwa Waraqah ibnu Naufal adalah saudara tertua dari seluruh saudaranya. Ia mengoreksi kepercayaan bangsa Arab karena menyembah berhala, kepercayaan yang telah menyimpang dari ajaran nenek moyang mereka yaitu Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As. Bangsa Arab telah melupakan dan meninggalkan tauhid-Keesaan Allah, yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As, lalu menyembah berhala. Waraqah mengikuti agama Ibrahim, menyembah Allah. Ia tidak pernah menyekutukan Allah. Ia juga tidak pernah melakukan perbuatan buruk seperti berjudi dan meminum minuman keras. Waraqah dianggap sebagai seorang yang berpengetahuan luas. Menurut keterangan bahwa ia telah menerjemahkan Bibel dari bahasa Yahudi ke dalam bahasa Arab. Ia juga membaca banyak tulisan yang ditulis oleh para pemuka agama Yahudi dan Nasrani.

Sebagaimana telah banyak diketahui kaum Muslim, bahwa salah satu kebiasaan buruk sebagian bangsa Arab Jahiliyah adalah mengubur bayi perempuan dalam keadaan hidup hingga meninggal dunia. Waraqah adalah seorang yang menentang kebiasaan buruk tersebut. Kapan saja, jika ia mendengar bahwa ada seorang laki-laki hendak mengubur hidup-hidup bayi perempuannya, maka ia segera pergi menemui laki-laki tersebut, lalu menasihatinya agar tidak melakukan perbuatan buruk itu. Dan jika apa yang dilakukan itu disebabkan karena kemiskinan, maka Waraqah pun segera menebusnya. Banyak kejadian, di mana para ayah yang pada mulanya bermaksud mengubur hidup-hidup bayi perempuannya, kemudian menyesali perbuatan mereka, lalu datang menemui Waraqah meminta kembali anak perempuan mereka. Waraqah ibnu Naufal menasihati mereka agar mencintai anaknya dan merawatnya dengan baik.

Seperti dikemukakan bahwa Waraqah ibnu Naufal adalah seorang penganut tauhid. Dan Khadijah binti Khuwailid sangat terpengaruh oleh gagasan-gagasan pemikiran Waraqah tentang tauhid-keesaan Allah, dan tentang kesalahan kaum Quraisy menyembah berhala. Karena itu, Khadijah pun sebagaimana Waraqah adalah seorang penganut tauhid, tidak menyembah berhala, ia merupakan penganut agama Nabi Ibrahim dan Ismail.

Sayid A.A. Razwy menjelaskan lebih lanjut, bahwa Khuwailid, ayah Khadijah, adalah seperti kebanyakan anggota suku Quraisy Makkah, merupakan seorang saudagar. Sebagaimana kebanyakan saudagar Makkah, Khuwailid memperoleh banyak penghasilan dari usaha perdagangan ke luar Makkah. Para pedagang Makkah berangkat bersama dua kafilah setiap tahunnya, satu pada musim panas dan satu lagi pada musim dingin. Kafilah dagang musim panas melakukan perjalanan dagang ke Syria sedangkan kafilah musim dingin melakukan perjalanan dagang ke Yaman.

Para kafilah dagang ini membawa hasil bumi gurun dan barang-barang lain dari wilayah Makkah dan sekitarnya, lalu menjualnya ke pasar-pasar di Syria dan Yaman. Mereka juga menjual kuda-kuda unggul di Syria, sebab kuda-kuda tersebut mempunyai harga jual yang tinggi di Syria dan sekitarnya. Setelah selesai menjual barang-barang dagangan yang mereka bawa dari Makkah, sebaliknya para kafilah dagang itu membeli barang dagangan untuk di bawa dan dijual di Makkah, seperti gandum, minyak zaitun, buah-buahan, kopi, tekstil dan barang mewah lainnya. Dengan demikian, mereka juga memperoleh keuntungan tatkala mendagangkan barang-barang dagangannya di Makkah.

Fathimah binti Zaidah, ibunda Khadijah, meninggal dunia sekitar tahun 575 Masehi sedangkan ayahnya, Khuwailid, meninggal dunia sekitar tahun 585 Masehi. Anak-anak Khuwailid mewarisi kekayaan yang ditinggalkan olehnya.

AWAL KEGIATAN BISNIS KHADIJAH

Telah menjadi kehendak Allah Swt bahwa Khadijah binti Khuwailid dianugerahi kunci-kunci utama dalam mengembangkan kemampuan berbisnisnya sehingga mengantarnya menjadi seorang pebisnis sukses, yaitu kecerdasan atau kemampuannya dalam berdagang dan juga modal materi yang besar untuk membangun bisnis, yang diwarisi dari ayahnya. Namun, seandainya Khadijah tidak mewarisi kekayaan yang ditinggalkan ayahnya, Khuwailid, ia tetap akan menjadi seorang pedagang sukses dengan bekal kecerdasan atau kemampuan dagang yang dimilikinya. Dan di antara anak-anak Khuwailid, hanya Khadijah satu-satunya yang mewarisi kemampuan tinggi menjadi pedagang sukses.

Dengan kekuatan kepribadiannya yang agung, Khadijah benar-benar menyadari tentang sifat harta yang menggoda untuk hidup bermewah-mewah dan berfoya-foya. Oleh karena itu, ia tidak membiarkan dirinya terperangkap pada godaan harta itu, lalu menjadi seorang pemalas dan hidup berfoya-foya. Untuk itu, dengan kecerdasan dagang serta karakter yang dimilikinya itu, Khadijah-pun memutuskan untuk memulai kegiatan bisnis, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh ayahnya.

Sayid A.A. Razwy menjelaskan, bahwa setelah ayah Khadijah, Khuwailid, meninggal dunia, Khadijah meneruskan dan mengurus bisnis keluarga yang ditinggalkan ayahnya, dan dengan cepat ia mampu mengembangkannya. Salah seorang pamannya dipercaya sebagai penasihat dalam urusan dagangnya, juga anggota keluarga yang lain ikut membantu. Meskipun demikian, jika terkait dengan pengambilan keputusan, ia tidak bergantung pada orang lain, akan tetapi ia mengambil keputusan berdasarkan ketajaman penilaiannya, dengan tetap menerima dan mempertimbangkan saran dari orang lain.

Kebanyakan pedagang yang memiliki barang dagangan dalam jumlah besar, untuk dijual di Syria atau Yaman, mereka ikut pergi bersama kafilah dagang, guna mengawasi jalannya jual-beli. Akan tetapi, jika dengan alasan tertentu, para pemilik barang dagangan tersebut tidak bisa meninggalkan Makkah untuk mengawal barang-barang dagangannya, maka iapun menyewa seseorang untuk membawa dan memperdagangkan barang-barang dagangannya itu. Orang itu berangkat bersama kafilah dagang ke Syria atau Yaman. Dan biasanya, orang yang dipercayakan untuk itu adalah seorang yang memiliki reputasi baik, seorang yang terpercaya. Orang semacam ini disebut agen atau manajer.

Dan Khadijah binti Khuwailid sendiri adalah orang yang lebih senang tinggal di rumah. Ia tetap tinggal di Makkah dan tidak melakukan perjalanan dagang ke Syria ataupun Yaman. Karena itu, kegiatan bisnis Khadijah lebih banyak dengan cara merekrut seorang agen setiap kali menjelang kafilah dagang telah siap untuk berangkat. Agen itu dipercayakan untuk membawa barang-barang dagangan miliknya dan memperdagangkannya. Kecerdasan bisnis luar biasa yang dimiliki Khadijah membuat ia selalu berhasil memilih agen yang tepat untuk membawa dan memperdagangkan barang-barang dagangan miliknya, sehingga iapun meraih keuntungan yang besar.

Di dalam kitab Tabaqat, Ibnu Sa’ad mengungkapkan bahwa kapanpun kafilah-kafilah dagang dari Makkah berangkat dalam perjalanan dagang mereka, maka barang dagangan milik Khadijah pasti lebih banyak dari milik para pedagang yang lain. Bahkan dikatakan barang dagangan milik Khadijah setara dengan barang dagangan yang dimiliki seluruh pedagang. Penduduk Makkah memberinya julukan sebagai Putri Quraisy dan Putri Makkah.

Meskipun Khadijah menjadi seorang kaya raya sebagai hasil bisnisnya, namun ia tidak hanya menikmati kekayaannya itu untuk diri dan keluarganya sendiri. Tapi ia juga suka menolong orang lain dengan kekayaan yang dimilikinya, seperti orang-orang miskin, anak-anak yatim, para janda, juga orang sakit dan cacat. Konon, jika ada gadis-gadis miskin yang hendak menikah, Khadijah menyediakan biaya untuk membantu mengurus pernikahan mereka.