Anak kota pindah ke desa

Majalah Family Guide - Edisi 41/2017
15 Maret 2018

Majalah Family Guide - Edisi 41/2017

Lama tinggal di ibu kota, tak heran bila anak saya tumbuh menjadi anak kota pula. Lantas saat kami ‘terpaksa’ pindah ke ‘desa’, penyesuaiannya sungguh bukan suatu hal yang mudah.

Family Guide
Dulu setelah berumah tangga, saya dan suami masih tinggal bersama orangtua saya. Rumah yang sangat strategis di jantung ibu kota, tepatnya di Kebayoran Baru. Saat itu, ke semua penjuru terasa mudah dan dekat. Sampai anak pertama berusia 4 tahun, kami masih tinggal di sana. Tak lama setelah itu, suami saya mulai mencari-cari tempat tinggal yang permanen untuk kami semua.

Apalagi saat itu saya tengah mengandung anak ke-dua. Tentu akan lebih indah jika kami memiliki hunian sendiri dan memulai petualangan baru sebagai keluarga sejati. Setelah survey sana-sini, akhirnya pilihan jatuh ke sebuah rumah di daerah Cibinong, Jawa Barat. Di tahun 2000-an, wilayah itu masih kosong dan sangat sepi.

Berbeda sekali dengan lingkungan di rumah orangtua saya yang padat dan ramai. Awalnya tentu tak mudah bagi kami semua. Termasuk bagi saya juga tentunya, karena harus ‘berpisah’ dari ibu dan ayah saya. Suami mungkin tak begitu masalah, karena ia juga sering tugas ke daerah-daerah yang lebih terpencil lagi.

Tapi yang tidak kami duga sebelumnya, efek pindahan ini lebih parah menimpa anak pertama kami. Setelah pindah, sulung kami ini jadi lebih pendiam, ia juga kerap menangis bila malam hari dan nafsu makannya hilang selama beberapa hari di rumah baru. Karena merasa khawatir, awalnya kami sering membawanya ke rumah sang nenek di akhir pekan. Jadi dari hari Jumat kami menginap ke sana, hari Minggu baru pulang ke rumah.

Majalah Family Guide dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Edisi lainnya    Baca Gratis
DARI EDISI INI