Buku Al Mawardi Prima hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Imunisasi Sunnatullah: Aplikasi Ilmu Kedokteran Pencegahan untuk Meraih Sehat Wal Afiat

Imunisasi Sunnatullah

Penyakit infeksi menular kayaknya tetap akrab dalam kehidupan umat manusia. Di samping penyakit yang sejak zaman dahulu kala masih ada, sekarang bermunculan penyakit infeksi baru yang lebih ganas (new emerging disease), contohnya; HIV, SARS, Flu burung, Ebola, dll. Semua penyakit ini menghebohkan karena sifatnya yang cepat menular, manifestasi gejala yang cenderung berat dengan angka mortalitas yang masih tinggi.

Menyikapi kondisi ini, sebaiknya kita tidak mengabaikan Ilmu Kedokteran Pencegahan. Yakni ilmu kedokteran dalam rangka meraih kehidupan yang Sehat Wal ‘afiat. Imunisasi yang merupakan salah satu Ilmu Kedokteran Pencegahan yang faktual, sudah terbukti bermamfaat untuk melindungi umat manusia. Berbagai studi menunjukkan bahwa imunisasi dengan cara vaksinasi telah dapat menurunkan insiden beberapa penyakit infeksi menular, seperti; Polio, Difteri, Tetanus dan Campak. Bahkan Cacar (Small Pox) telah punah dari permukaan bumi.

Nah! Buku kita ini berupaya memberikan informasi tentang seluk beluk Imunisasi. Yang kita bahas dari 2 sudut pandang. Pertama dari sudut ilmiah kedokteran dan kedua dari sudut religiusitas kita yang sesuai dengan tingkat pengetahuan rata-rata seorang muslim. Mari kita simak tentang Sistem pertahanan tubuh yang bersifat sunnatullah, vaksinasi yang menginduksi kinerja unsur-unsur pertahanan tubuh untuk membanguntubuh kebal. Pembahasan dilengkapi dengan telaah terhadap penyakit infeksi menular yang berbahaya, tatalaksana penggunaan vaksin dan bagaimana perspektif kita dalam menyikapi perkembangan Ilmu Kedokteran dibidang Imunologi. Pembahasan kita tutup dengan imunisasi adalah sunnatullah dan amanah. Semoga buku ini dapat memberi makna yang dapat dipahami, hikmah yang dapat diraih dan mamfaat yang dapat dinikmati. Insya’ Allah.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Sukiman Rusli, dr. H., SpPD / Primo Parmato, dr. SpA
Editor: Al-Mawardi Prima

Penerbit: Al Mawardi Prima
ISBN: 9786029247657
Terbit: Maret 2015, 178 Halaman

Ikhtisar

Penyakit infeksi menular kayaknya tetap akrab dalam kehidupan umat manusia. Di samping penyakit yang sejak zaman dahulu kala masih ada, sekarang bermunculan penyakit infeksi baru yang lebih ganas (new emerging disease), contohnya; HIV, SARS, Flu burung, Ebola, dll. Semua penyakit ini menghebohkan karena sifatnya yang cepat menular, manifestasi gejala yang cenderung berat dengan angka mortalitas yang masih tinggi.

Menyikapi kondisi ini, sebaiknya kita tidak mengabaikan Ilmu Kedokteran Pencegahan. Yakni ilmu kedokteran dalam rangka meraih kehidupan yang Sehat Wal ‘afiat. Imunisasi yang merupakan salah satu Ilmu Kedokteran Pencegahan yang faktual, sudah terbukti bermamfaat untuk melindungi umat manusia. Berbagai studi menunjukkan bahwa imunisasi dengan cara vaksinasi telah dapat menurunkan insiden beberapa penyakit infeksi menular, seperti; Polio, Difteri, Tetanus dan Campak. Bahkan Cacar (Small Pox) telah punah dari permukaan bumi.

Nah! Buku kita ini berupaya memberikan informasi tentang seluk beluk Imunisasi. Yang kita bahas dari 2 sudut pandang. Pertama dari sudut ilmiah kedokteran dan kedua dari sudut religiusitas kita yang sesuai dengan tingkat pengetahuan rata-rata seorang muslim. Mari kita simak tentang Sistem pertahanan tubuh yang bersifat sunnatullah, vaksinasi yang menginduksi kinerja unsur-unsur pertahanan tubuh untuk membanguntubuh kebal. Pembahasan dilengkapi dengan telaah terhadap penyakit infeksi menular yang berbahaya, tatalaksana penggunaan vaksin dan bagaimana perspektif kita dalam menyikapi perkembangan Ilmu Kedokteran dibidang Imunologi. Pembahasan kita tutup dengan imunisasi adalah sunnatullah dan amanah. Semoga buku ini dapat memberi makna yang dapat dipahami, hikmah yang dapat diraih dan mamfaat yang dapat dinikmati. Insya’ Allah.

Pendahuluan / Prolog

Pendahuluan
Setiap manusia ogah sakit. Karena sakit menyebabkan semuanya berantakan. Suara hati akan gelisah, cemas dan pikiran galau. Kemampuan fisik menurun bahkan bisa terbaring lunglai tanpa daya. Anggota keluarga akan repot dan ekonomi rumah tangga akan terkuras. Makanya keinginan manusia itu maunya sehat terus. Semuanya serba enak, serba nyenyak dan serba puas. Maunya makan enak, tidur nyenyak, rezeki banyak dan kesuksesan hidup nampak. Di sinilah letak dilematisnya kehidupan manusia. Setiap keinginan itu biasanya bersifat muluk-muluk dan sebaliknya setiap kenyataan yang dialami bisa bernasib buruk. Sungguhpun berkeinginan sehat terus, namun survei menyatakan bahwa rata-rata 2-3 kali pertahun setiap insan manusia jatuh sakit, baik sakit ringan ataupun berat. Dan penyakit yang sangat menghebohkan masyarakat adalah Penyakit Infeksi.

PENYAKIT INFEKSI
Di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, kejangkitan penyakit infeksi menduduki rangking yang tinggi. Penyakit infeksi ini disebabkan oleh mikroorganisme atau mikroba atau jasad renik atau kuman yang merupakan makhluk hidup yang berarti makhluk Tuhan juga. Sesuai namanya maka kuman ini tidak bisa dilihat dengan penglihatan biasa, tapi harus dilihat dengan kaca pembesar yang bisa sampai ribuan kali pembesaran. Ada 4 golongan kuman yang sudah dikenal yakni;
1. Bakteri, contohnya salmonella (yang menyebabkan demam tifoid) dan mikobakterium Tbc (yang menyebabkan tuberkulosis).
2. Virus, contohnya dengue (yang menyebabkan demam berdarah) dan HIV (yang menyebabkan AIDS).
3. Jamur, contohnya kandida (yang menyebabkan radang kulit).
4. Protozoa, contohnya plasmodium (yang menyebabkan malaria). Masing-masing golongan kuman ini berbeda morfologi (struktur bentuk tubuh), sifat dan pola hidupnya.
Sebagian dari mikroorganisme tersebut memiliki sifat atau perangai buruk yang dapat merusak tubuh manusia yang kita sebut dengan “penyakit infeksi”.

PERANGAI BURUK MIKROORGANISME PENYEBAB INFEKSI
Perangai buruk pertama adalah bersifat patogen yang berarti memiliki kemampuan untuk menginfeksi tubuh manusia. Perangai buruk kedua adalah mudah menular yang berarti dapat berpindah dari orang ke orang, baik secara kontak langsung atau melalui perantara, seperti melalui makanan, udara, serangga dan hewan. Ada yang menular cepat, menyerang banyak orang dan bisa meluas ke banyak daerah disebut epidemi dan meluas sampai beberapa negara disebut pandemi.

Sebaliknya mikroba apatogen atau tidak patogen pada umumnya hidup damai dengan manusia. Bahkan ada dengan pola hidup bersama, saling tolong menolong, seperti mikroba-mikroba yang hidup di dalam rongga usus kita (konsep hidup simbiosis mutualistis). Sekarang diketahui bahwa ketiadaan mikroba apatogen ini, justru kita bisa jatuh sakit. Misalnya kebiasaan mengkonsumsi antibiotika dosis tinggi dan jangka lama, akan menyebabkan mikrobamikroba ini akan punah yang akhirnya dapat menimbulkan kita jatuh sakit seperti diare berkepanjangan. Perangai buruk ketiga adalah sifat infeksius. Yakni sifat mikroba yang memiliki kemampuan yang kuat untuk menyerang dan merusak organ-organ tubuh. Disebut juga memiliki tingkat virulensi yang tinggi.

Kejadian pertama yang mikroorganisme serang dan kalahkan adalah sistem pertahanan tubuh kita, baik pertahanan tubuh non spesifik (innate immunity) ataupun yang spesifik (spesific immunity). Kalau seluruh unsur sistem pertahanan tubuh sudah kalah atau kewalahan maka mikroba ini menyerang organ-organ tubuh yang sesuai dengan sifat alamiah yang dia miliki. Kita ambil contoh; virus dengue yang menimbulkan demam berdarah akan menyerang trombosit (sel pembekuan), sehingga mudah menimbulkan perdarahan. Virus HIV yang menyebabkan AIDS akan menyerang sel limfosit T yang akan menimbulkan penurunan imunitas tubuh. Protozoa malaria yang menyebabkan penyakit malaria akan menyerang eritrosit yang akan menimbulkan anemia (kurang darah). Bakteri tuberkulosis akan menyerang paru-paru yang akan menimbulkan kerusakan jaringan paru berupa sarang-sarang perkejuan. Seandainya kuman-kuman ini lebih infeksius yang berarti lebih mudah menimbulkan keparahan maka organorgan vital yang diserang akan rusak dan fungsinya bisa gagal total. Seandainya sistem pengobatan yang diikuti tidak akurat atau tidak berkualitas, maka tentu kematian datang mengancam dan malaikat maut datang merenggut.

DAMPAK PENYAKIT INFEKSI TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA DAN SOSIAL
Sebagaimana telah kita sajikan pada pembuka bab ini bahwa dampak psikologis pada keluarga sangat dirasakan, apalagi jika yang dapat musibah sakit adalah kepala keluarga. Kehidupan keluarga menjadi tidak tenang, produktivitas kerja menurun, ekonomi keluarga terancam bangkrut dan proses pendidikan anak terganggu. Demikian juga dampak terhadap kehidupan sosial masyarakat, menyebabkan kehidupan masyarakat menjadi tidak tenteram, dihantui kegelisahan dan ketakutan. Di tingkat negarapun dampak ini juga akan terasakan. Kehidupan sosial masyarakat akan terganggu dan anggaran negara tersedot untuk upaya pengobatan dan pencegahan. Dampak buruk makin jelas, apabila penyakit infeksi tersebut menimbulkan wabah. Apalagi wabah yang disebabkan oleh penyakit infeksi menular yang berbahaya, susah disembuhkan atau mudah menimbulkan kematian.

BAGAIMANA KITA MENYIKAPINYA?
Musibah yang serius dengan dampak buruk yang berlapis, tentu memerlukan upaya yang strategis dan terencana dengan baik. Memerlukan perencanaan yang matang dengan program-program yang terarah. Bagi kita umat muslim seyogianya harus ingat kepada tuntunan bahwa kita harus mampu mempersiapkan diri untuk hari esok (QS. Al-Hasyr: 18) dan bekerja sungguh-sungguh untuk menggapai keberhasilan yang diridhai Allah Swt (QS. Al Insyirah: 7).
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (QS. Al-Insyirah: 7)

Mempersiapkan diri untuk hari esok berarti mempersiapkan perencanaan hidup untuk menghadapi masa depan. Ilmu pengetahuan dan kemampuan jati diri disiapkan, kemauan diikrarkan dan selanjutnya berupaya sungguh- sungguh untuk meraih kehidupan yang berkualitas yakni kehidupan yang sehat wal afiat yang bebas dari ancaman penyakit. Langkah-langkah berikut merupakan solusi dalam menyikapi segala permasalahan yang kita kemukakan di atas.
1. Kita harus menyadari bahwa manusia adalah makhluk Allah yang ahsani taqwim yang diberi amanah sebagai khalifatullah. Manusia berkewajiban dan bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara ciptaan Allah yang ada di permukaan bumi. Dan tentu kita juga harus menjaga dan memelihara diri sendiri. Memberantas penyakit infeksi menular sampai punah dalam kehidupan masyarakat, hanya dapat dilakukan oleh manusia dan tidak mungkin oleh makhluk Allah yang lain. 2. Sebaiknya kita memahami seluk beluk tubuh kita. Memahami organ-organ tubuh kita dengan kesisteman kerjanya serta memahami sistem pertahanan tubuh kita. Sistem pertahanan tubuh adalah ciptaan Allah yang bekerja otomatis untuk menjaga dan melindungi tubuh dari ancaman bibit-bibit penyakit. Sel-sel leukosit yang berperan bagaikan serdadu dan anti bodi yang beredar dalam darah akan melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme yang patogen atau yang mampu merusak tubuh.
3. Memiliki konsep-konsep hidup yang terencana baik. Berikhtiar dan berupaya sungguh-sungguh meningkatkan kualitas hidup, sehingga mampu meraih status kesehatan yang sehat wal afiat. Yakni sehat jasmani, sehat rohaniah, sosial, emosi, spiritual dan ekonomi.
4. Mengetahui dan memahami ala kadarnya penyakit-penyakit menular yang banyak di masyarakat. Memahami konsep pencegahan agar tidak mudah tertular. Prinsip mencegah lebih baik dari mengobati kita pahami dan hayati secara benar dan kita aplikasikan dalam kehidupan.
5. Memahami dan menghayati prinsip, tujuan, manfaat dan tata cara pelaksanaan imunisasi serta dampak negatif yang mungkin terjadi. Sudah seyogianya Ilmu Kedokteran Pencegahan kita pahami dan kita aplikasikan. Program imunisasi, khususnya program imunisasi dengan cara vaksinasi kita ikuti dan melaksanakannya.
6. Alangkah baiknya kita juga memahami tuntunan yang benar menurut religiusitas kita, untuk menyikapi perbedaan pendapat yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Tidak sedikit anggota masyarakat yang meragukan atau tidak menyetujui vaksinasi. Mereka mempermasalahkan bahwa pada vaksin ada unsur-unsur yang berbahaya dan unsur yang berasal dari bahan yang tak halal atau haram.

Daftar Isi

Sampul
Pengantar Penerbit
Pengantar Penulis
Daftar Isi
Bab 1: Mukadimah
     Penyakit Infeksi
     Perangai Buruk Mikroorganisme
     Dampak Penyakit Infeksi Terhadap
     Bagaimana Kita Menyikapinya?
Bab 2: Kesempurnaan Manusiasebagai Makhluk Allah
     Organ Tubuh Berfungsi Canggih
     Kesempurnaan Manusia Karena Kinerja Otak
     Kesempurnaan Manusia Karena Kinerja Sistem Pertahanan Tubuh
Bab 3: Sistem Pertahanan Tubuh Manusia
     Unsur- Unsur Pertahanan Tubuh Manusia
          1. Sistem Imun Non Spesifik
               1.1. Sistem Imun Non Spesifik Fisik
               1.2. Sistem Imun Non Spesifik Kimiawi
          1.3. Sistem Imun Non spesifik Seluler
          2. Sistem Imun Spesifik
               2.1. Sistem Imun Spesifik Humoral
               2.2. Sistem Imun Spesifik Seluler
     Mekanisme Kerja Sistem Pertahanan Tubuh
     Ilustrasi Mekanisme Kerja Sistem Pertahanan Tubuh
Bab 4: Meraih Makna Hidup Yang Sehat Wal Afiat
     Pengertian Sehat Wal Afiat
     Kriteria Sehat Wal Afiat
     Meraih Kehidupan Sehat Wal Afiat
Bab 5: Imunisasi dengan Cara Vaksinasi
     Imunisasi
          Jenis Imunisasi
          Manfaat Imunisasi
     Vaksinasi
          Pembuatan Vaksin
          Kandungan Vaksin
          Menjaga Keamanan Vaksin
          Program Vaksinasi
Bab 6: Hikmah Imunisasi Yang Mengagumkan
     1. Kekebalan dengan vaksinasi, dibentuk tubuh sendiri.
     2. Aplikasi teknologi kedokteran yang mengagumkan.
     3. Mencegah lebih baik dari mengobati.
     4. Hikmah yang dapat diraih dan manfaat yang dapat dinikmati
Bab 7: Vaksinasi Haram danTak Aman, Benarkah?
     Beragam Cara Menyikapi Imunisasi oleh Masyarakat
     Ketentuan “haram” Dalam Al-Qur’an
     Memahami Dan Menghayati Tuntunan
     Bagaimana Status Hukum Vaksin?
BAB 8: Penyakit Infeksi Menular Yang Butuh Vaksinasi
     Gambaran Umum Manifestasi
     Penyakit Infeksi Yang Butuh Vaksinasi
          1. Tuberkulosis
          2. Difteri
          3. Pertusis
          4. Tetanus
          5. Poliomielitis
          6. Campak
          7. Gondongan
          8. Rubela
          9. Hepatitis Virus B
          10. Hepatitis Virus A
          11. Cacar air
          12. Herpes Zoster
          13. Pneumokok
          14. Haemophillus Influenza tipe B (HiB)
          15. Meningokok
          16. Influenza
          17. Demam Tifoid
          18. Kolera
          19. Rabies
          20. Yellow Fever
          21. Human Papiloma Virus
          22. Japanese Encephalitis
          23. HIV
          24. Hepatitis Virus C
          25. SARS (Severe acute Respiratory syndrome)
          26. Demam Dengue
          27. Ebola
          28. MERS CoV (Middle East Respiratory Syndrome CoronaVirus)
          29. Malaria
     Bagaimana Menyikapi Penyakit Infeksi?
Bab 9: Jenis Vaksin dan Tata Laksana Penggunaannya
     Vaksin Tuberkulosis
     Vaksin Difteri, Tetanus Dan Pertusis
     Vaksin Polio
     Vaksin Campak
     Vaksin Hepatitis B
     Vaksin MMR (Measles, Mumps & Rubella)
     Vaksin Hepatitis A
     Vaksin Pneumokok
     Vaksin Meningokok
     Vaksin Influenza
     Vaksin HIB
     Vaksin Tifoid
     Vaksin Varisela
     Vaksin Herpes Zoster
     Vaksin Human Papilloma Virus (HPV)
     Vaksin Rabies
Bab 10: Perspektif Relegiusitas Muslim dalam Menyikapi Imunisasi
Bab 11: Imunisasi Sunnatullah dan Amanah
Daftar Singkatan
Daftar Pustaka
Tentang Penulis

Kutipan

Hikmah Imunisasi Yang Mengagumkan
RENUNGKANLAH!
Bahwa kekebalan tubuh adalah dibuat tubuh sendiri. Vaksin yang diberikan bukan menjadi unsur atau alat kekebalan, namun hanya berperan untuk menginduksi sel-sel Limfosit B untuk memproduksi antibodi yang merupakan unsur atau alat kekebalan.

Bahwa vaksinasi adalah wujud dari aplikasi IPTEK Kedokteran yang ‘ilmal yaqiin.
Bahwa program vaksinasi berazaskan “Mencegah lebih baik dari Mengobati”
Bahwa program vaksinasi telah mendatangkan hikmah yang dapat diraih dan manfaat yang dapat dinikmati

Vaksinasi Haram dan Tak Aman, Benarkah?
Judul yang tidak mudah dibahas. Penulis belum memiliki kompetensi untuk membahasnya. Penulis tidak memenuhi syarat untuk menentukan dan menetapkan, apakah ada vaksin yang haram atau tidak. Penulis hanya akan mengajak para pembaca untuk memahami dan menghayati semua tuntunan yang terkait imunisasi dan vaksinasi, baik tuntunan yang al haq muthlaqah yang bersumber dari al Qur’an dan tuntunan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang tertuang dalam ilmu kedokteran. Dalam Surat Yunus ayat 100 firman Allah menjelaskan bahwa bagi orang-orang yang beriman akan jatuh dalam kehinaan apabila tidak mempergunakan akal pikiran dalam menempuh kehidupan. Oleh karena itu kita harus mempergunakan kecerdasan intelegensia dan kecerdasan qalbu kita untuk memahami dan menghayati tentang imunisasi dan vaksinasi ini.

BERAGAM CARA MENYIKAPI IMUNISASI OLEH MASYARAKAT Didapatkan beragam cara menyikapi imunisasi oleh masyarakat. Ada yang tidak mengetahui, tidak memahami dan yang menolak. Tentu sebagian besar menyetujui dan melaksanakannya, terutama untuk bayinya. Secara rinci diuraikan sebagai berikut; - Sebagian masyarakat kita tidak peduli atau merasa tidak perlu imunisasi. Orang sehat kok diberi obat. Kalau sudah sakit baru berobat. Demikian pendapat mereka yang tanpa dipikir lebih dulu. - Bahkan masih ada yang tidak mengetahui dan tidak memahami sama sekali. - Imunisasi untuk bayi pada umumnya diterima oleh masyarakat, terutama masyarakat kita yang di perkotaan. - Imunisasi untuk dewasa biasanya diabaikan. Pada umumnya masyarakat menganggap tidak penting, kecuali program vaksinasi yang harus dilakukan, seperti vaksinasi meningitis bagi yang akan pergi ibadah Haji. - Sebagian kecil masyarakat kita menolak imunisasi. Alasan mereka adalah bahwa bahan untuk pembuat vaksin mengandung unsur haram, seperti bahan yang berasal dari babi. Alasan lain adalah bahwa vaksin mengandung bahan yang berbahaya seperti merkuri, aluminium, formaldehyd, dll yang dapat menimbulkan dampak negatif terutama terhadap bayi, seperti penyakit autisme, keterbelakangan mental, dll. Tentu masih ada cara menyikapi lain yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa adanya cara menyikapi yang berbeda ini, akibat informasi tentang imunisasi yang tidak adekuat (memadai) diterima masyarakat.