Bisnis dan human investment, adab menjamu relasi

Majalah Eksekutif - Edisi 461
2 April 2018

Majalah Eksekutif - Edisi 461

Di saat orang memiliki kekuasaan, jamuan makan pun berdatangan. Tapi, setelah tidak memiliki jabatan, sepucuk undangan makan pun tidak kunjung datang.

Eksekutif
Dewasa ini, tanpa kita sadari, menjamu relasi baik di restoran maupun di rumah, nyaris menjadi menu keseharian masyarakat. Kegiatan ini sebenarnya tak jauh berbeda denga mentraktir teman makan. Tapi, dalam konteks bisnis, ternyata memiliki arti dan dimensi lain. Tak sekadar makan siang atau malam.

Sebagian kalangan bisnis telah menempatkan, menjamu relasi adalah arena strategis untuk mendapatkan proyek baru. Artinya, kegiatan semacam itu, telah berubah menjadi arena lobbying. Ini dimaksudkan agar pengundang dapat menyampaikan maksud tertentu yang berhubungan dengan bisnis.

Dalam terminologi lain, jamuan saat transaksi bisnis berlangsung, lebih tepat dipahami sebagai usaha “mencairkan” suasana. Dengan kata lain, dapat mengurangi ketegangan dan formalitas. Sedangkan jika Anda menjamu setelah transaksi bisnis, lebih dekat dengan arti syukuran, ungkapan kegembiraan dan meningkatkan keintiman.

Sebagai makluk sosial, menjamu relasi tak selalu diwarnai motivasi bisnis. Walaupun, secara kebetulan Anda bergelut dalam dunia bisnis. Tetapi tak jarang pula lebih bersifat sosial, untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Sedangkan tujuan utamanya adalah meningkatkan mutu hubungan personal antarpihak.

Saling mengenal dan dikenal, mendekatkan diri serta mempengaruhi. Ada esensi lain dalam menjamu relasi, antara lain untuk sosialisasi, lobi, menambah teman, dan wawasan. Dengan kata lain, aspek bisnis tidak secara langsung bisa diraih. Justru yang lebih utama adalah sosialisasi. Harus diakui, para pelaku yang sering melakukan jamuan terhadap relasi, di dominasi para manajer dan eksekutif.

Majalah Eksekutif dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI