Lo kheng hong, berinvestasi dengan kesabaran

Majalah Intisari - Edisi 655
19 April 2017

Majalah Intisari - Edisi 655

Setelah tujuh tahun berinvestasi saham, pada 1996, Kheng Hong memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan dan menjadi investor penuh.

Intisari
Lo Kheng Hong tahu benar arti peribahasa itu. Malah bukan sekadar paham, ia sudah mempraktikkan dalam kehidupannya sehari- hari sebagai investor saham. Investasi baginya adalah menanam modal pada saham yang tepat, menunggu dengan penuh kesabaran, lalu memetik hasilnya di kemudian hari.

Urusannya memang saham, tapi pria kelahiran Jakarta, 58 tahun silam ini bukan seorang trader. Jadi jangan dibayangkan ia selalu mencermati layar monitor laptop yang menampilkan pergerakan harga saham detik per detik. Sehari-hari, aktivitasnya cuma mencermati berita- berita di media massa tentang situasi perekonomian, saham-saham yang potensial serta kinerja perusahaan di bursa efek.

Pada saat-saat yang tepat, Kheng Hong akan membeli saham-saham yang diincarnya, sedikit demi sedikit. “Belinya tidak ada orang tahu, nanti melepasnya juga tidak terasa,” kata pengagum investor saham nomor satu dunia, Warren Buffet ini.

Pilihan menjadi investor inilah yang membuat Kheng Hong selalu membeli saham dengan harga murah dan menjual dengan harga sangat tinggi. Contoh yang sering diungkapkannya saat membeli saham PT. Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI) pada 2005 seharga Rp250. Setelah dikumpulkan sampai 6 juta lembar saham, enam tahun kemudian (2011) ia menjualnya seharga Rp31.500.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI