Buku Buku Sekolah Elektronik (BSE) hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Agroforestry

Agroforestry: SMK Kelas XII - Semester 6 - Kurikulum 2013

Agroforestry

Dengan stratifikasi ruang dan waktu, wanatani dapat memaksimalkan penggunaan sumber daya lahan yang terbatas. Stratifikasi ruang adalah pengaturan tempat berbagai jenis tanaman dalam satu unit lahan, sementara stratifikasi waktu adalah perubahan komposisi jenis tanaman penyusun dari waktu ke waktu. Sebagai contoh dalam pemanenan sengon, para petani tidak menebangnya pada waktu yang sama sehingga lahan hanya sedikit mengalami gangguan dan pada saat yang sama tanaman lain masih terus berproduksi. Praktik seperti ini bertujuan untuk memberi kesempatan pada pohon-pohon yang usianya tidak seragam agar terlebih dahulu masak tebang sebelum akhirnya dipanen. Alasan lainnya, para petani melihat bahwa tebang habis di hutan telah menyebabkan menurunnya kesuburan tanah.

Penanaman dengan banyak jenis, selain melindungi tanaman dari mewabahnya penyakit, juga merupakan cara untuk menjaga stabilitas penghasilan ketika harga-harga produk pertanian anjlok di pasaran. Jika salah satu harga produk anjlok, para petani masih memiliki produk lain yang baik harganya. Berbagai jenis tanaman dalam satu lahan juga menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari yang dengan cepat dapat dipanen. Para petani juga memandang pemeliharaan tanaman kayu sebagai cara untuk menabung. Pada akhirnya, penghasilan tunai yang didapatkan dari lahan lebih stabil dan nilainya bagi masyarakat lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang ditanami sedikit jenis ataupun monokultur.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Tim BSE

Penerbit: Buku Sekolah Elektronik (BSE)
Terbit: Desember 2013, 202 Halaman

Ikhtisar

Dengan stratifikasi ruang dan waktu, wanatani dapat memaksimalkan penggunaan sumber daya lahan yang terbatas. Stratifikasi ruang adalah pengaturan tempat berbagai jenis tanaman dalam satu unit lahan, sementara stratifikasi waktu adalah perubahan komposisi jenis tanaman penyusun dari waktu ke waktu. Sebagai contoh dalam pemanenan sengon, para petani tidak menebangnya pada waktu yang sama sehingga lahan hanya sedikit mengalami gangguan dan pada saat yang sama tanaman lain masih terus berproduksi. Praktik seperti ini bertujuan untuk memberi kesempatan pada pohon-pohon yang usianya tidak seragam agar terlebih dahulu masak tebang sebelum akhirnya dipanen. Alasan lainnya, para petani melihat bahwa tebang habis di hutan telah menyebabkan menurunnya kesuburan tanah.

Penanaman dengan banyak jenis, selain melindungi tanaman dari mewabahnya penyakit, juga merupakan cara untuk menjaga stabilitas penghasilan ketika harga-harga produk pertanian anjlok di pasaran. Jika salah satu harga produk anjlok, para petani masih memiliki produk lain yang baik harganya. Berbagai jenis tanaman dalam satu lahan juga menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari yang dengan cepat dapat dipanen. Para petani juga memandang pemeliharaan tanaman kayu sebagai cara untuk menabung. Pada akhirnya, penghasilan tunai yang didapatkan dari lahan lebih stabil dan nilainya bagi masyarakat lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang ditanami sedikit jenis ataupun monokultur.

Pendahuluan / Prolog

Kata pengantar
Hutan, dalam bahasa Jawa, dikenal dengan nama wono atau alas, atau talun dalam bahasa Sunda. Dalam sebuah agroforestri atau wanatani terdapat paduan berbagai fungsi dalam tapak lahan yang sama, seperti, pertanian, peternakan, dan perhutanan. Agroforestri memiliki beberapa sifat yang mencirikan sistem wanatani intensif, beberapa diantaranya adalah keragaman ekologis, stratifikasi, beragam kegunaan, kelestarian ekologis, serta stabilitas ekonomi yang lebih tinggi.

Petani Jawa telah lama mengembangkan pekarangan yang memiliki kerumitan tinggi. Tanaman produktif yang menyusun pekarangan di sebuah desa bisa mencapai ratusan jenis. Dengan stratifikasi ruang dan waktu, wanatani dapat memaksimalkan penggunaan sumber daya lahan yang terbatas. Stratifikasi ruang adalah pengaturan tempat berbagai jenis tanaman dalam satu unit lahan, sementara stratifikasi waktu adalah perubahan komposisi jenis tanaman penyusun dari waktu ke waktu.

Sebagai contoh dalam pemanenan sengon, para petani tidak menebangnya pada waktu yang sama sehingga lahan hanya sedikit mengalami gangguan dan pada saat yang sama tanaman lain masih terus berproduksi. Praktik seperti ini bertujuan untuk memberi kesempatan pada pohon-pohon yang usianya tidak seragam agar terlebih dahulu masak tebang sebelum akhirnya dipanen. Alasan lainnya, para petani melihat bahwa tebang habis di hutan telah menyebabkan menurunnya kesuburan tanah.

Penanaman dengan banyak jenis, selain melindungi tanaman dari mewabahnya penyakit, juga merupakan cara untuk menjaga stabilitas penghasilan ketika harga-harga produk pertanian anjlok di pasaran. Jika salah satu harga produk anjlok, para petani masih memiliki produk lain yang baik harganya. Berbagai jenis tanaman dalam satu lahan juga menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari yang dengan cepat dapat dipanen.

Para petani juga memandang pemeliharaan tanaman kayu sebagai cara untuk menabung. Pada akhirnya, penghasilan tunai yang didapatkan dari lahan lebih stabil dan nilainya bagi masyarakat lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang ditanami sedikit jenis ataupun monokultur.

Daftar Isi

Cover
Halaman francis
Kata pengantar
Daftar isi
Daftar gambar
Daftar tabel
Pedta kedudukan bahan ajar
Glosarium
Bab 1 : Pendahuluan
     A. Deskripsi
     B. Prasyarat
     C. Petunjuk penggunaan buku
     D. Tujuan akhir
     E. Kompetensi inti dan kompetensi dasar
     F. Cek kemampuan awal
Bab 2 : Pembelajaran
     Kegiatan pembelajaran 1 ( KD 2 – 168 JP )
          A. Deskripsi
          B. Kegiatan belajar
               1. Tujuan pembelajaran
               2. Uraian materi
               3. Refleksi
               4. Tugas
               5. Tes Formatif
          C. Penilaian
Daftar pustaka