Bellaetrix Manuputty, modal ikut-ikutan, jadikan atlet profesional

Majalah Intisari - Edisi 644
3 Mei 2016

Majalah Intisari - Edisi 644

Kiprahnya dalam dunia bulutangkis, berawal dari sekadar meniru aktivitas kakaknya pada hari libur. Tak disangka, justru Bella kini yang lebih berprestasi. Semua itu atas dorongan dan dipersembahkan untuk Sang Ayah. / Foto : Bhisma Adinaya

Intisari
Beragam medali yang ditempatkan dalam bingkai-bingkai kayu tampak terpajang di dinding ruang tamu. Di antara puluhan medali itu, tampak satu yang mencolok, warnanya kuning keemasan, bertuliskan “SEA Games 27th Myanmar 2013” . Itulah medali emas bulutangkis kategori tunggal puteri dalam ajang pesta negaranegara Asia Tenggara Siang itu, di rumahnya di Bekasi Utara, Bellaetrix Manuputty atau Bella menyambut kami dengan ramah. Hari itu ia memang tidak berlatih seperti biasanya. Cedera pada otot kaki kiri yang didapat enam bulan sebelumnya membuat Bella harus menjalani pemulihan. Kepada Intisari, Bella kemudian berkisah tentang awal langkahnya di dunia tepok bulu angsa ini. Ketika itu usianya delapan tahun dan sebagaimana layaknya anak kecil, ia juga sering meniru kakaknya yang hobi bermain bulutangkis. Sekadar main-main iseng saja.

Tak disangka, ternyata hanya dengan modal ikut-ikutan itu, ia jatuh hati pada olahraga ini. Bahkan pelatihnya menganggap, Bella memiliki semangat yang lebih dibandingkan dengan sang kakak. Hingga pada akhirnya ia bergabung dengan klub Dian Jaya di Bekasi sekalipun, orangtuanya masih menganggap aktivitas itu sekadar menyalurkan hobi semata. Namun bukan Bella namanya jika tidak bertekad kuat. Bella yang selalu ditemani orangtuanya, pernah nekat “kabur” dari rumah untuk pergi berlatih. Pasalnya ketika itu orangtuanya belum pulang dari beribadat di gereja. Nah, dari sinilah orangtuanya mulai merasa gadis kecilnya itu bertekad kuat. Mereka akhirnya menyiapkan pelatih privat.

Tahun 2000, setelah lulus Sekolah Dasar, Bella masuk ke Sekolah Atlet Ragunan untuk meningkatkan kemampuannya. Enam tahun berselang, ia pun dilirik oleh produsen raket asal Jepang. Mereka juga menawari kontrak kerja sama selama satu tahun. Saat-saat dilema pun tiba. Karena di waktu yang bersamaan, ada tawaran untuk bergabung di Pemusatan Pelatihan Nasional (Pelatnas). Dengan segala pertimbangan bersama sang ayah, Bella memilih tawaran dari Jepang.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI