Proyek seperempat abad, trotoar Jakarta

Majalah Intisari - Edisi 657
6 Juni 2017

Majalah Intisari - Edisi 657

Ingin melihat kelayakan dan kemajuan sebuah kota? Mudah, kok. Lihat saja kondisi trotoarnya. Dari penampakan trotoar di Jakarta pula, Anda bisa menilai sendiri bagaimana sesungguhnya kondisi infrastruktur Ibukota. / Foto : Nur ichsan

Intisari
Jangan kaget kalau ada pihak menyatakan, trotoar di Jakarta konon adalah yang terburuk di Asia. Lihat saja, ada banyak persoalan di sana. Lebarnya tidak memadai, rusak karena bekas galian, begitu banyak tiang yang menghalangi, dijadikan parkir kendaraan, dll. Bahkan, ada beberapa ruas jalan di Ibukota yang tidak ada trotoarnya sama sekali.

Rupanya kondisi itu belum seberapa. Data dari Korps Lalu Lintas (Korlantas), 18 orang pejalan kaki di Indonesia meninggal setiap hari di jalan raya. “Salah satu penyebab, buruknya fasilitas pejalan kaki yakni trotoar,” ungkap Alfred Sitorus, ketua aksi Koalisi Pejalan Kaki (KoPK). Sungguh ironis. Trotoar yang seharusnya menjadi tempat yang aman, malah jadi tempat yang berisiko bagi pejalan kaki.

Kaki dan kendaraan kedudukannya bagai bumi dan langit. Karena kenyataannya, di jalanan para pejalan kaki tidak memiliki perlindungan apapun. Keselamatan mereka begitu rentan. Tak ada helm dan tidak ada sabuk pengaman, sebagai peranti keselamatan seperti di kendaraan.

Majalah Intisari dapat dibaca di aplikasi smartphone & tablet Android.

Baca selengkapnya di edisi ini

Selengkapnya    Beli
DARI EDISI INI