Pengusaha juga ada masa pensiunnya

Majalah Eksekutif - Edisi 461
2 April 2018

Majalah Eksekutif - Edisi 461

Sudhamek pengusaha yang menjadi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Sejak kecil, Sudhamek akrab dengan ejekan. Nama Sudhamek dianggap kamse alias kampung tur ndeso (kampungan) bagi sebagian besar teman-temannya..

Eksekutif
Bahkan sepulang sekolah pun Sudhamek masih jadi bulan-bulanan guyonan teman-temannya. Ketika dibonceng seorang teman, dia diajak ngebut dan melaju zig zag. Sering di-bully saat sekolah dan menjadi bahan olok-olokan. Dengan nasihat sang ayah, Sudhamek bangkit, meski hidupnya penuh liku. “Jadilah tuanmu sendiri dalam hidup ini.” Dia lalu bangkit, dan menjadi lelaki yang penuh percaya diri.

Tinggal di perkampungan nelayan miskin di Rembang, Jawa Tengah. Keluarganya tak kaya, meskipun tak juga terlalu miskin. Tak semua kebutuhan Sudhamek terpenuhi. Dia, misalkan, jarang menyantap daging ayam. Kalau pun ada, anak bungsu dari 11 bersaudara itu, kebagian potongan kecil. Dia hidup di tepi pantai, tempat bertumpuknya ikan laut segar dan murah.

Dari SD sampai SMA tidak pernah juara. Babak baru hidupnya dimulai ketika dia pindah ke Salatiga, Jawa Tengah. Ke kota itulah Sudhamek merantau melanjutkan kuliah. Sudhamek cilik yang pemalu, ia menjadi mahasiswa gaul yang fasih berbicara di depan publik. Dia juga pecinta buku. Kata Sudhamek, buku adalah guru terbaiknya.

Prestasi akademik baru ia raih waktu di UKSW, bahkan sekaligus menyabet double degree, yaitu di Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum. Pelan tapi pasti, Sudhamek berubah.Ia mulai mengembangkan diri. Menurutnya, prestasi bisa diraih dengan baik tanpa harus kelelahan bila memiliki kepribadian yang berorientasi pada ‘achievement’ dan bukan pada winning or losing.

Majalah Eksekutif dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI