Tampilkan di aplikasi

Buku IA Publisher hanya dapat dibaca di aplikasi myedisi reader pada Android smartphone, tablet, iPhone dan iPad.

Di Balik Layar Sinema

1 Pembaca
Rp 45.000 15%
Rp 38.250

Patungan hingga 5 orang pembaca
Hemat beli buku bersama 2 atau dengan 4 teman lainnya. Pelajari pembelian patungan disini

3 Pembaca
Rp 114.750 13%
Rp 33.150 /orang
Rp 99.450

5 Pembaca
Rp 191.250 20%
Rp 30.600 /orang
Rp 153.000

Perpustakaan
Buku ini dapat dibeli sebagai koleksi perpustakaan digital. myedisi library

"Pemikiran orang-orang arif di berbagai tempat sepanjang masa, pemikiran para local-genius, yang sesungguhnya merupakan ekspresi kebudayaan yang menanggapi tantangan ruang dan zamannya, serta upaya-kulturalnya memenuhi basic human needs itu tetap memberikan manfaat dan memiliki relevansi dengan tantangan–challenges–kehidupan masa kini.‖ (Anwar Ibrahim dalam Sulesana)

Kearifan lokal yang banyak menuai pendiskusian hangat dewasa ini perihal bagaimana mendefinisikan dan memosisikannya di tengah perkembangan zaman yang begitu kompleks setidaknya dapat dipahami dengan merujuk kutipan di atas. Kearifan lokal dapat dipahami sebagai sebuah wujud kebudayaan berupa ide dan tindakan dalam merespons perkembangan zaman di mana posisi ruang dan waktu tetap menjadi hal yang utama dalam kontekstualisasinya.

Ikhtisar Lengkap   
Penulis: Nasrullah
Editor: Heru Patria

Penerbit: IA Publisher
ISBN: 9786236274590
Terbit: September 2021 , 102 Halaman

BUKU SERUPA













Ikhtisar

"Pemikiran orang-orang arif di berbagai tempat sepanjang masa, pemikiran para local-genius, yang sesungguhnya merupakan ekspresi kebudayaan yang menanggapi tantangan ruang dan zamannya, serta upaya-kulturalnya memenuhi basic human needs itu tetap memberikan manfaat dan memiliki relevansi dengan tantangan–challenges–kehidupan masa kini.‖ (Anwar Ibrahim dalam Sulesana)

Kearifan lokal yang banyak menuai pendiskusian hangat dewasa ini perihal bagaimana mendefinisikan dan memosisikannya di tengah perkembangan zaman yang begitu kompleks setidaknya dapat dipahami dengan merujuk kutipan di atas. Kearifan lokal dapat dipahami sebagai sebuah wujud kebudayaan berupa ide dan tindakan dalam merespons perkembangan zaman di mana posisi ruang dan waktu tetap menjadi hal yang utama dalam kontekstualisasinya.

Pendahuluan / Prolog

Kata Pengantar
Di Balik Layar Sinema adalah catatan menonton film dari penulis. Sebagian karena diminta menjadi pembahas sebuah film, sebagian lagi karena hendak memberikan pandangan di media terkait film yang telah tayang.

Sebagian lainnya adalah catatan reflektif berisi uraian dan sedikit perspektif dalam membaca apa di balik layar cerita film-film yang ditonton itu, lalu dipublikasi dan didokumentasi di laman pribadi penulis. Semacam catatan kepenontonanlah barangkali yang didokumentasi melalui website lalu hendak dibukukan sekarang ini.

Tulisan-tulisan di buku ini, karena memiliki latar belakang yang beragam, maka memiliki bentuk yang beragam pula. Ada yang berupa artikel esai untuk publikasi di surat kabar, ada yang bahasanya luwes ala tulisan yang dipublikasi di website, ada pula yang berbentuk paper/ makalah sebagai pengantar diskusi. Keragaman ini mohon dilihat sebagai pengaya sahaja ketimbang memandangnya sebagai jurang pembeda yang dinilai merusak pemandangan. Sebenarnya, pun demikian, tak menjadi masalah dan dapat dianggap sebagai masukan bermanfaat dari pembaca.

Film, selain memiliki aspek sinematika dan musikal, juga punya aspek sastrawi. Aspek sastra yang dimaksud adalah aspek fiksi dan drama. Untuk film dokumenter, tentu aspek wacana dan narasi menjadi unsur pembangun. Semua unsur intrinsik fiksi bisa dibilang dimiliki juga oleh film (cerita non-dokumenter), seperti tema, alur, tokoh/karakter dan karakterisasi, setting, konflik, sudut pandang, dan dialog.

Berikut aspek dramatikanya, film yang merupakan rekaman seni peran ini juga terdiri dari aspek tersebut. Ada adegan, akting dari para aktor, dialog, setting waktu dan tempat, serta tema dan alur cerita. Oleh karena itu, membaca aspek sastra (selain aspek sinematika dan musikal) adalah salah satu aspek dalam mengulas sebuah film. Aspek sastrawi inilah yang dominan mewarnai ulasan di buku ini.

Ucapan syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas kekuatan dan kesempatan berkarya yang diberikan di tengah pandemi ini.

Ucapan terima kasih diucapkan kepada rekan-rekan semua yang telah membantu penulisan dan pembukuan karya-karya ulasan di buku ini. Terutama penyelenggara acara bedah film: BEM FIB UNMUL dan Komunitas SLB. Terkhusus pula khaturan terima kasih kepada mediamedia yang telah menerbitkan tulisan-tulisan di buku ini: Fajar Minggu, Berau Post, koranfajar.com, dan arusbudaya.net.

Semoga artikel-artikel di buku ini dapat bermanfaat bagi khalayak pembaca.

Terima kasih.
Wassalam.
Salam budaya, salam literasi.

Kuala Lumpur, 20 Juli 2021

Nasrullah

Penulis

Nasrullah - Saat ini bekerja sebagai pengajar di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman Samarinda. Menyelesaikan studi sarjana di jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, Makassar dan Program Magister di jurusan Kajian Budaya dan Media di Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. Selain mengajar dan meneliti, penulis juga aktif dalam kegiatan literasi di perkumpulan Skolastra (Sekolah Sastra) dengan berusaha menyiapkan bacaan kepada anak muda di Samarinda dan Makassar secara luring dan di seluruh Indonesia secara daring. Selain itu, aktif mengajak anak muda berdiskusi tentang sastra dan budaya, serta memfasilitasi kegiatan penulisan dan produksi karya bagi generasi milenial.

Karya-karya penulis dapat diakses melalui daring di laman www.ullamappatang.com. Selain itu, dapat pula dikontak melalui alamat surel ullamappatang@gmail.com.

Daftar Isi

Kata Pengantar
Daftar Isi
Kearifan Lokal dan Lokalitas di Layar Film: Melihat Posisi Keduanya dalam Ranah Kebangsaan
Pulau Buru Tanah Air Beta: Ketika Monumen Memori Berkisah
Film Silariang, Darah, dan Air Mata
Film Tenripada (2020): Bisakah Film Makassar Bebas dari Darah dan Air Mata?
Membaca Film “Der Junge Karl Marx”
Film Tarung Sarung (2021):  Ketika Siri’ di Layar Kaca Tak Lagi Soal Darah dan Air Mata.
Film Bumi Manusia: Kolonialisme dan Feodalisme Kekinian
Perempuan (Barat), Darah, dan Warna-Warni: Membaca Film Color Bleed
Film Hanyut (Gunung Emas Almayer): Membaca Poskolonialitas dan Identitas Gender Kalimantan Abad XIX
Film The Lady (2012): Belajar dari Aung San Suu Kyi dan Sejarah Politik Myanmar
Film Dendang Bantilang (2018): Potret Sosial Budaya Masyarakat Maritim Panrita Lopi Bulukumba
Film The Great Wall dan Istri Pejabat Meninggal Covid-19
Kondisi Multikultural pada Film The Karate Kids
Cinta di Film AADC (Ada Apa dengan Cinta)
Film Gold dan Emas Kalimantan
Tentang Penulis