Buku Citra Aditya hanya dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Asas Hukum bagi Pembangunan Hukum Nasional

Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Asas Hukum bagi Pembangunan Hukum Nasional

Moto kehidupan berbangsa—Bhinneka Tunggal Ika—pun sudah banyak yang lupa artinya dan sekadar menjadi hiasan Garuda, lambang negara kita.

Dengan dikedepankannya hak-hak asasi manusia, demokrasi, kebebasan berbicara (dan menuduh) tanpa batas, dan pluralisme budaya, hukum, dan politik, anak bangsa Indonesia semakin tahu menuntut, tetapi tidak tahu lagi bagaimana berkarya, berjuang, dan berkorban, demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak-cucu dan cicit, yang tiada lain adalah warga negara yang (akan) membentuk bangsa dan negara Republik Indonesia di masa depan.

Egoisme dan hedonisme serta kemunafikan telah mengikis kehalusan budi dan perasaan bangsa yang terkenal sebagai bangsa yang paling ramah di atas bumi ini (het rachtste volk de oarde). Syak wasangka, iri hati, dan kecurigaan telah menutup hati dan pikiran anak bangsa terhadap kejujuran, kelembutan hati, rasa iba, dan solidaritas, sebagaimana banyak cerita sedih yang dibawa oleh para korban tsunami di Aceh, yang setelah berhasil lolos dari deraan gelombang laut, justru mengalami hinaan dan lain-lain perlakuan yang sangat menyakitkan, justru dari mertua, sanak saudara, suami, atau anggota keluarga lainnya.

Oleh sebab itu, dan sebagaimana dijelaskan dalam Bab IV mengenai "Membangun (Sistem) Hukum Bagi Bangsa yang Hidup dalam Lima Gelombang Sekaligus", buku ini kami beri judul Bhinneka Tunggal Ika sebagai Asas Hukum bagi Pembangunan Hukum Nasional.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Sunaryati Hartono, Prof. Dr. C.F.G. S.H.
Editor: Retno Widiyani

Penerbit: Citra Aditya
ISBN: 9794149411
Terbit: Juni 2006, 228 Halaman

Ikhtisar

Moto kehidupan berbangsa—Bhinneka Tunggal Ika—pun sudah banyak yang lupa artinya dan sekadar menjadi hiasan Garuda, lambang negara kita.

Dengan dikedepankannya hak-hak asasi manusia, demokrasi, kebebasan berbicara (dan menuduh) tanpa batas, dan pluralisme budaya, hukum, dan politik, anak bangsa Indonesia semakin tahu menuntut, tetapi tidak tahu lagi bagaimana berkarya, berjuang, dan berkorban, demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak-cucu dan cicit, yang tiada lain adalah warga negara yang (akan) membentuk bangsa dan negara Republik Indonesia di masa depan.

Egoisme dan hedonisme serta kemunafikan telah mengikis kehalusan budi dan perasaan bangsa yang terkenal sebagai bangsa yang paling ramah di atas bumi ini (het rachtste volk de oarde). Syak wasangka, iri hati, dan kecurigaan telah menutup hati dan pikiran anak bangsa terhadap kejujuran, kelembutan hati, rasa iba, dan solidaritas, sebagaimana banyak cerita sedih yang dibawa oleh para korban tsunami di Aceh, yang setelah berhasil lolos dari deraan gelombang laut, justru mengalami hinaan dan lain-lain perlakuan yang sangat menyakitkan, justru dari mertua, sanak saudara, suami, atau anggota keluarga lainnya.

Oleh sebab itu, dan sebagaimana dijelaskan dalam Bab IV mengenai "Membangun (Sistem) Hukum Bagi Bangsa yang Hidup dalam Lima Gelombang Sekaligus", buku ini kami beri judul Bhinneka Tunggal Ika sebagai Asas Hukum bagi Pembangunan Hukum Nasional.

Pendahuluan / Prolog

Pendahuluan
Aku tidak pernah bercita-cita menjadi sarjana hukum, tetapi di sinilah aku berdiri. Menjelang umur 75 tahun, aku tiba-tiba sadar bahwa lima puluh tahun atau setengah abad atau dua pertiga dari hidupku sudah kuhabiskan untuk turut membangun hukum nasional dan sistem pendidikan hukum, yang kini tampaknya semakin semrawut dan amburadul!
Sungguh suatu konstatasi yang sangat menyakitkan dan menyedihkan apabila sebagian besar kehidupan kita dihabiskan untuk mengembangkan sesuatu yang tidak menjadi lebih baik, tetapi bahkan menjadi lebih buruk.
Menyadari hal ini mungkin saja orang mengalami depresi, seakan-akan hidupnya sia-sia belaka. Untunglah ibuku biasa mengajarkanku mencari titik-titik terang atau "silver lining" dalam segala peristiwa atau keadaan yang mengecewakan, dan menanamkan rasa tanggung jawab dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih apabila kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencapai hasil yang terbaik dalam situasi atau lingkungan yang tidak kondusif.

Oleh sebab itu, moto yang selalu kupegang adalah "make the best of it". Dan memang dalam setiap usaha atau tugas yang dibebankan kepadaku aku selalu berupaya untuk mengerjakan dan mencapai yang terbaik, sekalipun lebih sering tidak berhasil mencapai harapan itu.

Karenanya, pedoman "ora et labora" (berdoa dan bekerja) itu ingin kuwariskan kepada anak cucuku serta generasi muda juga, untuk jangan berputus asa atau depresi atau menyalahkan orang lain atas kegagalankegagalan kita, sekalipun seluruh hidup dan kemampuan sudah kita pertaruhkan untuk mencapai cita-cita atau tujuan yang kita kejar.

Penulis

Sunaryati Hartono, Prof. Dr. C.F.G. S.H. - Walaupun Sunaryati lahir di Medan, namun setelah berumur empat bulan orang tua Sunaryati pindah ke Makassar, di mana ayahnya sebagai salah seorang anggota pendiri Partai Nasional Indonesia (bersama-sama dengan Ir. Soekarno dan Dr. Samsi) meneruskan upaya sosialisasi (mengajak dan menyadarkan masyarakat setempat) untuk bersama-sama menganggap dirinya orang Indonesia dan karena itu menjadi anak bangsa Indonesia (Indonesian nationbuilding) dan memupuk kesadaran berbangsa satu untuk kelak mendirikan negara baru Republik Indonesia.

Tentu saja profesi resminya bukan politikus, tetapi pengacara pada Landraad dan Hoog Gerechtshof di Makassar.

Untuk juga menyumbangkan pikiran dan tenaganya menuju Indonesia Merdeka, ibu Sunaryati, yang sehari-hari disebut Dien, juga mulai mengajar di sekolah dasar Taman Siswa, di mana salah satu muridnya adalah Manai Sophiaan, ayah Sophan Sophiaan, yang hingga akhir hayatnya tetap setia pada cita-cita bangsa dan bahkan kepada partai PNI (yang asli).

Namun, agar mendapat pendidikan yang terbaik orang tua Sunaryati, terutama atas kehendak ibunya, disekolahkan di Fröbelschool Katolik di Ujung jalan, Arendsburg juga karena kebetulan dua gurunya, Mère Romana dan Mère Amarenzia juga mengajar di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar (ruropese Lagere School) Katolik itu.

Daftar Isi

Daftar Isi
Pendahuluan
Bab I Naskah Proklamasi Kemerdekaan sebagai Dokumen dan Asas Hukum Tertinggi Bagi Sistem Hukum Nasional Kita
Bab II Selayang Pandang Sejarah Hukum Kita Menuju Hukum Nasional Indonesia
Bab III Beberapa Aliran dan/atau Pandangan Tentang Pengembangan Hukum di Indonesia
Bab IV Membangun (Sistem) Hukum bagi Bangsa yang Hidup dalam Lima Gelombang Peradaban Sekaligus
Bab V Peranan Ekonomi dalam Pembangunan Hukum Nasional
Bab VI Mengapa dan Untuk Apa KKN Perlu Dicegah?
Bab VII Komisi Ombudsman di Tengah Sistem Kelembagaan Negara Republik Indonesia
Bab VIII Sepuluh Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Rangka Membuka Sebuah Kantor Perwakilan Ombudsman dan/atau Ombudsman Daerah
Bab IX Reformasi Birokrasi dan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Bersih, Efektif, Transparan, dan Terpercaya Sebagai Tolok Ukur Good Governance di Indonesia
Bab X Perlunya Sinergi antara "Mesin Pembentukan Hukum", "Mesin Pemerintahan", " Mesin Peradilan", dan "Mesin Pengawasan" dalam Membangun Budaya Pemerintahan yang Bersih dan Bebas KKN
Bab XI Menciptakan Suatu Sistem Pengawasan yang Lebih Sinergis terhadap Penyelenggaraan Tugas Badan-badan Pengadilan
Bab XII Pengembangan Pendidikan, Ilmu - dan Penelitian Hukum di Indonesia
Bab XIII Kesimpulan dan Harapan
Daftar Pustaka
Riwayat Hidup

Kutipan

Bab III halaman 32
Harapan-harapan yang ditimbulkan pada masyarakat dengan tercapainya kemerdekaan (Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M., 1970: 3}.

Bab 10 halaman 123
Heddy Shri Ahimsa-Putra mengatakan bahwa:

"Masalah korupsi adalah masalah perubahan kebudayaan, masalah peralihan dari budaya politik yang ’tradisional’ ke budaya politik yang ’modern’."

"Semangat reformasi yang merebak di Indonesia kini telah memunculkan tatanan-tatanan sosial baru. Desentralisasi, pemberdayaan masyarakat lokal, penguatan lembaga-lembaga tradisional, dukungan terhadap perangkat nilai budaya etnik yang tradisional adalah fenomena yang kini banyak memperoleh dukungan," kata Ahimsa Putra dalam makalah ’Korupsi di Indonesia’.

Bab 10 halaman 137
Menurut Doug Miller dalam karangan The Future Organization9:

"The organization of the future ..., will be an ultimately adaptable organization. Its shape and apperance will change as its environment and demands placed on the organization change."