Inilah Koran dapat dibaca gratis dalam masa terbatas di aplikasi smartphone & tablet Android.

Editorial

Apa yang dilakukan para pemimpin muda ini jauh lebih berarti bagi bangsa ketimbang politisi-politisi “bermulut api” yang hanya menghadirkan narasi saling membusukkan. Kita ingin Republik Indonesia ini tetap ada, tetap aman, tetap nyaman, tak peduli siapapun presidennya, sepanjang terpilih secara demokratis dan bermartabat.

Kita sepakat dengan orang-orang muda ini. Sebab apa? Pertikaian politik yang terjadi saat ini, semata-mata hanya untuk kepentingan elit. Bukan kepentingan rakyat. Makin tajam pertikaian itu terjadi, maka pihak yang menderita adalah rakyat bawah.

Tengoklah, bagaimana politisi-politisi itu tak pernah mengaku keliru atas perbuatan, atas pernyataan. Seperti kebenaran adalah milik mereka sendiri. Adu mulut, tapi nyaris tak pernah adu konsep bagaimana mereka bisa mensejahterakan rakyat ini.

Karena itu, apapun perkara yang terjadi pada Pemilu, utamanya Pilpres, harus dituntaskan melalui saluran-saluran yang ada. Saluran yang legal dan sah. Bukan di luar jalur tersebut.

Tetapi, kita pun berpendapat, siapapun yang menangani persoalan pemilu, harus menyelesaikannya secara komprehensif, transparan, akuntabel. Situasi politik yang panas ini, tidaklah bisa kita bantahkan, salah satunya terjadi atas kurangnya kepercayaan pada penyelesaian-penyelesaian konflik pemilu.

Tidak hanya pada penyelenggaraan teknis pemilu, penyelesaian persoalan-persoalan sampingan yang mengiringi pemilu, harus dilakukan secara adil dan transparan. Dalam sistem informasi yang makin terbuka, sulit kita membantahkan bahwa ada kesan yang muncul pada pandangan publik soal kurangnya keadilan itu.

Kita patut berterima kasih kepada Bima Arya Sugiarto dan kawan-kawan. Mereka berasal dari beragam partai politik. Tapi, mereka menunjukkan keberadaban dalam perbedaan itu. Merekalah pengabdi negeri ini, bukan politisi-politisi bermulut busuk, yang hanya mencari muka pada kekuasaan tertinggi, yang hanya peduli pada diri dan golongannya, tanpa peduli pada nasib masyarakatnya.

Mei 2019