Bisnis senjata rakitan

Majalah Eksekutif - Edisi 471
27 Juni 2019

Majalah Eksekutif - Edisi 471

Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang dikenal di Indonesia sejak 1960 sebagai wilayah yang banyak memproduksi senapan angin.

Eksekutif
Keterampilan warga Cipacing dalam membuat senapan angin diwarisi turun temurun dari sesepuh mereka. Warga Cipacing mulai membuat senapan angin untuk berjuang melawan penjajah. Terlebih, kakeknya sendiri pada saat itu bekerja di salah satu perusahaan yang kini bernama PT Pindad.

Dari sana, kakeknya berinovasi membuat senapan angin. Dua hal tersebut, menurutnya tonggak pertama yang membuat Desa Cipacing dikenal sebagai produsen senapan angin. Periode 1960-an, produksi senapan angin mulai berorientasi kepada bisnis dan mulai bermunculan pengrajin yang saat itu jumlahnya mencapai 10 orang warga.

Pada 1964 hingga tahun 1970an, penjualan senapan angin berkembang pesat. Dari kios hingga produk senapan angin Cipacing dikenal luas. Bahkan, tidak hanya dari Cipacing, produk dari Cikeruh dan Galumpit dipasarkan keluar Pulau Jawa oleh kakeknya tersebut.

Sejak 2012 jenis senapan angin yang diproduksi tidak lagi manual atau harus dipompa. Namun saat ini banyak senapan angin yang menggunakan sistem gas tekan. Beberapa model di antaranya Bocap dan Predator. Dulu monoton, sekarang dimodifikasi. Asal, kalibernya tidak boleh melebihi 4,5 ke atas.

Harga rata-rata senapan angin yang dijual dari mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 16 juta. Tiap pengrajin bisa menjual 50 hinga 100 senapan angin per bulan. Paling sedikit terjual lima buah senapan. Penggunaan senapan angin saat ini banyak dipakai untuk lomba Karena reputasi itulah, Desa Cipacing beken. Ada yang selain mahir membuat senapan angin, mereka juga memiliki reputasi tersendiri dalam mengutak- atik senjata api.

Majalah Eksekutif dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI