Bensin, mahal tak selalu bagus!

Majalah Intisari - Edisi 652
11 Januari 2017

Majalah Intisari - Edisi 652

Seperti memilih pasangan hidup, memilih bahan bakar untuk kendaraan janganlah asal-asalan. Pasalnya, tiap mobil memerlukan oktan sesuai dengan kriteria mesinnya. Semakin tinggi oktan, jangan dikira semakin hebat performanya. Justru sebaliknya, umur mesin bisa semakin pendek, loh. Kok bisa? / Foto : goldeagle.com

Intisari
Pada September 2016, PT Pertamina (Persero) mencatat bahwa penjualan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax Series kian meningkat. Peningkatannya tak tanggung-tanggung, 45% dari total konsumsi BBM keseluruhan.

Atau 91 ribu kiloliter (kl) per hari.

Nasib serupa juga terjadi pada Pertalite. Dari konsumsi harian sekitar 6.500 kl / hari pada Semester I 2006, meroket menjadi 25.000 kl/hari. Apa pasalnya? Alasannya ternyata sederhana.

Permintaan BBM jenis Premium di pasaran makin turun. Beda tipis harga antara Pertamax Series dan Pertalite dengan Premium, membuat para konsumen kian selektif saat menentukan BBM berkualitas bagus. Walhasil, konsumsi harian Premium turun sekitar 20 ribu kl/hari.

Dalam memilih bahan bakar, kini banyak orang cenderung memilih BBM yang ramah lingkungan dan berkadar oktan tinggi. Pertamax dan Pertalite, contohnya.

Menggunakan BBM dengan kualitas yang lebih tinggi memang tak ada salahnya. Nah, masalahnya, apakah teknologi mobil kita mendukung? Banyaknya varian bensin tak jarang membuat galau pengguna kendaraan saat ingin membelinya.

Padahal, kriteria bensin dengan oktan yang tepat sebenarnya sudah ada di buku manual.

Oktan merupakan angka yang menunjukkan besaran tekanan maksimum yang diberikan di dalam mesin, sebelum bensin terbakar secara spontan oleh percikan api dari busi. “Semakin tinggi oktan, kemampuan dia (bahan bakar) terbakar dengan sendirinya semakin kecil,” terang Dosen Teknok Mesin ITB, Tri Yuswidjajanto pada Kompas.com.

Oktan sendiri dibagi dalam dua kategori, yaitu Research Octane Number (RON) dan Motor Octane Number (MON). RON diperoleh dari simulasi kinerja bahan bakar saat mesin dioperasikan dalam kondisi standar. Sedangkan MON dioperasikan dalam kondisi berat.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI