Jodoh tak harus menikah

Majalah Intisari - Edisi 653
16 Februari 2017

Majalah Intisari - Edisi 653

Ada sebuah ungkapan, “jodoh itu dicari, bukan dinanti”. Artinya, kita harus berusaha mencari, bukan duduk diam menunggu. Pasalnya, jodoh tidak datang dengan sendirinya. Kalau hanya diam dan berpasrah, kemungkinan tidak akan kunjung bertemu jodoh sampai kapan pun.Istilahnya, berat jodoh.

Intisari
Dalam teori stimulus, value, and role membahas mengenai manusia dan kriteria jodohnya. Bernard Murstein, pemilik teori dan psikolog dari Connecticut College, AS, mengatakan, orang pertama kali memilih pasangan berdasarkan karakteristik yang jelas, seperti daya tarik fisik.

Seseorang cenderung tertarik dengan orang yang level penampilan fisiknya yang sama dengan dirinya, bukan yang berada di level yang lebih tinggi darinya. Fisik yang sama menandai kemungkinan lebih besar untuk diterima dan lanjut ke tahap berikutnya. Mulai memfilter secara halus berdasarkan nilainilai dan pandangan yang sama dengan dirinya.

“Mereka yang merasa dirinya menarik, maka akan cari pasangan yang menarik juga. Mereka yang menilai agama itu penting, disarankan mencari orang yang menilai agama penting juga,” ucap Pingkan C.B Rumondor, M.Psi, psikolog klinis di Jakarta, menjelaskan maksud teori Murstein itu.

“Mungkin itu kenapa Titi Kamal dan Christian Sugiono saling tertarik. Karena mereka dalam level kemenarikan fisik yang sama,” tambah Pingkan.

Daya tarik fisik memang tak bisa dilepaskan dari hal apa pun, termasuk urusan jodoh. Sebab, penampilan fisik merupakan hal utama, yang pertama kali dilihat maupun dinilai. Kebanyakan orang akan menilai sesuatu yang terlihat, bukan yang tersembunyi.

Tak bisa dipungkiri, ada sebagian orang yang mengutamakan penampilan fisik dalam memilih pasangan. Pria misalnya, cenderung tertarik kepada wanita dengan fisik menarik. Sementara wanita, lebih melihat kepada sumber daya yang dimiliki oleh pria. Misalnya, pekerjaan, materi, atau kepribadian.

Meski demikian, penampilan fisik yang menarik tak melulu jadi syarat utama memilih pasangan.

“Jadi, jodoh itu sebetulnya, orang yang cocok menjadi pasangan suami-istri dengan memiliki kecocokan sifat, karakter, kepribadian, kebutuhan, tujuan saling melengkapi, serta latar belakang yang imbang,” jelas dosen psikologi Univesitas Bina Nusantara itu.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI