Tampilkan di aplikasi

Buku IA Publisher hanya dapat dibaca di aplikasi myedisi reader pada Android smartphone, tablet, iPhone dan iPad.

Menikah Tanpa Pacaran

1 Pembaca
Rp 54.000 20%
Rp 43.200

Patungan hingga 5 orang pembaca
Hemat beli buku bersama 2 atau dengan 4 teman lainnya. Pelajari pembelian patungan disini

3 Pembaca
Rp 129.600 13%
Rp 37.440 /orang
Rp 112.320

5 Pembaca
Rp 216.000 20%
Rp 34.560 /orang
Rp 172.800

Perpustakaan
Buku ini dapat dibeli sebagai koleksi perpustakaan digital. myedisi library

Biya mahasiswa fakultas dakwah dan komunikasi yang hidupnya lurus lurus saja.

Mika pemuda berandalan anak pemilik SPBU yang kerjanya mabuk dan gemar mengencani hampir semua anak gadis tetangga.

Buat Biya, Mika cuma pemuda mesum yang suka menggodanya saat lewat. Dan buat Mika, Biya cuma cewek polos anak pak ustadz yang sok alim.

Sampai kemudian di malam tarawih pertama, Mika digerebek warga di rumah Ayu janda yang baru pindah ke lingkungan mereka.

Berita Mika yang sampai ke Lambe Hosip membuat orang tuanya memikirkan hal lain. Meminta pak ustadz mengijinkan Biya untuk dinikahkan dengan Mika!

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Ratna Dks

Penerbit: IA Publisher
ISBN: 9786239941529
Terbit: Maret 2022 , 190 Halaman

BUKU SERUPA













Ikhtisar

Biya mahasiswa fakultas dakwah dan komunikasi yang hidupnya lurus lurus saja.

Mika pemuda berandalan anak pemilik SPBU yang kerjanya mabuk dan gemar mengencani hampir semua anak gadis tetangga.

Buat Biya, Mika cuma pemuda mesum yang suka menggodanya saat lewat. Dan buat Mika, Biya cuma cewek polos anak pak ustadz yang sok alim.

Sampai kemudian di malam tarawih pertama, Mika digerebek warga di rumah Ayu janda yang baru pindah ke lingkungan mereka.

Berita Mika yang sampai ke Lambe Hosip membuat orang tuanya memikirkan hal lain. Meminta pak ustadz mengijinkan Biya untuk dinikahkan dengan Mika!

Pendahuluan / Prolog

Malam Tarawih Pertama
Ini merupakan malam tarawih pertama setelah setahun pandemi Covid-19 melanda. Masjid lengang, tak banyak jemaah yang hadir untuk melaksanakan tarawih bersama. Covid-19 membuat orang memilih tarawih di rumah bersama keluarga masing-masing. Kecuali Biya yang bapaknya adalah imam masjid lingkungan tempat mereka tinggal.

Biya dan keluarganya tetap pergi ke masjid dengan mematuhi standar protokol kesehatan. Pergi ke bilik disinfektan yang ada di teras masjid sebelum masuk ke dalam. Tak ada ceramah saatRamadan kali ini. Hanya salat Isya yang dilanjut tarawih sepuluh rakaat dan ditutup dengan tiga rakaat salat witir. Begitu cepat, rasanya baru datang tahu-tahu sudah selesai salat.

Pandemi mengubah hal-hal yang Biya sukai dari bulan Ramadan. Berlama-lama di masjid, mendengar siraman rohani, dan menyempatkan membaca Al-Qur’an di sela-sela waktu menunggu. Rasanya damai dan menenangkan setelah seharian disibukkan oleh dunia; mengikuti kuliah online, membantu Umi mengurus laundry, dan sesekali membuka medsos untuk berinteraksi dengan teman.

“Ya, ampun. Parah banget sampai masuk Lambe Hosip.” Terdengar bisik-bisik dari saf di belakang Biya.

“Astagfirullah! Itu anak malam tarawih bukannya ibadah malah mesum.” Kali ini suara dari deret sampingnya yang membuat Biya menoleh.

Umi mencolek. “Jauhi gibah.” Biya tersenyum. Memang susah mengendalikan telinga. Kalau kata Abi, manusia yang punya indra sempurna kerap kali lalai dalam menjaga lisan, mata, dan telinganya. Sebagian besar tiga indra mereka digunakan untuk memandang, menyimpulkan, menceritakan sangkaan, dan yang lain menyimak.

Kebiasaan warga +62. Biya membatin. Kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Untungnya ia kuliah di jurusan Dakwah dan Komunikasi yang selalu harus menggali adab dalam Islam.

“Wahai orang-orang yang beriman. Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha penyayang.” QS AlHujurat ayat 12.

Sudah lima belas menit tarawih selesai, tapi Biya serta Umi masih menunggu Abi. Biasanya saat menunggu begini masjid sudah sunyi. Namun, entah kenapa malam ini masih ramai orang berkerumun di depan. Biya menatap heran dari balik jendela masjid yang tembus keluar.

“Yuk, pulang.” Suara Abi terdengar.

Umi dan Biya menyalami Abi bergantian. “Maaf lahir batin, Bi.” Umi dan Biya berucap sebelum memulai Ramadan.

“Sama-sama. Abi juga minta maaf kalau ada khilaf.” Abi merangkul bahu Biya sambil berjalan keluar.

Begitu tiba di teras masjid, kerumunan jemaah melihat ke arah Abi. Seperti ada yang mau disampaikan.

“Pak Ustaz, sebentar.” Pak Samsul, ketua RT, menghampiri Abi.

Biya dan Umi saling pandang. Bertanya-tanya apa yang mau disampaikan Pak RT hingga jemaah belum ingin beranjak.

“Pak Joko nyuruh saya mengajak Bapak ke rumahnya sekarang.” Pak RT menyampaikan.

Biya yang menyimak heran. Pak Joko itu pemilik SPBU yang jarang bergaul dengan warga. Ia dan keluarganya tak pernah ke masjid. Yang terkenal malah anaknya, Mika, yang suka mabukmabukan dan mobilnya pernah menabrak tiang listrik dekat rumah. Sore tadi, anak itu mengganggu Biya saat ke Indomaret.

“Biya, apa kabar?” Mika duduk di point coffee Indomaret bersama dua temannya.

Biya tahu anak itu bukan anak bener. Umurnya sudah dua puluh tiga tahun dan kerjanya mengencani anak tetangga. Biya suka lihat mobil anak itu melintas di depan laundry. Di dalam mobilnya yang berkaca bening pasti ada anak tetangga yang menumpangi.

“Biya sombong, ih.” Mika berkomentar saat Biya tak menanggapi.

“Udah, Mbak?” Biya nanya ke kasir Indomaret. Ia malas berlama-lama dan diganggu Mika.

“Ini.” Mbak Kasir menyerahkan setruk pembelian token listrik.

“Ada keperluan apa, ya?” Suara abi mengembalikan Biya.

“Si Mika digerebek warga barusan. Itu di rumah Ayu, janda yang baru ngontrak di lingkungan kita,” Pak RT menjelaskan.

“Astagfirullah!” Abi, Umi, dan Biya serentak beristigfar.

“Untung baru buka baju dan belum ngapa-ngapain. Kalau udah, bakal langsung dikawinin kali malem ini ama warga.” Pak RT geleng-geleng.

Abi menoleh ke Umi dan Biya. “Kalian duluan pulang. Abi masih harus ke rumah Pak Joko.” “Iya, Bi.” Umi mencium tangan Abi diikuti Biya.

“Assalamualaikum, Bi.” Umi dan Biya berpamitan.

Dalam perjalanan pulang, keduanya hening. Umi dan Biya tak berniat menjadikan kabar yang baru mereka terima sebagai bahan gibah. Cukup menjadi pelajaran di bulan Ramadan bahwa kekayaan kadang membuat orang tak peduli akan hidupnya. “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan.

Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” QS Al-Ankabut ayat 64 “Makasih, Mbak.” Biya bergegas ke pintu.

“Biya, aku padamu!” Masih sempat ia dengar teriakan Mika yang disambut tawa teman- temannya.

Kalau bukan karena Abi, rasanya pengin Biya lempar sendal jepit tuh, anak. Udah kepala dua tapi kelakuan? Biya cuma bisa istigfar tadi sore.

Penulis

Ratna Dks - menulis puisi, cerpen, dan novel sejak 2007. Novel cetaknya terbit di berbagai penerbit mayor. Di antaranya: Ada Kamu & Segitiga Cinta Dua Dunia (BIP), 9 Days Umrattan (Tiga Serangkai), Benci Tapi Cinta (Eazy Books), Akulah Malaikat Hatimu (Euthenia), Aku Selalu Ada Untukmu (Zettu), Penunggu Gunung Salak (Makam).

Sejak 2017 merambah penulisan novel digital dan mulai fokus menjelajah banyak platform di 2020. Novel online-nya bisa ditemukan di platform KBM, Cabaca, dan Storial.

Ciri khas novelnya selalu memiliki ide kebaruan, authentic, dan belum tentu Anda temukan di novel lain.

Daftar Isi

Cover
Daftar Isi
Malam Tarawih Pertama
Meminta Biya
Jawaban Biya
Hari Pertama Ramadan
Isi Kepala Mika
Malam Tarawih Kedua
Walimatul ‘Urs
Malam Pertama
Ramadan Hari Kedua
Habis Manis Sepah Dibuang
Pertengkaran
Mabuk
Hidayah
Haru
Tawaran Pekerjaan
Lembur
Rayuan Bu Bos
Winda
Resign
Buka Puasa Bersama
Ikhtiar
Merintis dari Bawah
Putus Asa
Cemburu
Belajar dari Biya
Hari Raya
Biodata Penulis

Kutipan

Hidayah
“Biya mau berangkat tarawih. Kalau Aa ngantuk nggak usah  berangkat nggak apa-apa. Daripada tidur di masjid lagi, nggak  enak dilihat jemaah lain.” Sebenarnya Biya lebih nggak enak sama  Allah. Datang ke rumah-Nya, suaminya malah numpang tidur dan  bukannya denger ceramah atau ibadah.

“Aa janji nggak tidur lagi.” Mika sadar Biya masih marah. Dari  ekspresinya yang datar, Mika udah bisa nebak.

Biya itu beda sama cewek lain. Mika nggak bisa pakai jurus  sebelum nikah buat bujuk Biya. Dulu zaman belum nikah kalau  pacar ngambek, Mika tinggal nyium bibirnya biar marahnya reda.

Cewek biasa langsung meleleh. Malah kadang minta nambah dan  ngajak check in.

Sampai Mika kadang mikir, cewek ngajak berantem tuh  sebenernya biar disayang-sayang sama diajak mesra mesraan atau  gimana? “Besok Aa juga mau sahur.” Mika masih mencoba mencairkan  suasana saat mereka berjalan beriringan ke masjid untuk tarawih.

“Alhamdulillah.” Biya hanya menjawab singkat.

Mika jadi ngerasa kayak balik pas sebelum nikah. Dicuekin  Biya.

Padahal tuh, Mika paling seneng kalau dicerewetin Biya.

Dibujuk supaya sahur, diomelin kalau tidur di masjid, digodain  pas Mika nagih malam pertama.

Biya itu paling tahu kapan waktu-waktu nyerewetin suaminya.

Dia bukan tipikal cewek yang nuntut perhatian. Jadi kalau pas  Biya lagi marah gini, Mikanya yang segan.

Segan dan takut kehilangan. Di mana lagi dia bisa dapet istri  yang nggak nuntut macem-macem, nggak ngumbar aib suami ke  orang tua, dan bisa jaga kehormatannya. Cuma Biya, perempuan  satu-satunya yang bikin Mika ngerasa bersalah karena udah  nyakitin perasaannya.

Kalau ke cewek lain, Mika mungkin masa bodoh. Mau mereka  bilang nggak bisa ngelupain karena udah tidur bareng, dia tetep  nggak bakal peduli.

72 73 “Bi, nanti pulang tarawih ngebakso dulu mau nggak?”  Mereka udah tiba di tangga masjid dan akan berpisah saf.

“Nggak usah, Aa. Nanti duitnya kurang buat main biliar.

Mending makan di rumah aja kalau masih laper. Biya ke saf  perempuan dulu, Aa.” Biya menyalami tangan suaminya dan  berlalu.

Meninggalkan Mika yang masih terpaku, bingung gimana lagi  harus berusaha biar Biya bersikap biasa lagi ke dia.