Jakarta smart city, memangkas birokrasi lewat aplikasi

Majalah Intisari - Edisi 645
2 Juni 2016

Majalah Intisari - Edisi 645

Warga Jakarta boleh berbangga. Sebab, kini mereka bisa ikut berpartisipasi mengatur kotanya cukup melalui ponsel pintar di genggaman. Segala permasalahan di lingkungan dapat dilaporkan untuk mendapat respons dengan segera.

Intisari
Di masa lalu, rasanya sulit membayangkan warga Jakarta bisa “bersuara” di tengah riuhnya berbagai permasalahan di kota besar ini. Kepadatan lalu lintas, angkutan umum yang buruk, sampah yang menggunung, polusi udara, banjir, kriminalitas; seolaholah sudah menjadi bagian dari kehidup an seharihari. Namun ironinya, masyarakat cuma pasrah menghadapinya, tanpa pernah diajak berpartisipasi dalam menyelesaikannya.

Harapan itu mulai semburat dengan kehadiran Jakarta Smart City (JSC). Program yang diluncurkan pada 15 Desember 2014 oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ini memang diniatkan untuk memaksimalkan pelayanan publik dengan pemanfaatan teknologi. Konon, sistem inilah yang membuat Jakarta layak disebut kota cerdas, seperti Seoul, New York, atau Amsterdam.

Konsep kota cerdas sendiri sebenarnya bukan hal baru. Proyek ini adalah kelanjutan dari sistem e-government ( e-gov)yang mulai gencar dilaksanakan semasa gubernur Sutiyoso. Kala itu, e-gov dimaksudkan untuk mengautomasikan tugas pemerintah dan pelayanan publik. “Tujuannya meningkatkan transparansi dan partisipasi masyarakat,” tutur Setiaji, Kepala Unit Pengelola Teknis JSC.

JSC bertumpu pada dua aplikasi bergerak Qlue dan CROP yang masing- masing memiliki fungsi berbeda. Qlue merupakan aplikasi pelaporan yang digunakan oleh warga masyarakat. Sementara CROP adalah aplikasi yang dimiliki aparat Pemprov untuk merespons laporan warga tadi. Kedua aplikasi ini saling berhubungan dengan mengoordinasikan laporan warga dan penanganannya oleh aparat hingga tuntas.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI